INDUSTRY.co.id - Jakarta, Pada Selasa, 13 Mei 2026, suasana hangat menyambut rombongan media dalam agenda “Press Touring Kurban Series 1447 H” yang digelar Dompet Dhuafa di Desa Tolokan, Getasan, Kabupaten Semarang. Kehadiran para jurnalis disambut langsung oleh Heri selaku tuan rumah, Kepala Desa Tolokan Dwi Wahono, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jawa Tengah Zaini Tafrikhan, dokter hewan Hermanto, serta Dwi, salah satu peternak penerima manfaat program.

Dalam kesempatan itu, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jawa Tengah, Zaini Tafrikhan, memaparkan bahwa Program Jantara (Jejaring Tani Ternak) hadir sebagai ikhtiar pemberdayaan peternak rakyat agar memiliki kepastian pasar dan pengembangan usaha yang berkelanjutan.

“Kenapa? Di Dompet Dhuafa ekosistemnya sudah terbentuk. Ekosistem apa? Jadi setiap tahun kita sudah punya momentumnya Idul Adha,” ujar Zaini.

Menurutnya, momentum kurban menjadi penggerak utama rantai ekonomi peternakan. Tahun ini Dompet Dhuafa menargetkan distribusi 46 ribu ekor domba ke berbagai wilayah di Indonesia hingga luar negeri. Sementara untuk Jawa Tengah sendiri mendapat alokasi sekitar 1.580 ekor domba.

“Kalau targetnya di wilayah kami sendiri, total berarti kurang lebih 2000 ekor domba. Jadi kami masih bagian terkecil untuk serapan yang ada di wilayah Jawa Tengah,” ujarnya.

Zaini menambahkan, program kurban tidak hanya berorientasi pada distribusi hewan, tetapi juga menjadi peluang peningkatan kesejahteraan peternak lokal.

“Kalau kemudian setiap tahun punya domba, maka ada opsi mereka bisa bekerja sama dengan Dompet Dhuafa,” ujarnya.

Melalui pendekatan pemberdayaan berbasis Jantara, Dompet Dhuafa Jawa Tengah menempatkan peternak bukan sekadar penerima manfaat, melainkan pelaku utama dalam pengembangan usaha ternak. Program ini tidak berhenti pada pemberian bibit ternak, tetapi juga mencakup pendampingan intensif dari dokter hewan yang disiapkan Dompet Dhuafa.

Pendampingan tersebut meliputi pengelolaan kandang, pola pemberian pakan, pemeriksaan kesehatan hewan, hingga strategi pemasaran agar peternak tidak lagi bergantung pada tengkulak.

Dokter hewan Harmanto menjelaskan bahwa kondisi hewan ternak di Desa Tolokan secara umum berada dalam keadaan baik. Meski demikian, ia mengingatkan peternak agar tetap waspada terhadap berbagai penyakit yang rentan muncul setelah perpindahan ternak jarak jauh, seperti PMK, scabies, cacar mulut, dan pink eye.

Dalam sesi kunjungan itu, Harmanto juga menunjukkan kondisi gigi salah satu domba kepada wartawan sebagai bagian dari edukasi pemeriksaan kesehatan hewan ternak.

Sementara itu, Kepala Desa Tolokan Dwi Wahono menyampaikan apresiasinya terhadap program pendampingan yang dijalankan Dompet Dhuafa.

“Selama ini warga kami masih beternak secara tradisional. Dengan pendampingan dari Dompet Dhuafa dan dokter hewan, masyarakat jadi memahami cara beternak yang lebih modern dan sehat. Pertumbuhan ternaknya juga sangat bagus,” ungkapnya.

Ia menilai Program Jantara mampu membuka wawasan peternak desa agar lebih siap menghadapi kebutuhan pasar sekaligus meningkatkan kualitas budidaya ternak masyarakat.

“Program Jantara dibentuk agar petani atau peternak dapat membentuk ekosistem tani ternak yang terhubung, berkekuatan, berdaya saing dan mampu membawa kesejahteraan peternak rakyat naik kelas,” ujar Kepala Desa Tolokan, Dwi Wahono kepada awak media di Desa Tolokan, Getasan, Kabupaten Semarang.

Ke depan, Jantara diharapkan mampu memperkuat rantai pasok hewan ternak secara berkesinambungan sekaligus menjadi salah satu penopang utama penyediaan ternak berkualitas dari peternak binaan.

Program ini juga akan terus dikembangkan melalui pendampingan rutin, pelatihan lanjutan, serta integrasi dengan berbagai program pemberdayaan lainnya. Dengan semangat kolaborasi dan kemandirian, Dompet Dhuafa Jawa Tengah optimistis Jantara dapat menjadi langkah nyata dalam membangun peternakan rakyat yang lebih berdaya, berkelanjutan, dan memberi manfaat luas bagi masyarakat.