INDUSTRY.co.id - Jakarta – Matahari baru saja naik menembus batas cakrawala Pantai Daloha. Lidah-lidah pantai menjulur menghapus jejak-jejak kaki yang tertinggal di pasir. Angin laut yang dingin diam-diam memeluk badan, tapi, hangatnya matahari saat itu masih terasa di sekujur badan.
Pantai Daloha tampak cemerlang. Hanya warna biru-putih yang tersaji sejauh mata memandang: pasir putih yang halus berpadu dengan laut biru jernih dan awan-awan stratus di langit.

Saat berjalan tanpa alas kaki di pantai ini, butiran pasir terasa lembut seperti pijatan refleksi yang menenangkan. Di setiap langkah, pasir halus menyelinap di sela-sela jari kaki. Di tengah dunia yang bergerak serba cepat, pagi di Pantai Daloha terasa seperti tombol jeda yang lama dicari banyak orang.
Kamis pagi itu, 4 Juni 2026, bentangan pantai di kawasan Daloha Beach and Dive Resort terlihat lengang. Pantai yang suka orang sebut Pantai Daloha berlokasi di Tanjung Dehegila, Desa Juanga, Kecamatan Morotai Selatan, Kabupaten Pulau Morotai-Maluku Utara. Bergaris pantai 4,5 kilometer, pantai ini sangat ideal bagi tempat untuk wisatawan yang menikmati kesendirian dan ketenangan.
Beruntungnya, hari itu langit begitu cerah. Beberapa tamu bersama anaknya tampak bermain pasir di tepi pantai. Air laut terlihat begitu jernih hingga dasar perairan dangkal dapat dilihat dengan mata telanjang. Ikan-ikan kecil berenang lincah mengikuti irama ombak, sementara sebagian tamu memilih duduk menikmati suasana tanpa melakukan apa pun.
Menjelang malam, warna biru laut perlahan digantikan gelapnya malam. Namun pesona Pantai Daloha tak ikut menghilang. Di atas sana, bintang-bintang bermunculan memenuhi langit, menemani para tamu menikmati makan malam dengan latar suara ombak yang datang dan pergi.
Daloha Beach & Dive Resort berdiri hanya beberapa langkah dari garis pantai. Dari sini, para tamu bisa menyaksikan matahari muncul perlahan dari ufuk timur dan kembali tenggelam di penghujung hari. Saat cuaca cerah, hari-hari di Daloha Beach & Dive Resort terasa seperti menikmati sinema alam yang berganti adegan dari fajar hingga senja.
“Lokasi kami di sini memang cocok untuk mereka yang ingin sejenak menjauh dari kesibukan dan menikmati suasana yang tenang di tengah keindahan alam (Morotai),” kata Alan Wijaya, Direktur Utama PT Jababeka Morotai selaku pengelola dan pengembang Kawasan Ekonomi Khusus Morotai.
Kalimat itu tidak berlebihan. Atmosfer damai langsung terasa sejak pertama kali menjejakkan kaki di Daloha Beach & Dive Center, yang berada di KEK Morotai ini. Dari Bandara Pitu – Morotai menuju Daloha Beach & Dive Resort, perjalanan hanya memakan waktu sekitar 10 menit dengan mobil. Bagi tamu yang menginap, pihak resort juga menyediakan layanan antar-jemput dari dan menuju bandara.
Konsep tradisional yang menyatu dengan alam
Soal desainnya, Daloha Beach & Dive Resort sendiri mengusung karakter tradisional yang cukup kuat. Hal itu terlihat dari konsep bangunannya yang terinspirasi dari rumah-rumah tradisional dengan struktur semi panggung dan dominasi material kayu yang menyatu dengan lingkungan sekitar. Konsep tersebut memungkinkan cahaya alami dan semilir angin laut masuk dengan leluasa ke dalam ruangan, menciptakan suasana yang sejuk dan nyaman.
“Inspirasi kami ambil dari rumah tradisional Tomohon,” ujar Alan Wijaya.

Nuansa kayu nggak hanya hadir pada struktur bangunan, tapi juga mendominasi interior kamar. Mulai dari dipan, meja, kursi, hingga lemari menggunakan material dan warna yang selaras dengan konsep ruangannya.
Meski mengedepankan nuansa tradisional, fasilitas akomodasi yang ditawarkan tetap dirancang untuk memenuhi kebutuhan berbagai tipe wisatawan. Alan Wijaya menjelaskan, Daloha Beach & Dive Resort memiliki 22 unit cottage yang terbagi dalam beberapa pilihan. “Kami memiliki dua tipe premium dengan konfigurasi dua kamar tidur, serta tipe deluxe atau studio dengan satu kamar yang cocok untuk pasangan maupun wisatawan individu,” ujarnya.
Menjelajahi keindahan Morotai
Menginap di Daloha Beach & Dive Resort bukan hanya tentang menikmati kenyamanan kamar atau panorama pantai. Dari depan resort, para tamu sudah bisa melakukan berbagai aktivitas, mulai dari jogging di tepi pantai, berenang, hingga snorkeling di perairan sekitar Pantai Daloha.

