INDUSTRY.co.id - Jakarta, Di tengah tantangan ekonomi dan pertumbuhan ritel offline yang masih melambat, aktivitas belanja online masyarakat Indonesia justru menunjukkan ketahanan yang kuat.
Laporan terbaru Admitad mengungkapkan jumlah transaksi e-commerce di Indonesia sepanjang Januari–Mei 2026 meningkat 18% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Tidak hanya frekuensi transaksi yang bertambah, nilai belanja masyarakat juga meningkat. Data yang dihimpun dari lebih dari 4 juta pesanan online selama periode 2025–2026 menunjukkan Gross Merchandise Value (GMV) tumbuh 21% secara tahunan.
Kenaikan GMV yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan jumlah pesanan mengindikasikan perubahan perilaku konsumen. Masyarakat Indonesia kini tidak sekadar lebih sering berbelanja secara daring, tetapi juga semakin nyaman melakukan transaksi bernilai lebih besar.
Hal itu tercermin dari Average Order Value (AOV) yang naik dari US$33 menjadi US$37 per transaksi. Pada saat yang sama, penggunaan perangkat seluler untuk berbelanja juga terus meningkat. Pangsa transaksi melalui smartphone naik dari 65% menjadi 69%, mempertegas posisi Indonesia sebagai salah satu pasar e-commerce yang sangat berorientasi pada mobile.
Barang Rumah Tangga Pimpin Transaksi
Marketplace tetap menjadi kanal utama perdagangan digital di Indonesia dengan kontribusi lebih dari 68% terhadap total pembelian online.
Menariknya, kategori Barang Rumah Tangga menjadi penyumbang transaksi terbesar dengan porsi 23%, mengungguli Fashion yang selama ini mendominasi banyak pasar global. Fashion berada di posisi kedua dengan 21%, disusul Elektronik sebesar 16%.
Layanan Pengiriman Makanan menempati posisi keempat dengan kontribusi 12%, mencerminkan kuatnya ekonomi makanan digital dan semakin mengakarnya kebiasaan masyarakat perkotaan memesan makanan secara online.
Kategori lainnya meliputi Perjalanan yang menyumbang lebih dari 9% transaksi, Olahraga dan Hiburan sebesar 7,6%, Kecantikan dan Perawatan Diri 7%, Mainan dan Hobi 6%, serta Otomotif, Suku Cadang, dan Aksesori sebesar 5%.
Sektor perjalanan juga terus menunjukkan tren positif. Tiket pesawat, hotel, dan layanan sewa kendaraan menjadi kontributor utama, didorong oleh kebutuhan mobilitas antarpulau serta pertumbuhan sektor pariwisata nasional.
Rumah & Taman Tumbuh Paling Cepat
Dari sisi pertumbuhan kategori, Rumah dan Taman mencatat kinerja paling impresif dengan lonjakan 32% dibandingkan tahun lalu.
Tren tersebut menunjukkan meningkatnya minat masyarakat untuk berinvestasi pada kebutuhan hunian, dekorasi interior, hingga perbaikan rumah yang kini semakin mudah diakses melalui platform digital.
Sementara itu, kategori Perhiasan dan Aksesori tumbuh 24%, sebuah pencapaian yang menandakan semakin tingginya kepercayaan konsumen untuk membeli produk bernilai tinggi secara online.
Kategori Olahraga dan Hiburan juga mencatat pertumbuhan kuat sebesar 19%, sejalan dengan meningkatnya minat generasi muda terhadap aktivitas kebugaran, rekreasi, dan gaya hidup aktif.
Konten Jadi Faktor Terbesar dalam Keputusan Belanja
Laporan tersebut juga mengungkap bahwa konten digital memainkan peran penting dalam perjalanan konsumen sebelum melakukan pembelian.
Artikel, video, dan berbagai bentuk konten editorial memengaruhi lebih dari 25% transaksi online. Selain itu, lebih dari 10% konsumen mengaku terdorong untuk berbelanja setelah melihat rekomendasi influencer maupun percakapan di media sosial.
Di sisi lain, iklan dalam aplikasi seluler berkontribusi terhadap lebih dari 18% penjualan, menunjukkan efektivitas strategi pemasaran berbasis mobile di pasar yang didominasi pengguna smartphone.
Model pemasaran berbasis afiliasi juga terus berkembang. Platform agregator penawaran menyumbang sekitar 15% transaksi, sementara program cashback memengaruhi 13% pembelian dan promo kode atau kupon berkontribusi terhadap 9% transaksi.
Pemasaran Afiliasi Kian Dilirik Merek Lokal
Indonesia juga menjadi salah satu pasar dengan pertumbuhan pemasaran afiliasi tercepat di dunia. Sepanjang tahun terakhir, jumlah merek lokal yang mengadopsi strategi ini meningkat 15%, lebih dari dua kali lipat pertumbuhan yang tercatat di sejumlah pasar sejenis.
Perkembangan tersebut berdampak langsung pada para publisher dan mitra afiliasi. Pendapatan mereka meningkat 20% selama Januari–Mei 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kombinasi bertambahnya jumlah merek yang berinvestasi dan meningkatnya pendapatan publisher menunjukkan bahwa pemasaran afiliasi telah berkembang menjadi salah satu instrumen penting dalam strategi pemasaran digital di Indonesia.
“Sektor e-commerce Indonesia jelas termasuk yang paling dinamis di dunia. Basis konsumen yang mengutamakan perangkat seluler, budaya sosial online yang tinggi, dan daya beli yang terus meningkat menjadi faktor utama yang membuat pasar Indonesia begitu istimewa,” kata Neha Kulwal dari Mitgo APAC.
Menurutnya, data menunjukkan bahwa merek yang berinvestasi pada kanal berbasis konten dan strategi pemasaran berbasis kinerja seperti afiliasi, cashback, dan kolaborasi dengan influencer memperoleh tingkat pengembalian investasi yang paling tinggi.
“Indonesia sangat mengutamakan relevansi, kepercayaan, dan penyampaian pesan yang tepat kepada audiens yang tepat pada waktu yang tepat,” ujar Neha.