INDUSTRY.co.id - JAKARTA - Meta terus memperkuat ekosistem teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk membantu kreator, pelaku usaha, hingga pengiklan menjangkau konsumen di Asia Pasifik. 

Dalam pemaparan pers regional, Vice President, Asia Pacific, Meta, Benjamin Joe, mengungkapkan bahwa perkembangan AI kini telah bergeser dari sekadar teknologi eksperimental menjadi bagian penting dari infrastruktur bisnis.

Menurut Joe, perubahan perilaku konsumen di Asia Pasifik menjadi salah satu faktor utama yang mendorong Meta mengembangkan berbagai fitur untuk mendukung penemuan produk, interaksi dengan pelanggan, hingga transaksi melalui platform digital.

“Kami tidak sekadar membangun koleksi produk. Namun kami membangun ekosistem yang bisa membantu pengguna menemukan produk dan layanan dalam keseharian mereka,” kata Joe.

Ia menjelaskan, konsumen kini dapat menemukan produk melalui livestream, memperoleh rekomendasi dari kreator yang mereka ikuti, kemudian bertanya dan mendapatkan jawaban melalui fitur percakapan. Setiap tahapan tersebut saling terhubung sehingga mendorong konsumen dari tahap penemuan menuju pembelian.

Karakteristik konsumen Asia Pasifik dinilai sangat mendukung perkembangan social commerce. Berdasarkan studi Holiday Shopping Study yang dilakukan Meta bersama Ipsos, sebanyak 50 persen konsumen di kawasan ini menemukan dan membeli produk melalui media sosial.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan konsumen global yang berada di angka 37 persen. Selain itu, sebanyak 80 persen konsumen Asia Pasifik menonton livestream setiap pekan.

Momentum belanja di kawasan ini juga memiliki karakteristik tersendiri. Sebanyak 69 persen konsumen Asia Pasifik berbelanja pada momen 12.12, lebih tinggi dibandingkan Black Friday yang mencapai 49 persen.

Sementara itu, 47 persen konsumen berbelanja saat Tahun Baru. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan Amerika Utara yang berada di angka 19 persen.

Konsumen yang menemukan produk melalui platform Meta juga tercatat berbelanja 1,3 kali lebih banyak dibandingkan kawasan lain. Tingkat kepercayaan terhadap ulasan produk dari kreator di Asia Pasifik pun enam poin lebih tinggi dibandingkan kawasan lainnya.

Data tersebut berasal dari studi yang ditugaskan Meta kepada Ipsos terhadap 14.473 pembeli di sejumlah negara pada musim liburan November 2025, termasuk Indonesia, Australia, Jepang, Korea Selatan, Thailand, Vietnam, Amerika Serikat, Inggris, dan negara lainnya.

Perubahan besar juga terlihat dari cara perusahaan memandang AI. Menurut Joe, pelaku bisnis kini tidak lagi sekadar mempertanyakan kemungkinan penggunaan AI, melainkan berfokus pada seberapa cepat teknologi tersebut dapat diintegrasikan ke dalam operasional.

“Mulai dari seorang wirausahawan, pelaku usaha kecil, agensi, hingga tim marketing di dalam perusahaan bisa memiliki akses ke tools berbasis AI yang sama untuk menemukan pelanggan, mendorong penjualan, dan mengembangkan bisnis,” ujarnya.

Meta sendiri memanfaatkan teknologi Large Language Model (LLM) untuk meningkatkan kemampuan sistem dalam memprediksi dan menentukan peringkat iklan. Teknologi tersebut ditujukan untuk meningkatkan relevansi iklan sekaligus mendorong konversi di Facebook dan Instagram.

Secara keseluruhan, pendapatan perusahaan tumbuh 28 persen secara tahunan. Pada saat yang sama, sebanyak 3,6 miliar orang menggunakan setidaknya satu aplikasi Meta setiap hari.

Penggunaan AI juga semakin meluas di kalangan pelaku usaha. Saat ini, sekitar 9 juta usaha kecil telah menggunakan salah satu tools kreatif berbasis AI generatif Meta untuk membuat iklan. Adopsi fitur pembuatan gambar berbasis AI bahkan meningkat lebih dari dua kali lipat pada kuartal ini.

Untuk mendorong proses penemuan produk hingga pembelian, Meta juga memperluas berbagai fitur yang menghubungkan kreator dengan bisnis.

Salah satunya adalah iklan berbentuk livestream. Penayangan dapat dimulai dalam waktu sekitar dua menit dan tidak dikenakan biaya penjualan dari platform. Fitur ini dinilai relevan dengan kebiasaan konsumen Asia yang menjadikan livestream sebagai bagian dari aktivitas belanja.

Meta juga memperluas program affiliate di Asia Pasifik. Kreator dapat bekerja sama dengan mitra ritel dan memperoleh komisi dari produk yang mereka rekomendasikan melalui konten.

Program tersebut telah diperluas bersama Shopee untuk Facebook dan Instagram, Lazada di Asia Tenggara, serta Flipkart dan Myntra di India.

Dalam setahun terakhir, lebih dari 10 juta kreator di Asia Pasifik telah menghubungkan akun Facebook mereka dengan program affiliate. Dalam satu bulan terakhir, kreator memperoleh lebih dari US$24 juta komisi melalui affiliate posts, termasuk Reels di Facebook.

Fitur product tag juga memungkinkan kreator menandai produk secara langsung dalam unggahan, termasuk Reels. Dengan demikian, konsumen tidak lagi harus diarahkan untuk mencari tautan melalui bio.

Selain itu, Meta menyediakan iklan kemitraan yang memungkinkan brand mengalokasikan anggaran untuk memperluas jangkauan konten autentik dari kreator, tentunya dengan persetujuan kreator terkait.

Meta juga mengembangkan Meta Business Agent, agen AI yang dapat disiapkan dalam hitungan menit untuk membantu bisnis menangani pertanyaan, melakukan tindak lanjut, hingga menerima pesanan pelanggan selama 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu.

Agen AI tersebut dapat disesuaikan dengan gaya komunikasi masing-masing brand dan terintegrasi dengan sejumlah sistem, termasuk Shopify, Zendesk, dan Shopee.

Secara global, Meta Business Agent telah digunakan oleh sekitar 1 juta bisnis melalui WhatsApp dan Messenger. Layanan ini juga direncanakan segera diperluas ke Instagram.