Petualangan berlanjut dengan menjelajahi pulau-pulau cantik di Morotai. Masing-masing memiliki pesonanya sendiri, seperti Pulau Kokoya, Pulau Kolorai, Pulau Zum-zum, Pasir Timbul, hingga Pulau Dodola – pulau yang bikin Morotai dijuluki sebagai Maldives-nya Indonesia.
Menurut Alan Wijaya, Pulau Zum-zum memiliki daya tarik sejarah yang kuat karena pernah menjadi tempat tinggal Jenderal Douglas MacArthur dari Amerika Serikat pada masa Perang Dunia II. Di pulau tersebut berdiri patung MacArthur setinggi sekitar 20 meter yang jadi salah satu ikon wisata sejarah Morotai.
Sementara itu, Pulau Dodola menawarkan fenomena alam yang unik. Saat air laut surut, muncul jembatan pasir putih sepanjang ratusan meter yang menghubungkan Dodola Besar dan Dodola Kecil. Momen tersebut menjadi salah satu pemandangan paling ikonik yang dicari pelancong.
Tertarik snorkeling di Pulau Dodola? Bagi pencinta dunia bawah laut, snorkeling hanyalah permulaan. Aktivitas yang paling direkomendasikan saat berlibur ke Daloha Beach & Dive Resort adalah diving. Para tamu tak perlu repot membawa perlengkapan sendiri karena resort ini sudah menyediakan fasilitas penyelaman yang lengkap. Mulai dari peralatan hingga pemandu berpengalaman yang siap mendampingi selama kegiatan berlangsung.
“Kalau sudah datang ke Morotai tapi tidak mencoba diving, rasanya sayang sekali,” kata Alan Wijaya.
Sebagai destinasi bahari unggulan, Morotai memiliki sejumlah titik penyelaman yang menawarkan pengalaman berbeda. Di Pulau Mitita, penyelam berkesempatan berenang bersama hiu sirip hitam. Di perairan sekitar Pulau Wawama, wisatawan dapat melihat Jeep Willys peninggalan Perang Dunia II yang kini menjadi bagian dari ekosistem bawah laut. Sementara di Pulau Dodola, hamparan terumbu karang dan biota laut menghadirkan panorama bawah laut yang memikat.
Aktivitas daratnya pun nggak kalah memberikan pengalaman berkesan. Para tamu bisa trekking menuju Air Terjun Raja – yang punya tujuh jenjang air terjun alami, mengamati berbagai jenis burung endemik yang langka, hingga menelusuri jejak Perang Dunia II yang masih tersimpan di Morotai.

Di mana jejak itu bisa ditemukan? Salah satu tempat yang menarik untuk dikunjungi adalah Museum Swadaya Perang Dunia II milik Muhlis Eso di Desa Joubela. Berbeda dengan museum pada umumnya, tempat ini lahir dari kecintaan seorang warga Morotai terhadap sejarah pulau kelahirannya. Sejak usia muda, Muhlis mengumpulkan berbagai peninggalan Perang Dunia II yang ia temukan di hutan, pesisir pantai, hingga pulau-pulau kecil di sekitar Morotai.
Kini, ribuan koleksi tersimpan di museum sederhana yang dibangunnya secara mandiri. Mulai dari peluru, perlengkapan militer, lencana, botol minum tentara, hingga berbagai artefak yang menjadi saksi bisu pertempuran di kawasan Pasifik. Bagi para tamu, berkunjung ke museum ini bukan sekadar melihat benda-benda bersejarah, tapi mendengarkan langsung kisah tentang Morotai dari sosok yang selama puluhan tahun mendedikasikan dirinya untuk merawat jejak-jejak masa lalu pulau tersebut.
"Banyak orang datang ke Morotai karena pantai dan lautnya. Tapi, setelah berada di sini, mereka biasanya baru menyadari bahwa Morotai juga menyimpan cerita sejarah yang sangat kuat," kata Alan Wijaya.

Setelah beberapa hari berada di Morotai, para tamu menyadari bahwa daya tarik destinasi ini bukan hanya pada pantainya yang indah atau lautnya yang jernih. Morotai menawarkan pengalaman yang lebih utuh. Dalam satu perjalanan, wisatawan bisa menikmati ketenangan alam, menyelami kekayaan bawah laut, meng-eksplor jejak sejarah Perang Dunia II, hingga berinteraksi dengan kehidupan masyarakat setempat. Semua pengalaman itu dirangkai dalam berbagai aktivitas yang ditawarkan Daloha Beach & Dive Resort.
“Sebagai resort, kami tidak hanya menjual tempat menginap. Kami merepresentasikan sebuah destinasi. Karena itu, kami menawarkan paket aktivitas yang memadukan pengalaman budaya, sejarah, dan alam,” ujar Alan Wijaya.
Menjelang petang, rombongan kembali ke Daloha Beach & Dive Resort. Ombak sekali lagi menjulur ke bibir pantai, menghapus jejak-jejak kaki yang tertinggal di pasir seperti pagi ketika perjalanan ini dimulai. Namun, kenangan tentang Morotai tidak ikut larut bersamanya. Tentang laut yang membentang tenang, pulau-pulau kecil yang memesona, kisah sejarah yang masih terjaga, dan hari-hari yang terasa berjalan sedikit lebih pelan dari biasanya.