INDUSTRY.co.idJakarta - Dorongan Indonesia mempercepat hilirisasi mineral, pengembangan energi panas bumi, dan pembangunan infrastruktur membuat pemahaman kondisi bawah permukaan (subsurface) semakin krusial. Teknologi digital disebut mampu membantu perusahaan menekan risiko pengeboran sekaligus menghemat biaya proyek hingga jutaan dolar.

Director, Business Development Asia Pasifik Seequent, Scott Moore mengatakan, pemanfaatan teknologi subsurface memungkinkan perusahaan mengintegrasikan data geologi, geofisika, hingga kondisi tanah untuk menghasilkan keputusan proyek yang lebih akurat.

“Seiring langkah Indonesia menuju visi Indonesia Emas 2045, kami membantu organisasi di sektor pertambangan, infrastruktur energi, dan pengelolaan lingkungan untuk lebih memahami kondisi bawah permukaan, mengurangi risiko, dan mengambil keputusan proyek dengan lebih percaya diri,” ujar Scott dalam keterangan resminya di Jakarta (20/8/2026).

Menurutnya, Indonesia menjadi salah satu pasar penting bagi Seequent di kawasan Asia Pasifik. Perusahaan teknologi tersebut telah mendukung berbagai proyek di Indonesia selama lebih dari 20 tahun.

Sektor pertambangan menjadi salah satu bidang yang berpotensi memperoleh manfaat besar dari teknologi subsurface. Efisiensi dapat dimulai dari meningkatnya keyakinan terhadap tubuh bijih (orebody) dan model sumber daya.

Perangkat lunak Seequent memungkinkan tim pertambangan mengintegrasikan data geologi, meningkatkan estimasi sumber daya dan pengendalian kadar (grade control), sekaligus mengurangi kegiatan pengeboran yang tidak diperlukan.

Salah satu penerapannya dilakukan pada proyek nikel PT Stargate di Sulawesi. Melalui alur kerja terintegrasi Seequent, proses estimasi sumber daya yang sebelumnya membutuhkan waktu sekitar enam minggu dapat dipangkas menjadi hanya satu hingga dua minggu.

Kebutuhan pengeboran juga berkurang hingga 80%, dengan penghematan biaya mencapai USD 8 juta. Produktivitas karyawan dalam proyek tersebut juga meningkat hingga 50%.

“Pemahaman bawah permukaan yang lebih baik dapat membantu tim operasional tambang memanfaatkan modal, waktu, dan kegiatan pengeboran secara lebih efisien,” kata Scott.

Peluang pemanfaatan teknologi subsurface juga terbuka lebar di sektor panas bumi. Indonesia diketahui memiliki potensi panas bumi sekitar 23,7 GW.

Namun, pengembangan panas bumi menghadapi tantangan berupa ketidakpastian kondisi bawah permukaan, terutama sebelum pengeboran dilakukan.

Scott mengatakan teknologi Seequent dapat membantu menggabungkan data geologi, geofisika, dan reservoir untuk meningkatkan pemahaman terhadap kondisi bawah tanah sehingga risiko eksplorasi dan pengeboran dapat ditekan.

Teknologi tersebut diterapkan pada proyek Lumut Balai Unit 3 milik Pertamina Geothermal Energy (PGE).

Pemodelan geologi dan reservoir 3D secara real-time disebut mampu memangkas waktu studi kelayakan hingga separuhnya menjadi enam bulan.

Penggunaan alur kerja Leapfrog juga menurunkan risiko pengeboran dari 48% menjadi 15%, sekaligus menghasilkan penghematan biaya pengeboran sekitar USD 1,5 juta.

Proyek tersebut direncanakan menghasilkan listrik energi terbarukan sebesar 55 MWe untuk memenuhi kebutuhan sekitar 60.000 rumah tangga. Proyek ini juga berpotensi mengurangi emisi karbon dioksida sekitar 300.000 ton per tahun.

Tak hanya pertambangan dan panas bumi, teknologi pemodelan bawah permukaan juga digunakan dalam pembangunan infrastruktur.

Pada proyek jalan Trans-Papua PT Hutama Karya, perangkat lunak Bentley dan Seequent mendukung optimalisasi desain yang menghasilkan penghematan hingga USD 1 juta dan mempercepat penyelesaian proyek sekitar dua bulan.

Alur kerja geoteknik digital juga mampu mengurangi siklus iterasi desain hingga 27%.

Selain itu, strategi perkuatan tanah dan manajemen risiko digunakan untuk mengantisipasi potensi kegagalan konstruksi serta risiko longsor. Langkah tersebut disebut berpotensi menghindari biaya hingga USD 2,5 juta.

Selain menawarkan teknologi, Seequent juga mendorong pengembangan sumber daya manusia melalui pelatihan, akses akademik, serta kerja sama dengan perguruan tinggi dan asosiasi profesi.

Sejumlah institusi yang terlibat antara lain Institut Teknologi Bandung (ITB) dan MGEI.

Aplikasi pembelajaran ilmu kebumian 3D gratis, Visible Geology, tercatat telah diakses sekitar 3.400 pengguna di Indonesia sejak diluncurkan pada Juni 2024.

Seequent juga menggelar pelatihan Leapfrog dan GeoStudio serta Seequent Connect Indonesia 2026 di Jakarta pada awal Agustus 2026.

“Pengembangan sumber daya manusia dan kapabilitas teknis merupakan bagian penting dari transformasi digital Indonesia,” pungkas Scott.