INDUSTRY.co.id - Jakarta, Pembangunan Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Regional Legok Nangka resmi dimulai.
Groundbreaking proyek strategis nasional tersebut dipimpin Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot, sebagai langkah nyata mempercepat pengelolaan sampah sekaligus mendorong pemanfaatannya menjadi energi bersih yang berkelanjutan.
PSEL Regional Legok Nangka dirancang memiliki kapasitas mengolah hingga 2.131 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik sebesar 40,79 MW.
Proyek senilai USD 400 juta ini menjadi PSEL pertama di Indonesia yang dibangun melalui skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU).
Selama masa konstruksi, proyek tersebut diproyeksikan menyerap lebih dari 1.500 tenaga kerja. Selain itu, operasional PSEL diperkirakan mampu mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 311 ribu ton CO₂e per tahun, sekaligus memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan bagi masyarakat.
Dalam sambutannya, Wakil Menteri ESDM Yuliot menegaskan bahwa pembangunan PSEL Legok Nangka merupakan bagian dari upaya pemerintah menuntaskan persoalan sampah perkotaan sekaligus memperkuat bauran energi nasional.
"Sebagaimana telah diinstruksikan oleh Bapak Presiden untuk menyelesaikan persoalan sampah perkotaan secara menyeluruh sebelum tahun 2029 melalui skema hulu dan hilir, sampah harus dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi atau waste to energy yang juga menjadi target pembangunan nasional dalam RPJMN 2025–2029," ujar Yuliot.
Menurutnya, kapasitas pembangkit yang besar serta dukungan investasi diharapkan mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
"Dengan kapasitas pembangkit yang signifikan dan dukungan pelaksanaan investasi, proyek ini diharapkan memberikan manfaat nyata melalui pengurangan volume sampah, penyediaan energi bersih, penciptaan lapangan kerja, peningkatan aktivitas ekonomi daerah, pengurangan emisi, serta perbaikan kualitas lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat," katanya.
Yuliot berharap PSEL Regional Legok Nangka dapat menjadi model pengembangan proyek pengolahan sampah menjadi energi yang dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia.
Keberhasilan proyek ini diharapkan menjadi tonggak transformasi pengelolaan sampah nasional menuju sistem yang lebih modern, berkelanjutan, dan mendukung transisi energi bersih.