INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mulai menggeber strategi untuk mengejar target lifting minyak nasional sebesar 610.000 barel per hari (BOPD) pada 2026. Target tersebut lebih tinggi dibandingkan realisasi target 2025 sebesar 605.000 BOPD.

Langkah mengejar target produksi minyak tersebut menjadi fokus utama dalam CEO Forum Tengah Tahun 2026 yang mempertemukan jajaran pimpinan SKK Migas dengan para pimpinan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Forum ini menjadi ajang evaluasi kinerja produksi semester pertama sekaligus mengidentifikasi ruang tambahan produksi yang masih bisa digenjot hingga akhir tahun.

SKK Migas menilai pencapaian target 2026 membutuhkan respons yang lebih agresif dari seluruh pelaku usaha hulu migas. Apalagi, pada 2025 kinerja produksi minyak berhasil mencapai bahkan melampaui target yang telah ditetapkan.

Untuk mengejar target tersebut, sejumlah kegiatan dalam Work Program & Budget (WP&B) masih akan dikebut. Program tersebut mencakup 482 sumur pengembangan, 358 kegiatan workover, serta 18.801 kegiatan well service.

Di luar program yang sudah masuk dalam WP&B, SKK Migas bersama KKKS juga memburu tambahan produksi melalui skema Filling the Gap (FTG). Upaya tersebut antara lain dilakukan dengan mengoptimalkan jadwal planned shutdown serta membuka tambahan potensi pengeboran yang dapat memberikan kontribusi produksi dalam waktu lebih cepat.

SKK Migas juga telah memetakan sejumlah program pengungkit produksi yang dinilai memiliki potensi untuk menambah pasokan minyak nasional sepanjang 2026. Sedikitnya ada empat peluang yang tengah didorong, yakni perubahan skema Natural Gas Liquids (NGL) dari hilir menuju hulu, pengurasan unpumpable stock atau dead stock, optimalisasi sumur masyarakat, serta peningkatan produksi dari KKKS kecil.

Keempat program tersebut menjadi penting di tengah tantangan produksi migas nasional yang semakin kompleks. SKK Migas menilai tidak cukup hanya mengandalkan kegiatan eksplorasi dan pengeboran baru, tetapi juga perlu memaksimalkan aset serta cadangan produksi yang selama ini belum optimal.

Karena itu, kecepatan pengambilan keputusan menjadi salah satu faktor krusial. Setiap program yang berpotensi memberikan tambahan produksi dalam waktu cepat perlu mendapatkan prioritas.

“Pencapaian target tersebut membutuhkan keberanian untuk mengambil keputusan secara cepat, terutama terhadap kegiatan yang memberikan dampak terbesar terhadap peningkatan produksi,” demikian pesan yang ditekankan dalam forum tersebut.

CEO Forum Tengah Tahun 2026 sekaligus menjadi ruang untuk menyamakan fokus antara regulator kegiatan hulu migas dan KKKS. Sinergi tersebut diperlukan agar berbagai hambatan operasional maupun pengambilan keputusan yang berpotensi menahan tambahan produksi dapat segera diatasi.

SKK Migas menegaskan, target lifting 610.000 BOPD bukan sekadar target industri, tetapi juga berkaitan langsung dengan ketahanan energi nasional serta dukungan terhadap pencapaian target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

Dengan waktu yang tersisa hingga akhir tahun, ruang untuk mengandalkan program jangka panjang semakin terbatas. Karena itu, optimalisasi sumur eksisting, percepatan workover, well service, pengeboran tambahan, hingga pengurasan stok minyak yang masih dapat diproduksikan menjadi tumpuan untuk menutup kesenjangan produksi.

Melalui CEO Forum tersebut, SKK Migas dan KKKS menegaskan komitmen untuk menjaga momentum peningkatan produksi migas nasional. Kolaborasi, sense of urgency, serta orientasi pada hasil menjadi kunci untuk memastikan setiap peluang tambahan produksi dapat segera dikonversi menjadi lifting.