INDUSTRY.co.id - Jakarta, Kemudahan mengakses layanan keuangan digital membuka banyak peluang bagi generasi muda. Namun, di balik tingginya tingkat literasi keuangan mahasiswa, ancaman perilaku konsumtif, pinjaman online ilegal, hingga judi online masih menjadi tantangan yang harus dihadapi.
Hal tersebut mengemuka dalam talkshow edukasi keuangan bertajuk "Money Moves: Smart Today, Secure Tomorrow" yang diselenggarakan Malahayati Consultant bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Koordinator Komisariat Universitas Indonesia, pada Jumat (10/7/2026).
Kegiatan ini menghadirkan Direktur Malahayati Consultant Ahmad Maulana, analis senior Badan Supervisi OJK (BSOJK) Ade Firman, Financial Content Creator Wasji Heryadi, serta Chairman of Literation & Inclusion Function AML-CFT, Dandy Kusuma.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) terbaru yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia pada kelompok usia 18–25 tahun telah mencapai 73,22 persen.
Angka tersebut berada di atas rata-rata indeks literasi keuangan nasional yang sebesar 66,46 persen, menunjukkan peningkatan pemahaman mahasiswa terhadap pengelolaan keuangan.
Meski demikian, tingginya literasi belum sepenuhnya diikuti perilaku keuangan yang sehat.
OJK dan Kementerian Keuangan masih mencatat sejumlah persoalan, mulai dari tingginya penggunaan layanan keuangan digital tanpa pemahaman manajemen risiko, maraknya korban pinjaman online ilegal dan judi online, hingga gaya hidup konsumtif yang dipengaruhi fenomena fear of missing out (FOMO).
Chairman of Literation & Inclusion Function AML-CFT, Dandy Kusuma, mengatakan tingkat literasi keuangan Indonesia secara umum masih tertinggal dibandingkan beberapa negara di kawasan Asia Tenggara sehingga edukasi keuangan perlu terus diperluas.
"Kalau kita lihat data secara nasional, literasi keuangan Indonesia masih sekitar 66 persen. Itu berarti masih lebih rendah dibandingkan negara-negara tetangga. Karena itu pemerintah, OJK, perusahaan pembiayaan, hingga perusahaan financial technology memiliki tanggung jawab untuk terus melakukan literasi keuangan kepada masyarakat," ujarnya.
Menurut Dandy, wilayah perkotaan menjadi fokus penting dalam edukasi keuangan karena akses terhadap berbagai produk pembiayaan dan layanan finansial digital jauh lebih besar dibandingkan daerah lain.
"Eksposur terhadap fasilitas pembiayaan jauh lebih banyak di kota-kota besar. Semakin besar akses, semakin besar pula risiko jika masyarakat tidak memiliki pemahaman yang baik dalam mengelola keuangan," katanya.
Ia juga mengungkapkan bahwa kelompok Generasi Z menjadi pengguna pembiayaan multiguna yang cukup besar.
"Sekitar 25 sampai 28 persen pengguna pembiayaan berasal dari Gen Z di seluruh Indonesia. Di bawahnya baru kelompok milenial. Ini menunjukkan generasi muda menjadi kelompok yang cukup dominan dalam penggunaan fasilitas pembiayaan," jelas Dandy.
Sementara itu, Direktur Malahayati Consultant Ahmad Maulana menilai perubahan pola pikir menjadi kunci utama agar mahasiswa tidak mudah terjebak pada perilaku konsumtif maupun penyalahgunaan layanan keuangan digital.
"Perubahan mindset tidak bisa dilakukan sekali dua kali. Kita harus terus turun langsung ke kalangan mahasiswa. Selama ini saya banyak mendampingi korban, dan sebagian besar berasal dari kalangan muda," ujarnya.
Menurut Ahmad, kemudahan teknologi justru membuat sebagian mahasiswa lebih mengutamakan gaya hidup dibandingkan kebutuhan yang sesungguhnya.
"Mahasiswa jangan sampai lebih mengedepankan lifestyle daripada kebutuhan. Mindset itu harus diubah melalui kegiatan edukasi seperti ini, agar mereka memahami risiko dari setiap keputusan finansial yang diambil," katanya.
Ia menambahkan, pendekatan yang paling efektif adalah menghadirkan contoh nyata mengenai dampak buruk pengelolaan keuangan yang keliru.
"Kita perlu menunjukkan kisah nyata orang-orang yang mengalami kegagalan hidup akibat terjerat pinjaman online atau penyalahgunaan aplikasi keuangan. Dari situ mahasiswa bisa belajar sebelum menjadi korban berikutnya," tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, analis senior Badan Supervisi OJK (BSOJK), Ade Firman, mengingatkan generasi muda untuk lebih berhati-hati sebelum menggunakan layanan pinjaman online yang banyak ditawarkan melalui media sosial, platform video, hingga permainan daring.
Menurutnya, masyarakat cukup mengingat prinsip sederhana berupa dua L.
"Sebelum menggunakan layanan pinjaman online, terapkan dua L. Pertama, logis, apakah penawarannya masuk akal. Kedua, legal, pastikan penyelenggara jasa keuangan tersebut memiliki izin dari OJK," tegas Ade Firman.
Melalui kegiatan bertema "Money Moves: Smart Today, Secure Tomorrow", para narasumber berharap mahasiswa tidak hanya memiliki pemahaman mengenai konsep literasi keuangan, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan pengelolaan keuangan yang bijak, generasi muda diharapkan lebih siap menghadapi tantangan ekonomi digital sekaligus terhindar dari jeratan pinjaman online ilegal, judi online, maupun perilaku konsumtif yang dapat mengganggu masa depan finansial mereka.