INDUSTRY.co.id - Jakarta, Logam Tanah Jarang (LTJ) atau Rare Earth Elements (REE) semakin diposisikan sebagai salah satu sumber daya strategis yang akan menentukan daya saing industri Indonesia di masa depan. 

Potensi cadangan yang dimiliki Indonesia dinilai perlu dikelola secara optimal melalui hilirisasi yang terintegrasi agar mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional.

Komitmen tersebut menjadi salah satu fokus pembahasan dalam Rapat Koordinasi Tata Kelola Ekspor Mineral Kritis Logam Tanah Jarang yang berlangsung di Gedung Bina Graha, Jakarta, Senin (27/7). 

Dalam forum itu, Kantor Staf Presiden (KSP) menegaskan pentingnya membangun ekosistem industri LTJ yang tidak hanya bertumpu pada aktivitas pertambangan, tetapi juga mencakup penguatan teknologi, regulasi, hingga kolaborasi lintas sektor.

Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. Dudung Abdurachman, menegaskan bahwa paradigma hilirisasi perlu diperluas sehingga tidak berhenti pada pembangunan fasilitas pengolahan.

"Hilirisasi tidak lagi hanya dimaknai sebagai membangun fasilitas pengolahan, tetapi harus mampu membentuk ekosistem industri nasional yang menghasilkan produk bernilai tambah tinggi, memperkuat penguasaan teknologi, membuka lapangan kerja berkualitas, serta meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global," tegas Dudung.

Menurutnya, pembangunan ekosistem tersebut membutuhkan tata kelola yang kuat, kepastian regulasi, penguasaan teknologi, serta sinergi antara kementerian dan lembaga, pelaku usaha, hingga aparat penegak hukum.

Sebagai delivery unit Presiden, KSP menyatakan akan terus mengawal percepatan implementasi hilirisasi sumber daya alam melalui koordinasi lintas sektor, penyelesaian berbagai hambatan, serta penguatan kebijakan agar potensi strategis Indonesia dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Logam Tanah Jarang merupakan kelompok mineral strategis yang menjadi bahan baku berbagai industri berteknologi tinggi, mulai dari semikonduktor, kendaraan listrik, baterai, energi terbarukan, hingga industri pertahanan. 

Indonesia diperkirakan memiliki potensi cadangan sekitar 350.000 ton Rare Earth Oxides (REO).

Melalui hilirisasi, pemerintah berharap sumber daya tersebut tidak hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah, tetapi dapat diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi yang mendorong penguasaan teknologi, menciptakan lapangan kerja berkualitas, meningkatkan daya saing industri nasional, serta memperbesar kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi.