INDUSTRY.co.id - Jakarta, Di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat dan kebutuhan logistik nasional, PT Kereta Api Indonesia (Persero) menunjukkan bahwa peningkatan layanan tidak selalu harus diikuti dengan kenaikan konsumsi energi.
Melalui berbagai inovasi operasional dan penerapan teknologi ramah lingkungan, KAI berhasil meningkatkan efisiensi energi sekaligus memperluas kapasitas pelayanannya.
Sepanjang 2025, KAI mencatat penurunan konsumsi energi sebesar 15,39 persen, dari 11,95 juta gigajoule (GJ) pada 2024 menjadi 10,11 juta GJ.
Capaian ini menjadi indikator bahwa pengelolaan energi yang lebih terukur mampu mendukung operasional yang semakin produktif.
Pada periode yang sama, KAI melayani 503,55 juta pelanggan serta mengangkut 69,57 juta ton barang.
Dengan volume layanan yang terus meningkat, kebutuhan energi justru dapat ditekan melalui berbagai langkah efisiensi yang diterapkan secara konsisten.
Efisiensi tersebut tercermin dari penggunaan energi per pelanggan yang turun dari 0,0263 GJ menjadi 0,0205 GJ, atau meningkat efisiensinya sebesar 22,05 persen.
Sementara pada layanan angkutan barang, konsumsi energi per ton juga membaik 15,82 persen, dari 0,1726 GJ menjadi 0,1453 GJ.
Dengan kata lain, setiap perjalanan penumpang maupun pengiriman barang kini membutuhkan energi yang lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya.
Untuk memastikan seluruh jenis energi dapat diukur secara setara, KAI menggunakan satuan gigajoule (GJ) sebagai acuan.
Seluruh konsumsi listrik, bahan bakar, hingga energi surya dikonversi ke dalam satu ukuran yang sama sehingga evaluasi dan pengelolaan energi dapat dilakukan secara lebih komprehensif.
Komitmen terhadap transisi energi juga diwujudkan melalui pemanfaatan energi terbarukan.
Hingga akhir 2025, KAI telah mengoperasikan 113 unit Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di 92 lokasi dengan total kapasitas 4.430,65 kWp.
Pemanfaatan PLTS tersebut berkontribusi mengurangi emisi karbon hingga 3.306,65 ton CO₂ sepanjang 2023–2025.
Langkah inovatif lainnya adalah pelaksanaan uji coba penggunaan biodiesel B50 yang dimulai pada 1 Juli 2026 selama tiga bulan.
Pengujian ini bertujuan mengevaluasi performa mesin, konsumsi bahan bakar, kebutuhan perawatan, sistem penyaringan, serta keandalan sarana, dengan keselamatan perjalanan kereta api sebagai prioritas utama.
Di sisi layanan pelanggan, digitalisasi juga memberikan dampak nyata terhadap efisiensi penggunaan sumber daya.
Selama Semester I 2026, sebanyak 5.555.034 pergerakan pelanggan memanfaatkan Face Recognition Boarding Gate.
Inovasi tersebut diperkirakan menghemat penggunaan 13.888 rol kertas, setara dengan penyelamatan sekitar 75 pohon, sekaligus menghasilkan efisiensi biaya sekitar Rp203,80 juta.
Komitmen terhadap keberlanjutan juga diwujudkan melalui penyediaan Water Station di 58 stasiun yang tersebar pada 70 area layanan.
Fasilitas ini mendorong pelanggan membawa tumbler sendiri sehingga penggunaan botol plastik sekali pakai dapat terus dikurangi.
Memasuki Semester I 2026, tren pertumbuhan layanan KAI terus berlanjut.
Jumlah pelanggan mencapai 258,99 juta, meningkat 7,55 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 240,81 juta pelanggan.
Pada saat bersamaan, layanan angkutan barang juga mencapai sekitar 32,50 juta ton.
Berbagai capaian tersebut menunjukkan bahwa efisiensi energi bukan sekadar penghematan konsumsi, melainkan strategi untuk menghadirkan layanan yang semakin produktif, andal, dan berkelanjutan.
Melalui pengelolaan energi yang lebih terukur, pemanfaatan energi terbarukan, digitalisasi, serta inovasi operasional, KAI terus memperkuat perannya sebagai penyedia transportasi massal yang mendukung mobilitas nasional sekaligus berkontribusi terhadap pembangunan yang lebih ramah lingkungan.