INDUSTRY.co.id - Jakarta, Kinerja positif yang dibukukan sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) dalam beberapa waktu terakhir bukanlah hasil yang tercipta dalam waktu singkat.
Peningkatan laba, efisiensi, hingga membaiknya kondisi keuangan perusahaan merupakan buah dari rangkaian transformasi yang telah dijalankan secara bertahap melalui restrukturisasi, konsolidasi, maupun perubahan model bisnis.
Setiap BUMN menempuh jalur transformasi yang berbeda sesuai karakter dan tantangan usahanya.
Namun, benang merahnya sama, yakni memperkuat fundamental perusahaan agar mampu menciptakan nilai yang berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas bagi perekonomian nasional.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa orientasi BUMN tidak semata-mata mengejar keuntungan finansial.
"BUMN semata-mata tidak hanya mengejar dari segi laba, tetapi juga harus dirasakan kehadirannya ke masyarakat, ke rakyat dalam bentuk pemberian persamaan kesempatan dari segala lapisan, dari UMKM, komersial maupun korporasi," ujar Rosan.
Pandangan tersebut tercermin dalam berbagai langkah transformasi yang dilakukan sejumlah perusahaan pelat merah.
PT Pupuk Indonesia, misalnya, mengubah mekanisme subsidi dari skema cost-plus menjadi mark-to-market.
Perubahan tersebut memberi ruang yang lebih besar bagi perusahaan untuk mengelola risiko fluktuasi harga komoditas sekaligus meningkatkan fleksibilitas dalam mengoptimalkan profitabilitas.
Di sektor energi, PT Pertamina (Persero) memilih jalur konsolidasi dengan mengintegrasikan Pertamina Patra Niaga, Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan Pertamina International Shipping (PIS) ke dalam Subholding Downstream.
Langkah ini ditujukan untuk menyederhanakan struktur organisasi, mengurangi duplikasi fungsi, serta memperkuat integrasi rantai bisnis hilir.
Restrukturisasi juga menjadi strategi yang ditempuh PT Krakatau Steel dalam memperbaiki kondisi keuangan.
Melalui penataan utang, efisiensi operasional, dan penyusunan ulang portofolio bisnis, perusahaan berhasil membalikkan kinerja dari rugi Rp981 miliar pada April 2025 menjadi laba Rp635 miliar pada April 2026.
Pada saat yang sama, total utang perusahaan berhasil ditekan dari sekitar US$1,7 miliar menjadi US$1,1 miliar.
Perbaikan kinerja turut terlihat di sektor kawasan industri.
Sepanjang 2025, penyediaan lahan industri bertambah hingga 142 hektare.
Kenaikan aktivitas tersebut mendorong pendapatan meningkat dari Rp3,09 triliun menjadi Rp3,81 triliun, sementara laba perusahaan tumbuh dari Rp830 miliar menjadi Rp1,3 triliun.
Dampak transformasi tidak berhenti pada capaian korporasi. Peningkatan investasi asing langsung (FDI) sebesar US$400–500 juta dan terciptanya sekitar 10.000 lapangan kerja baru menunjukkan bahwa pembenahan BUMN juga memberikan efek berganda terhadap aktivitas ekonomi nasional.
Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, mengatakan salah satu sumber inefisiensi terbesar selama ini berasal dari transaksi berlapis antara perusahaan induk dan anak usaha.
"Efisiensi yang paling besar sebetulnya datangnya dari layering transaction, karena umumnya anak-anak perusahaan di dalam BUMN itu mengerjakan pekerjaan dari induknya. Itu kemudian menyebabkan inefisiensi," kata Dony.
Menurutnya, konsolidasi diperkirakan mampu menghasilkan penghematan sekitar Rp30 triliun setiap tahun dari efisiensi operasional.
Selain itu, terdapat potensi tambahan penghematan sekitar Rp20 triliun melalui penutupan anak perusahaan yang selama ini membebani kinerja grup.
Sementara itu, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) juga mencatat hasil positif setelah menjalankan proses integrasi.
Hingga April 2026, perusahaan membukukan laba Rp1,48 triliun atau meningkat 169 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp550 miliar.
Meski demikian, proses transformasi dinilai belum selesai hanya dengan merger maupun restrukturisasi.
Anggota Komisi VI DPR RI Christiany Eugenia Paruntu menilai keberhasilan sesungguhnya ditentukan oleh kemampuan perusahaan menjalankan integrasi pasca-merger secara konsisten.
"Tahap yang jauh lebih penting adalah memastikan integrasi pasca-merger berjalan efektif, mulai dari harmonisasi budaya kerja, penyelarasan proses bisnis, penguatan tata kelola perusahaan, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia," ujarnya.
Beragam pengalaman tersebut menunjukkan bahwa transformasi BUMN tidak memiliki satu pola baku. Ada perusahaan yang memulai perubahan melalui konsolidasi, restrukturisasi keuangan, pembenahan model bisnis, maupun ekspansi operasional.
Perbedaan pendekatan itu justru mencerminkan bahwa setiap transformasi dirancang sesuai kebutuhan masing-masing perusahaan dengan tujuan yang sama, yakni membangun BUMN yang lebih sehat, efisien, dan mampu memberikan kontribusi lebih besar bagi perekonomian Indonesia.