INDUSTRY.co.id - Jakarta, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat upaya mewujudkan ketahanan pangan berkelanjutan melalui pengembangan pertanian sirkular di kawasan lingkar industri nikel. 

Salah satu langkah yang ditempuh adalah membangun model kemitraan berbasis deca-helix, yang mengintegrasikan pemerintah, dunia usaha, akademisi, lembaga riset, media, komunitas, hingga petani dan nelayan dalam satu ekosistem kolaboratif.

Inisiatif tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Inovasi Model Kemitraan Pengembangan Pertanian Sirkular untuk Ketahanan Pangan Berkelanjutan yang diselenggarakan di Desa Totobo, Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, Kamis (25/6).

Ketua Tim Peneliti BRIN, Jamal Bake, mengatakan forum ini dirancang untuk merumuskan model kemitraan yang mampu menjawab tantangan pembangunan pertanian di wilayah sekitar industri ekstraktif.

"Kita ingin melihat dimensi konseptual apa saja yang diperlukan untuk mewujudkan inovasi pertanian sirkular yang berkelanjutan di wilayah lingkar industri ekstraktif nikel," ujar Jamal.

Menurutnya, pendekatan deca-helix memungkinkan seluruh pemangku kepentingan berperan aktif dalam membangun sistem pertanian yang produktif sekaligus ramah lingkungan. 

Selain memperkuat produksi pangan, model ini juga mengedepankan pemanfaatan limbah organik sebagai sumber daya ekonomi baru.

FGD tersebut menghadirkan berbagai unsur pemerintah daerah, di antaranya BRIDA Kolaka, Dinas Pertanian, Dinas Peternakan dan Perkebunan, Dinas Lingkungan Hidup, Bappeda, pemerintah kecamatan, serta pemerintah desa.

Kepala BRIDA Kolaka, Suherman, menegaskan pemerintah daerah berkomitmen mendukung implementasi model tersebut melalui penyusunan regulasi dan perlindungan kawasan pertanian.

Dukungan juga datang dari sektor industri. PT Vale Indonesia Tbk menyatakan kesiapan memperkuat keberlanjutan rantai pasok melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), penyediaan teknologi pengolahan pupuk organik, pelatihan pemanfaatan limbah pertanian, hingga pendampingan bagi pelaku pertanian sirkular.

Ekosistem kolaborasi ini turut melibatkan Asosiasi Pertanian Organik Kolaka, komunitas pengelola sampah organik "Nampah" yang digagas generasi muda, serta komunitas budidaya maggot. 

Kehadiran mereka diharapkan mampu mengoptimalkan pengolahan limbah domestik menjadi input pertanian yang bernilai ekonomi sekaligus mendukung pemulihan lingkungan.

Melalui diskusi tersebut, para peserta menyepakati sejumlah luaran strategis, meliputi penyusunan blueprint kemitraan pertanian sirkular, penguatan komitmen riset berkelanjutan antara BRIN dan perguruan tinggi, penyusunan rekomendasi kebijakan untuk integrasi ekonomi sirkular dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) industri, serta pengembangan model pembiayaan hijau melalui kredit lunak dan optimalisasi Dana Desa melalui BUMDes.

Jamal berharap model kolaborasi yang dirancang mampu memperkuat kapasitas kelompok tani, gabungan kelompok tani, dan masyarakat nelayan sehingga tetap memiliki daya saing di tengah pesatnya perkembangan industri nikel.

"Langkah ini diharapkan mampu memproteksi mata pencaharian warga lokal dari kerentanan akibat ekspansi industri nikel, sekaligus mewujudkan ketahanan pangan yang mandiri dan berkelanjutan di Kabupaten Kolaka," pungkasnya.