INDUSTRY.co.id, Jakarta—Di bawah langit Tangerang yang cerah pada siang itu, bunyi gendang bukan sekadar ritme. Ia menjadi detak yang memanggil menghadirkan tanah yang jauh, mengingatkan perantau bahwa akar tak pernah benar-benar putus.

Advertisement

Minggu, 14 Juni 2026, halaman Kompleks Dewantara Sport Center, Tangerang, berubah menjadi panggung hidup. Perangkat adat, pakaian tradisional, dan langkah-langkah tarian Manggarai berkumpul: sebuah perayaan yang bukan hanya merayakan kesenian, tetapi juga menegaskan identitas.

Di tengah kerumunan berdiri Yasintus Jaar, tokoh muda Manggarai dan Ketua Gendang Compang Cama. Matanya serius tapi hangat ketika ia melontarkan kalimat dalam bahasa Manggarai: “Neka hemong kuni agu kalo,” — jangan lupa tanah kelahiran atau budaya.

Advertisement

Bagi Yasintus, itu bukan slogan kosong. Di sela-sela kesibukan merantau, pentas seperti ini adalah cara konkret merawat warisan leluhur.

Compang Cama bukan sekadar nama organisasi. Compang merujuk pada tumpukan batu melingkar, altar di kampung adat Manggarai tempat pohon beringin menjadi saksi ritual dan doa. Cama berarti makan bersama. Gabungan keduanya menyatukan ruang sakral yang mengikat komunitas pada sejarah dan ritual kebersamaan yang mengikat antarwarga.

Advertisement

Di perantauan, makna itu menjadi tindakan: duduk bersama, menyantap hidangan, menabuh gendang, dan bercerita tentang rumah.

Kehadiran Lawa, aktivis dari beragam komunitas Manggarai di Jabodetabek, mempertegas satu hal: yang dirindukan bukan klaim kekuasaan, melainkan kehadiran yang merawat.

Advertisement

“Bukan soal siapa paling berkuasa atau siapa paling mampu memberi banyak uang. Kami rindu sosok yang turun langsung, yang menemui warga tanpa pilih kasih,” ujar seorang panitia, lelah namun puas.

Inilah alasan acara itu dipenuhi wajah-wajah akrab dan raut rindu: kepemimpinan yang mengayomi terasa lebih penting daripada klaim otoritas.

Persiapan pentas ini adalah proyek kolektif yang menuntut kerja keras selama tiga bulan, menurut catatan Tua Golo Compang Cama ini, komunitas Compang Cama menggandeng komunitas Ase Kae Tangerang untuk berbagi pengetahuan: teknik tari, makna kostum, lirik lagu, hingga susunan upacara.

Di lapangan, proses belajar tak formal: koreografi, diskusi, dan memasak bersama menjadi ruang pengajaran yang paling hidup.

“Sikap kebersamaan inilah,” kata Yasintus, “yang menunjukkan budaya bukan komoditas yang dipikul seorang diri, melainkan warisan yang diwariskan lewat praktik kolektif.” Pentas semacam ini juga menegaskan kenyataan sosial: diaspora butuh ruang untuk meneguhkan identitas.

Di kota besar yang serba cepat, budaya lokal mudah terlupakan bila tak sengaja dipelihara. “Semakin kita takut berbuat sesuatu yang besar, semakin punahlah budaya kita di tanah rantauan ini,” tambahnya.

Ada ironi yang indah pada acara itu. Bagi birokrat atau pengamat budaya, mungkin tampak seperti pagelaran kecil di pinggiran kota. Namun bagi mereka yang hadir, acara itu adalah kembali ke rumah. Mereka datang dari berbagai penjuru Jabodetabek, membawa rindu yang dilipat rapi dalam kain tenun, lagu, dan aroma masakan kampung. Mereka menyaksikan, menyanyi, dan menabuh gendang bersama; pada setiap denting tersurat pesan: kami masih ada, kami menjaga.

Motto Compang Cama  “kita kuat karena kita kompak” — bukan sekadar kalimat hafalan. Ia menjadi pijakan operasional: kebersamaan adalah sumber daya, solidaritas strategi untuk melanggengkan budaya. Kepemimpinan di sini diukur bukan oleh retorika, tetapi oleh kemampuan hadir, membimbing, dan membagi tanpa pilih kasih. Sikap itu membuat warga merasa dirangkul, bukan hanya menjadi objek upacara.

Ketika malam menutup panggung, lampu temaram menyorot wajah-wajah yang pulang perlahan. Ada yang membawa kain tenun, ada yang membawa oleh-oleh makanan, ada pula yang pulang dengan catatan baru tentang tarian yang harus dipelajari. Lebih dari itu, mereka membawa pesan sederhana: identitas tak luntur bila dirawat bersama.

Di antara tumpukan batu compang dan bunyi piring yang bergesekan dalam makan bersama cama, tumbuh harapan bahwa di tanah rantau generasi penerus Manggarai tetap akan menemukan cara mengikat diri pada akar.

Pentas 14 Juni itu bukan akhir, melainkan titik tolak. Ia menegaskan apa yang komunitas ingin wariskan: budaya hidup bila dipertunjukkan, diajarkan, dan dinikmati bersama. Di tengah kota yang terus berubah, Compang Cama menabuh ritme yang mengingatkan: rumah bukan hanya lokasi geografi, melainkan rangkaian praktik yang meneruskan nama dan wujud leluhur.