INDUSTRY.co.id - Jakarta - DBS Foundation terus mempertegas komitmennya dalam membangun ekosistem wirausaha sosial (social enterprise) di Indonesia yang mampu menghadirkan solusi atas berbagai tantangan sosial.
Lewat dukungan pendanaan dan pengembangan bisnis, DBS Foundation membantu para pelaku usaha sosial memperluas dampak mereka, mulai dari peningkatan akses kesehatan, pemberdayaan penyandang disabilitas, hingga penguatan ekonomi petani kecil.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui dukungan kepada tiga penerima DBS Foundation Grant 2025, yakni KONEKIN Indonesia, DoctorTool, dan Java Fresh. Ketiganya menghadirkan inovasi yang berbeda, namun memiliki tujuan serupa, yaitu menciptakan perubahan sosial yang inklusif, berkelanjutan, dan berdampak luas.
Salah satu penerima hibah, KONEKIN Indonesia, berupaya membangun dunia kerja yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas. CEO KONEKIN Indonesia, Marthella Sirait, mengatakan tantangan terbesar selama ini bukan sekadar membuka lapangan pekerjaan, tetapi juga mengubah cara pandang masyarakat dan dunia usaha terhadap kemampuan penyandang disabilitas.
"Yang ingin kami bangun adalah pemahaman bahwa penyandang disabilitas diterima bekerja bukan karena belas kasihan, melainkan karena kompetensinya sesuai dengan kebutuhan pekerjaan," ujar Marthella.
Melalui dukungan DBS Foundation, KONEKIN mengembangkan platform berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang membantu penyandang disabilitas menyusun curriculum vitae (CV) yang kompatibel dengan sistem rekrutmen digital, mencari peluang kerja, hingga terhubung langsung dengan perusahaan.
Tak hanya itu, kapasitas pelatihan juga ditingkatkan dari sekitar 150 peserta menjadi 500 peserta. KONEKIN juga memperluas kolaborasi dengan kawasan industri untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja penyandang disabilitas, khususnya di sektor manufaktur.
Di sektor kesehatan, DoctorTool menghadirkan transformasi digital yang membantu klinik dan fasilitas kesehatan meningkatkan kualitas pelayanan, terutama di wilayah rural dan underserved.
Chief Commercial Officer DoctorTool, Elisa Yoshigoe Wijaya, menjelaskan bahwa perusahaannya telah melatih lebih dari 22.000 tenaga kesehatan yang tersebar di lebih dari 2.500 klinik dan fasilitas layanan kesehatan di Indonesia.
DoctorTool membantu tenaga medis menerapkan sistem digital, mulai dari rekam medis elektronik, sistem antrean pasien, hingga integrasi layanan farmasi.
Kini, melalui dukungan DBS Foundation, DoctorTool mengembangkan teknologi AI yang mampu membantu dokter dalam pengambilan keputusan klinis. Teknologi tersebut dapat merangkum riwayat kesehatan pasien, memberikan peringatan mengenai potensi risiko pengobatan, hingga menyusun dokumentasi medis secara otomatis.
"AI bukan untuk menggantikan dokter, tetapi membantu dokter agar lebih produktif dan memiliki lebih banyak waktu untuk berinteraksi dengan pasien," kata Elisa.
Pengembangan teknologi tersebut ditargetkan dapat memberikan manfaat kepada sekitar 1,9 juta masyarakat, khususnya peserta BPJS Kesehatan yang mengakses layanan kesehatan tingkat pertama.
Sementara itu, Java Fresh menunjukkan bagaimana bisnis dapat berkembang bersamaan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Perusahaan yang dipimpin oleh Margareta Astaman ini memberdayakan sekitar 3.000 petani kecil di Sumatra, Jawa, dan Bali untuk menghasilkan buah tropis berkualitas ekspor seperti manggis, salak, dan jeruk purut yang kini telah dipasarkan ke 25 negara.
Menurut Margareta, tantangan utama sektor hortikultura Indonesia bukan terletak pada jumlah produksi, melainkan kualitas hasil panen yang harus memenuhi standar pasar internasional.
"Kami melihat persoalannya bukan pada produksi, melainkan kualitas. Karena itu kami masuk ke tingkat petani untuk melakukan pendampingan budidaya, sertifikasi, hingga memperbaiki sistem perdagangan agar petani memperoleh nilai yang lebih baik," ujarnya.
Selain memberdayakan petani, Java Fresh juga membuka kesempatan kerja bagi perempuan di pedesaan melalui enam fasilitas pengemasan (packing house), yang sebagian besar pekerjanya merupakan perempuan dengan akses terbatas terhadap pekerjaan formal.
Melalui dukungan DBS Foundation, Java Fresh mengembangkan teknologi pascapanen untuk memperpanjang masa simpan buah segar sehingga dapat dikirim menggunakan kapal kontainer. Inovasi tersebut diharapkan mampu memperluas pasar ekspor sekaligus meningkatkan pendapatan petani dan pekerja perempuan.

Head of Group Strategic Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia, Mona Monika, mengatakan DBS menjalankan strategi keberlanjutan melalui tiga pilar utama, yaitu responsible banking, responsible business practices, dan impact beyond banking.
Menurutnya, pilar terakhir menjadi fondasi utama bagi DBS Foundation dalam menghadirkan dampak sosial yang lebih luas di luar layanan perbankan.
"Kami ingin menjadi best bank for a better world. Karena itu, melalui DBS Foundation kami berupaya menciptakan dampak positif yang melampaui layanan perbankan. Semakin banyak bisnis yang memberikan dampak sosial, semakin banyak pula solusi yang bisa ditawarkan untuk menjawab berbagai tantangan di masyarakat," kata Mona Monika.
Salah satu program unggulan DBS Foundation adalah Business for Impact, yaitu program hibah yang memberikan pendanaan hingga 250 ribu dolar Singapura bagi wirausaha sosial yang menawarkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.
Selain itu, DBS Foundation juga menjalankan program pemberdayaan masyarakat bersama organisasi nonpemerintah serta Impact Beyond Award, yang memberikan pendanaan lebih besar bagi inovasi yang menjawab tantangan masyarakat menua.
Sebagai bentuk komitmen jangka panjang, sejak 2024 DBS telah mengalokasikan tambahan dana sebesar 1 miliar dolar Singapura untuk DBS Foundation yang akan disalurkan selama 10 tahun ke depan di enam negara tempat DBS beroperasi, termasuk Indonesia.