INDUSTRY.co.id - Jakarta - Generasi muda didorong untuk mulai berinvestasi sejak dini sebagai langkah membangun kebebasan finansial sekaligus melindungi nilai aset dari ancaman inflasi. Investasi di instrumen legal seperti saham, aset kripto, hingga komoditas dinilai mampu memberikan imbal hasil yang jauh lebih tinggi dibanding hanya menyimpan uang di tabungan.
Praktisi pasar modal global Vier Abdul Jamal mengatakan, waktu merupakan aset paling berharga dalam investasi. Semakin cepat seseorang memulai investasi, semakin besar peluang menikmati pertumbuhan nilai aset melalui efek compounding.
"Semakin dini seseorang mulai berinvestasi, semakin besar efek pertumbuhan yang bisa didapat di masa depan," ujarnya dalam sebuah diskusi bertajuk “Menangkap Peluang Investasi Saham, Kripto, dan Komoditas” yang diselenggarakan Himpunan Pemuda dan Mahasiswa Nagekeo (Himapen) di Jakarta (8/7).
Menurut Vier, investasi sejak usia muda memiliki sejumlah manfaat, mulai dari mempercepat tercapainya kebebasan finansial, membangun aset produktif, melatih pola pikir jangka panjang, hingga menjaga daya beli dari dampak inflasi.
Ia mencontohkan, harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) saat penawaran umum perdana (IPO) pada 2000 berada di level Rp1.400 per saham. Setelah memperhitungkan aksi stock split, capital gain saham tersebut kini mencapai sekitar 3.989%.
Sementara itu, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) disebut telah menghasilkan kenaikan sekitar 296% sejak IPO pada 2023.
"Return investasi tersebut jauh melampaui rata-rata inflasi sehingga mampu menjaga bahkan meningkatkan nilai kekayaan investor dalam jangka panjang," katanya.
Selain saham, Vier juga menilai aset kripto masih memiliki prospek yang menarik. Ia mencontohkan harga Bitcoin yang pada 2010 hanya sekitar Rp73 per koin dan kini telah menembus sekitar Rp1,1 miliar.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa setiap instrumen investasi memiliki risiko sehingga masyarakat perlu memahami karakteristik masing-masing aset sebelum berinvestasi.
Vier menilai peningkatan literasi keuangan di kalangan mahasiswa menjadi sangat penting karena masih banyak generasi muda yang terjebak praktik judi online dibanding mulai berinvestasi.
Menurutnya, investasi dan judi online merupakan dua hal yang sangat berbeda.
"Judi online merupakan aktivitas spekulatif yang secara matematis dirancang memberikan keuntungan kepada operator. Sementara investasi berarti memiliki aset produktif yang memiliki risiko dan potensi keuntungan secara transparan," jelasnya.
Ia mengimbau mahasiswa mulai mengenal berbagai instrumen investasi legal seperti saham, komoditas maupun aset kripto sebagai bekal membangun masa depan finansial.
Presiden Direktur Pintu, Andy Putra mengatakan, aset kripto kini menjadi salah satu instrumen investasi favorit generasi muda.
Berdasarkan survei yang dipaparkannya, sekitar 60% investor kripto di Indonesia berasal dari kelompok usia 18-34 tahun.
Menurut Andy, daya tarik kripto terletak pada fleksibilitas transaksi yang berlangsung selama 24 jam setiap hari, modal awal yang relatif kecil, serta regulasi yang kini semakin jelas. Sejak 2025, aset kripto berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
"Ke depan, kripto akan menjadi bagian penting dari sistem keuangan global. Bahkan aset seperti proyek properti mulai bisa ditokenisasi sehingga membuka peluang investasi yang lebih luas," ujarnya.
Ia juga mengungkapkan nilai transaksi aset kripto di Indonesia sepanjang tahun lalu mencapai sekitar Rp480 triliun.
Dikesempatan yang sama, Komisaris PT Aldicitra Sekuritas Hari Mantoro mengatakan, inflasi secara perlahan mengurangi daya beli masyarakat sehingga budaya menabung saja tidak lagi cukup untuk mempertahankan nilai kekayaan.
Ia memberi ilustrasi harga mobil Toyota Kijang Super Chassis yang pada 1991 hanya sekitar Rp24,5 juta. Sementara pada 2026, harga Toyota Innova Zenix telah mencapai sekitar Rp438 juta atau meningkat hampir 18 kali lipat.
"Oleh sebab itu, generasi muda perlu mulai beralih dari budaya menabung menuju budaya berinvestasi agar daya beli tetap terjaga," kata Hari.
Dukungan terhadap peningkatan literasi keuangan juga datang dari sektor korporasi. President Director PT ITSEC Asia Tbk Patrick Dannacher mengatakan keamanan siber menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap investasi digital.
Menurutnya, perusahaan menyediakan berbagai layanan keamanan digital, mulai dari Security Operations Center (SOC), Managed Detection and Response (MDR), penetration testing, cloud security hingga solusi berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk membantu melindungi sistem keuangan digital.
Sementara itu, Direktur Human Capital & Compliance BNI Mucharom mengatakan literasi keuangan merupakan fondasi utama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Ia mengutip hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan OJK yang menunjukkan tingkat literasi keuangan Indonesia terus meningkat dibanding beberapa tahun sebelumnya, meski masih perlu terus ditingkatkan melalui kolaborasi berbagai pihak.
BNI pun terus mendukung berbagai kegiatan edukasi keuangan, termasuk diskusi literasi yang digelar Himapen, sebagai bagian dari upaya meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pengelolaan keuangan dan investasi yang sehat.