INDUSTRY.co.id, Jakarta-Penelitian mengenai ibu kota Kerajaan Majapahit di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, perlu dilakukan melalui pendekatan multidisiplin agar mampu menghasilkan rekonstruksi sejarah yang lebih komprehensif sekaligus mendukung pelestarian kawasan warisan budaya. Pendekatan tersebut dinilai penting mengingat kompleksitas perkembangan kota Majapahit yang tidak dapat dijelaskan hanya melalui kajian arkeologi.
Kepala Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah (PRAPS) BRIN, Irfan Mahmud, mengatakan penelitian Majapahit saat ini perlu melibatkan berbagai disiplin ilmu, seperti geologi, geografi, arsitektur, ilmu lingkungan, teknologi digital, penginderaan jauh, hingga kecerdasan artifisial.
"Majapahit merupakan memori kolektif bangsa yang merekam perkembangan politik, ekonomi, teknologi, tata kota, hingga interaksi budaya Nusantara," ujar Irfan pada Webinar Forum Kebhinnekaan Seri #37 bertajuk "Wawasan Baru di Metropolitan Majapahit", Selasa (15/7).
Menurut Irfan, proyek Indonesian Field of Archaeology di Trowulan pada dekade 1990-an telah menghasilkan data arkeologi yang sangat kaya. Namun, hingga kini masih banyak aspek yang belum terungkap, mulai dari batas kota, struktur permukiman, sistem pengelolaan air, jaringan jalan, kawasan industri, hingga lanskap budaya Majapahit.
Ia menegaskan, pelestarian kawasan Majapahit tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja. Sinergi antara BRIN, Kementerian Kebudayaan, Balai Pelestarian Kebudayaan, Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), perguruan tinggi, pemerintah daerah, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya menjadi kunci agar penelitian dan pelestarian dapat berjalan secara beriringan.
Sementara itu, Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (Arbastra) BRIN, Hery Jogaswara, menilai forum ilmiah menjadi sarana penting untuk mendiseminasikan hasil riset sekaligus memperkuat kolaborasi penelitian arkeologi.
Menurut Hery, kerja sama BRIN dengan Kementerian Kebudayaan terus diperkuat melalui nota kesepahaman di bidang penelitian, pemanfaatan infrastruktur riset, dan pengelolaan koleksi ilmiah arkeologi.
"Sebagai tindak lanjut, kedua institusi telah membentuk tim bersama untuk mendukung pemanfaatan koleksi arkeologi bagi kepentingan pelestarian budaya," jelasnya.
Ia menambahkan, BRIN juga terus berkoordinasi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan dalam mendukung ekskavasi di kawasan Majapahit serta tengah mempersiapkan program penelitian jangka panjang di Situs Liangan, Jawa Tengah. Menurutnya, perkembangan penelitian di berbagai situs arkeologi, termasuk Sentonorejo, perlu terus disampaikan kepada masyarakat berdasarkan temuan ilmiah agar pemahaman terhadap nilai penting warisan budaya Indonesia semakin kuat.
Luas Kawasan Kota Majapahit di Trowulan
Dalam webinar tersebut, Peneliti PRAPS BRIN, Yusmaini Aryawati, memaparkan bahwa berdasarkan sebaran tinggalan arkeologis, luas kawasan Kota Majapahit di Trowulan diperkirakan mencapai sekitar 10 × 10 kilometer persegi yang mencakup sejumlah desa dan kecamatan di Kabupaten Mojokerto.
Ia menjelaskan, kawasan Trowulan telah dihuni jauh sebelum berdirinya Kerajaan Majapahit. Jejak permukiman berasal dari abad ke-10 Masehi pada masa Mataram Kuno, berlanjut pada era Singhasari, hingga mencapai puncak perkembangannya pada masa Majapahit.
"Data arkeologi menunjukkan adanya pola permukiman setingkat kota yang terbagi dalam sejumlah klaster, seperti Sentonorejo, Segaran, Pendopo Agung, Nglinguk, Grogol, Pakis, dan Puri," jelas Yusmaini.
Menurutnya, kawasan Sentonorejo diduga merupakan kawasan elite tempat tinggal raja dan bangsawan yang dilengkapi area sakral berupa Pamerajan Agung milik istana. Di kawasan Nglinguk Wetan, tim peneliti juga menemukan kembali 63 sumur kuno dengan bentuk, ukuran, dan teknologi pembuatan yang beragam. Temuan tersebut memberikan gambaran mengenai sistem permukiman masyarakat Majapahit yang telah memiliki akses terhadap sumber air bersih.
Peneliti PRAPS BRIN, Sugeng Riyanto, menambahkan bahwa karakter permukiman Majapahit di Trowulan diduga merupakan kelanjutan dari masa Singhasari. Menurutnya, Singhasari dan Majapahit berasal dari satu garis keturunan, yakni Wangsa Rajasa yang bermula sejak Ken Arok menaklukkan Kerajaan Kediri pada 1222 Masehi.
Adapun Muhammad Ichwan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur memaparkan berbagai upaya pelestarian di Situs Bhre Kahuripan, mulai dari inventarisasi, ekskavasi, penetapan zonasi, konservasi berkala, hingga penempatan juru pelihara untuk menjaga kelestarian situs.
Melalui forum tersebut, BRIN berharap hasil-hasil penelitian terbaru mengenai Majapahit terus berkembang melalui kolaborasi lintas disiplin. Pendekatan ini diharapkan mampu memperkaya rekonstruksi sejarah perkotaan Majapahit sekaligus memperkuat pelestarian salah satu warisan budaya terpenting di Indonesia. (Sumber BRIN)