INDUSTRY.co.id - Jakarta, Penguatan riset oseanografi menjadi fondasi penting bagi Indonesia dalam memahami dinamika laut sekaligus memperkuat upaya mitigasi bencana di kawasan pesisir. 

Sebagai negara kepulauan yang berada di wilayah tektonik aktif, Indonesia membutuhkan basis ilmiah yang kuat untuk mendukung pengelolaan sumber daya laut dan pembangunan ekonomi biru yang berkelanjutan.

Kepala Pusat Riset Oseanologi BRIN, M. Furqon Azis Ismail, mengatakan kompleksitas karakteristik laut Indonesia menuntut pengembangan riset yang mampu menjawab tantangan pengelolaan wilayah pesisir maupun kebencanaan.

"Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki dinamika laut yang sangat kompleks sekaligus menghadapi berbagai ancaman bencana pesisir, termasuk tsunami. Karena itu, riset oseanografi memiliki peran strategis dalam menghasilkan pengetahuan ilmiah yang mendukung pengelolaan laut, mitigasi bencana, dan pembangunan berkelanjutan," ujar Furqon saat membuka Oceanology Talk Series (OTS) #6 bertema Exploring Ocean Dynamics and Coastal Hazards, Rabu (1/7).

Menurutnya, penguatan riset perlu dibarengi dengan kolaborasi antarlembaga, akademisi, dan para pemangku kepentingan agar hasil penelitian mampu menjawab tantangan Indonesia sebagai negara maritim.

"Paparan mengenai dinamika Arus Lintas Indonesia maupun pendekatan probabilistik dalam penilaian bahaya tsunami menunjukkan bahwa riset oseanografi dan kebencanaan terus berkembang untuk mendukung pengambilan kebijakan berbasis sains," katanya.

Ia berharap diseminasi hasil penelitian dapat semakin memperkuat kolaborasi dan inovasi di bidang oseanologi, khususnya dalam mendukung mitigasi tsunami di kawasan pesisir.

Dalam forum tersebut, Peneliti Pusat Riset Oseanologi BRIN, Fuad Azminuddin, memaparkan hasil penelitian mengenai pengaruh pusaran arus laut berskala menengah (mesoscale eddies) terhadap dinamika Arus Lintas Indonesia (Indonesian Throughflow/ITF) di Laut Sulawesi.

Penelitian yang memanfaatkan model sirkulasi laut beresolusi tinggi dengan data harian periode 1993–2020 itu berhasil mengidentifikasi tiga pusaran arus utama yang bersifat persisten secara klimatologis, yakni satu anticyclonic eddy di bagian utara dan dua cyclonic eddies di bagian selatan Laut Sulawesi.

Hasil analisis menunjukkan bahwa penguatan cyclonic eddies menyebabkan aliran ITF menuju Selat Makassar melemah karena sebagian massa air berbelok ke Laut Maluku Utara. Sebaliknya, ketika anticyclonic eddy menguat, transport massa air dari Samudra Pasifik menuju perairan Indonesia justru meningkat.

"Temuan ini memperkuat pemahaman bahwa mesoscale eddies merupakan faktor penting yang perlu diperhitungkan dalam mempelajari variabilitas Arus Lintas Indonesia," ujar Fuad.

Ia menambahkan, pusaran arus tersebut juga berpotensi meningkatkan produktivitas primer melalui proses upwelling yang membawa nutrien dari lapisan laut dalam ke permukaan. 

Kondisi ini membuka peluang penelitian lanjutan mengenai keterkaitannya dengan produktivitas perairan serta potensi daerah penangkapan ikan di Laut Sulawesi, terutama pada Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 716.

Sementara itu, mahasiswa doktoral Tohoku University, Iqbal Ardiansyah, memperkenalkan pendekatan Time-dependent Probabilistic Tsunami Hazard Assessment (TD-PTHA) sebagai metode untuk meningkatkan akurasi penilaian bahaya tsunami di Indonesia.

Menurut Iqbal, posisi Indonesia di pertemuan tiga lempeng tektonik utama menjadikan wilayah ini memiliki tingkat risiko gempa bumi dan tsunami yang tinggi.

"Pendekatan ini memanfaatkan sejarah kejadian dan siklus perulangan gempa sehingga menghasilkan estimasi probabilitas bahaya tsunami yang lebih realistis dibandingkan metode konvensional," jelasnya.

Melalui studi kasus di Segmen Aceh-Andaman, penelitian tersebut menunjukkan bahwa tingkat bahaya tsunami meningkat ketika suatu wilayah mendekati periode ulang gempa besar. 

Pendekatan berbasis waktu dinilai mampu menghasilkan estimasi risiko yang lebih akurat sehingga dapat dimanfaatkan sebagai dasar penyusunan tata ruang kawasan pesisir, perencanaan infrastruktur, hingga penguatan sistem mitigasi dan evakuasi bencana di Indonesia.