INDUSTRY.co.id - JAKARTA – PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) resmi mencatatkan saham perdananya di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (9/7). Dengan pencatatan tersebut, PRDL menjadi emiten keenam yang melantai di Bursa pada 2026, sekaligus memperkuat daftar perusahaan sektor kesehatan yang memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan untuk ekspansi usaha.

Masuknya PRDL ke lantai bursa mencerminkan masih terjaganya minat perusahaan terhadap pendanaan melalui pasar modal, di tengah kebutuhan memperkuat kapasitas industri alat kesehatan nasional. Perseroan tercatat di Papan Pengembangan BEI melalui seremoni pencatatan perdana saham yang menandai dimulainya perdagangan saham PRDL.

PRDL merupakan bagian dari Prodia Group yang bergerak di bidang produksi dan perakitan alat kesehatan diagnostik in vitro. Perseroan berfokus menyediakan solusi sistem diagnostik terintegrasi guna mendukung peningkatan kualitas layanan kesehatan di Indonesia melalui penyediaan berbagai produk diagnostik.

"PRDL merupakan bagian dari Prodia Group yang bergerak di bidang produksi dan perakitan alat kesehatan diagnostik in vitro yang menyediakan solusi sistem diagnostik terintegrasi untuk terus mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia melalui berbagai produk diagnostik berkualitas unggul," demikian keterangan perseroan.

Didirikan pada 16 April 2010, PRDL telah berkembang sebagai mitra bagi berbagai fasilitas layanan kesehatan, mulai dari laboratorium klinik, rumah sakit, puskesmas hingga institusi kesehatan di berbagai wilayah Indonesia.

Portofolio produk perseroan mencakup diagnostik kimia klinik, hematologi, imunologi, diagnostik molekuler, hingga point-of-care testing (POCT). Selain memasok produk, PRDL juga menawarkan layanan purna jual yang meliputi instalasi, pemeliharaan, serta kalibrasi instrumen diagnostik.

Kehadiran PRDL sebagai perusahaan terbuka diharapkan memperkuat kapasitas bisnis perseroan dalam menangkap pertumbuhan kebutuhan alat diagnostik seiring meningkatnya permintaan layanan kesehatan nasional serta upaya pemerintah memperkuat kemandirian industri alat kesehatan dalam negeri.