INDUSTRY.co.id - Jakarta, Di sebuah ruang rapat di lantai 22 Gedung BJ Habibie, Jakarta, arah baru ambisi antariksa Indonesia kembali ditegaskan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA) membuka babak awal pembicaraan dengan pihak Rusia, Glavkosmos, terkait rencana pembangunan bandar antariksa di Indonesia.

Dalam pertemuan yang berlangsung Rabu (1/7), Kepala ORPA BRIN Robertus Heru Triharjanto menyebut momentum ini sebagai perkembangan penting setelah pemerintah menetapkan landasan regulasi baru.

“Ini merupakan kabar baik, dan perkembangan yang sangat bagus,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa peraturan pemerintah mengenai penyelenggaraan bandar antariksa telah resmi ditandatangani Presiden Republik Indonesia. “Saat ini BRIN akan mempersiapkan implementasi dari peraturan tersebut,” lanjutnya, seraya menyebut target awal bahwa pada 2027 Indonesia diharapkan mulai melihat kemajuan signifikan.

Pertemuan ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga strategis. BRIN menempatkannya sebagai langkah awal untuk menyamakan persepsi sebelum pembahasan ditingkatkan ke level pimpinan antara BRIN dan Roscosmos.

“Pertemuan pendahuluan ini diharapkan menjadi dasar bagi pembahasan yang lebih konkret, terarah, dan saling menguntungkan,” kata Robertus, menekankan keterbukaan Indonesia terhadap kerja sama internasional di bidang teknologi antariksa.

Dari sisi Rusia, Glavkosmos memaparkan konsep pengembangan pusat antariksa yang telah lama dibicarakan kedua negara. Sejak 2023, dialog tentang proyek ini telah berjalan, dan pada 2025 Roscosmos disebut telah menyampaikan peta jalan pembangunan fasilitas di Pulau Biak.

Menurut pihak Glavkosmos, lokasi Biak memiliki nilai strategis yang tidak bisa diabaikan.

“Lokasi pusat antariksa di Pulau Biak memiliki karakteristik yang sangat unik,” ujar perwakilan mereka. Letaknya yang dekat ekuator dianggap memberikan keuntungan teknis dalam efisiensi peluncuran dan variasi orbit.

Selain aspek teknis, proyek ini juga dipandang sebagai inisiatif jangka panjang dengan potensi besar. Bahkan, Glavkosmos menilai fasilitas tersebut dapat membuka jalan bagi pengembangan kemampuan peluncuran lanjutan, termasuk misi berawak di masa depan.

Dalam lanjutan diskusi, pihak Rusia juga mendorong pembahasan lebih rinci terkait mekanisme implementasi, termasuk kemungkinan pembentukan usaha patungan (joint venture) sebagai model kerja sama.