INDUSTRY.co.id - JAKARTA — TROOPS, Inc. (TROO) menyiapkan investasi hingga US$12 juta untuk mengembangkan unit bisnis baru yang berfokus pada infrastruktur kecerdasan buatan (AI) di Asia Tenggara. Langkah tersebut membidik pasar komputasi dan pusat data yang tengah berkembang seiring meningkatnya kebutuhan terhadap AI dan layanan cloud.

Grup jasa keuangan dan properti asal Hong Kong tersebut telah menjajaki kemitraan dengan Bfarms365 LLC, perusahaan berbasis di Texas, Amerika Serikat. Melalui unit bisnis baru itu, TROOPS akan mengeksplorasi layanan GPU-as-a-Service, inferensi AI, edge computing, komputasi terdesentralisasi, orkestrasi cloud hingga berbagai layanan pengembang AI.

TROOPS saat ini mengevaluasi sejumlah lokasi, kemitraan, dan aset di Hong Kong, Malaysia, serta Indonesia. Indonesia menjadi salah satu pasar yang menjadi perhatian karena derasnya investasi ke sektor pusat data dan infrastruktur digital.

Perusahaan memperkirakan alokasi investasi awal sebesar US$6 juta dapat dilakukan pada akhir 2026. Adapun total komitmen pendanaan untuk pengembangan unit bisnis baru tersebut mencapai US$12 juta.

“Asia Tenggara, khususnya Indonesia, telah menjadi tempat di mana kapasitas komputasi Asia benar-benar dibangun, dan modal yang masuk tidak lagi hanya berasal dari Amerika,” ujar Damian Thurnheer, Presiden dan CEO TROOPS, Inc.

Menurut dia, masuk ke bisnis infrastruktur AI menjadi perluasan dari portofolio TROOPS yang sebelumnya telah mengembangkan bisnis berbasis teknologi, termasuk fintech.

Dari sisi pasar, Indonesia menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan industri pusat data yang cukup signifikan. Berdasarkan laporan Research and Markets yang diterbitkan Januari 2026, nilai pasar pusat data Indonesia diperkirakan mencapai US$2,81 miliar pada 2025 dan berpotensi meningkat menjadi US$6,08 miliar pada 2031. Pertumbuhan tersebut mencerminkan compound annual growth rate (CAGR) sebesar 13,73%.

Laporan yang sama mencatat terdapat 88 fasilitas pusat data yang telah beroperasi dan 25 fasilitas lainnya yang akan dibangun di 17 kota. Jakarta masih menjadi lokasi utama dengan 38 pusat data beroperasi dan 13 fasilitas lainnya dalam tahap pengembangan.

Besarnya kebutuhan infrastruktur digital juga mulai diikuti aliran modal dari investor institusional. Indonesia Investment Authority (INA), misalnya, telah mengalokasikan sekitar 30% dari total modal yang disalurkan sebesar Rp74,5 triliun atau sekitar US$4,2 miliar ke sektor infrastruktur digital.

Salah satu investasinya terkait kepemilikan saham di DayOne Data Centres yang tengah mengembangkan fasilitas berkapasitas 72 megawatt dan telah mengamankan komitmen okupansi penuh.

Perkembangan tersebut menunjukkan persaingan dalam pembangunan kapasitas pusat data di Asia Tenggara semakin melibatkan berbagai kelompok usaha, mulai dari operator telekomunikasi hingga investor institusional dan pengelola dana kekayaan negara.

Singtel, misalnya, memperluas platform Nxera di Asia Tenggara. Sementara itu, SK Telecom menghimpun US$2,2 miliar dari KKR serta konsorsium IMM-Stonebridge pada Agustus 2026 untuk meluncurkan usaha pusat data AI baru, SK Horizon. Di India, Reliance Jio juga tengah mengembangkan kampus pusat datanya sendiri.

Bagi TROOPS, ekspansi ke infrastruktur AI juga berkaitan dengan kebutuhan teknologi dalam bisnis yang sudah dijalankan perusahaan. Portofolio TROOPS saat ini mencakup bisnis pembiayaan properti dan usaha kecil di Hong Kong melalui dua pemberi pinjaman berlisensi, kepemilikan properti komersial untuk pendapatan sewa, konsultan asuransi, serta pasar teknologi finansial daring yang menyalurkan produk kredit dan asuransi melalui API.

Pendapatan grup tersebut tercatat naik 70% menjadi US$17,1 juta pada tahun yang berakhir 31 Desember 2025. TROOPS juga memiliki 19,9% saham di HK Golden, Inc., operator salah satu forum daring terbesar di Hong Kong.

CTO TROOPS, Inc. Tommy Wing Ling Lui mengatakan, pengembangan infrastruktur AI dapat memperkuat sinergi dengan bisnis yang telah dimiliki perusahaan.

“Usaha baru ini menghadirkan kesatuan yang kuat dengan kepentingan bisnis kami yang sudah ada,” ujar Lui.

Dia menjelaskan, TROOPS telah menggunakan machine learning dalam proses underwriting dan servicing dengan memanfaatkan infrastruktur yang disewa. Dengan membangun jejak infrastruktur sendiri di pasar yang tengah berkembang, perusahaan melihat peluang untuk memperluas kapabilitas teknologi sekaligus mengoptimalkan bisnis yang sudah berjalan.

“Kami sudah menjalankan pembelajaran mesin (machine learning) dalam proses underwriting dan servicing, di atas infrastruktur yang kami sewa. Dana kekayaan negara Indonesia kini turut mendukung kapasitas pusat data, dan memiliki jejak infrastruktur sendiri di pasar yang bergerak secepat ini mengubah apa yang dapat kami bangun, sekaligus menempatkan kami di sisi yang tepat dari sebuah pergeseran di mana operator, bank, dan dana kekayaan negara semuanya bergerak secara bersamaan,” katanya.

TROOPS menyatakan akan melaporkan perkembangan ekspansi tersebut seiring tercapainya ketentuan definitif. Perusahaan juga akan menyampaikan pelaporan kepada Securities and Exchange Commission (SEC) apabila diwajibkan.