INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Pasar perkantoran Jakarta mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada kuartal II 2026. Namun, perbaikan tersebut belum mencerminkan ekspansi bisnis secara agresif. Berdasarkan laporan terbaru Colliers, aktivitas pasar masih lebih banyak ditopang relokasi perusahaan dan penyesuaian kebutuhan ruang kerja.
Kondisi tersebut membuat pemulihan pasar perkantoran berlangsung selektif. Penyewa tidak sekadar mencari ruang dengan harga murah, tetapi mulai mengutamakan kualitas gedung, kesiapan ruang, akses transportasi publik hingga standar keberlanjutan atau environmental, social and governance (ESG).
Kepala Riset Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan, perubahan preferensi penyewa menjadi salah satu faktor penting yang akan menentukan kecepatan pemulihan pasar perkantoran Jakarta.
“Semakin selektifnya penyewa dalam mengambil keputusan, pemulihan pasar perkantoran Jakarta juga didorong oleh kebutuhan kualitas, bukan semata-mata oleh harga. Gedung-gedung yang berpotensi pulih lebih cepat adalah gedung yang menawarkan struktur sewa yang fleksibel, ruang siap pakai, kemudahan akses transportasi publik, serta kredensial keberlanjutan,” ujar Ferry.
Di sisi lain, pasar perkantoran Jakarta masih dibayangi besarnya ruang kosong. Colliers mencatat sekitar 3 juta meter persegi ruang perkantoran belum terserap. Hampir 60% dari ruang kosong tersebut berada di kawasan central business district (CBD) Jakarta.
Besarnya ruang yang belum terserap membuat posisi tawar penyewa masih relatif kuat. Pemilik gedung pun harus mengandalkan berbagai strategi untuk menarik maupun mempertahankan penyewa, mulai dari struktur sewa yang lebih fleksibel, periode bebas sewa, dukungan biaya fit-out hingga insentif komersial lainnya.
Meski demikian, tingkat hunian mulai bergerak ke arah yang lebih positif. Rerata okupansi perkantoran di kawasan CBD Jakarta tercatat sekitar 76% pada kuartal II 2026. Segmen premium bahkan membukukan tingkat okupansi sekitar 83%, menunjukkan permintaan yang relatif kuat terhadap gedung dengan kualitas lebih tinggi.
Sementara itu, tingkat hunian gedung perkantoran di luar CBD secara perlahan mendekati 70%. Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa penyewa semakin bersedia mengalokasikan anggaran untuk mendapatkan ruang kerja dengan kualitas dan fasilitas yang dinilai mampu menunjang operasional perusahaan.
Perubahan pola permintaan tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pemilik gedung. Strategi kompetisi tidak lagi hanya bertumpu pada penurunan harga sewa. Kemampuan menyediakan ruang yang siap digunakan, aksesibilitas yang baik, efisiensi biaya okupansi dan kepatuhan terhadap standar ESG mulai menjadi faktor yang semakin menentukan.
Dari sisi pasokan, pasar mendapatkan ruang untuk melakukan penyerapan. Tidak ada gedung perkantoran baru yang selesai dibangun di kawasan CBD sepanjang semester pertama 2026. Dengan demikian, total pasokan perkantoran CBD Jakarta masih berada di kisaran 7,4 juta meter persegi pada kuartal II 2026.
Terbatasnya tambahan pasokan baru dalam beberapa tahun ke depan berpotensi membantu proses penyerapan ruang kosong. Jika permintaan terus meningkat sementara pasokan baru relatif terbatas, tingkat okupansi berpeluang bergerak naik secara bertahap.
Colliers memperkirakan permintaan ruang perkantoran Jakarta masih akan meningkat hingga akhir 2026. Permintaan terutama diharapkan berasal dari sektor logistik, energi dan financial technology (fintech), baik dari perusahaan lokal maupun asing.
Namun, prospek tersebut belum cukup untuk mengubah pasar menjadi pasar yang sepenuhnya berpihak kepada pemilik gedung. Dengan tingkat kekosongan yang masih tinggi, penyewa diperkirakan tetap memiliki ruang negosiasi yang kuat.
Karena itu, pemulihan pasar perkantoran Jakarta ke depan akan sangat bergantung pada kemampuan pemilik gedung membaca perubahan kebutuhan penyewa. Fleksibilitas sewa, aksesibilitas, kualitas bangunan, keberlanjutan dan efisiensi total biaya okupansi menjadi kunci untuk mempercepat penyerapan ruang kosong di tengah pertumbuhan ekonomi yang masih moderat.