INDUSTRY.co.id - ACEH — PT Jakarta International Container Terminal (JICT) mempercepat pemulihan masyarakat terdampak banjir bandang dan longsor di Aceh dan Sumatera Utara dengan membangun fasilitas air bersih dan sanitasi di sejumlah wilayah terdampak.

Program bantuan tersebut menyasar sejumlah desa terpencil di wilayah Tapanuli Selatan, Gayo Lues, hingga Aceh Timur. Infrastruktur yang dibangun meliputi fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK), sumur bor, sumur cincin, serta sistem pipanisasi air bersih untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat dapat kembali terpenuhi pascabencana.

Langkah ini dilakukan JICT sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan, sekaligus memperkuat dukungan terhadap masyarakat di wilayah dengan keterbatasan akses layanan dasar.

Direktur Administrasi JICT Henry Naldi mengatakan akses terhadap air bersih dan sanitasi menjadi kebutuhan mendesak dalam fase pemulihan, terutama untuk menjaga kesehatan masyarakat dan mendukung aktivitas harian warga.

“Fokus kami adalah memastikan masyarakat dapat kembali mengakses kebutuhan dasar seperti air bersih dan sanitasi, yang menjadi fondasi utama pemulihan kesehatan dan aktivitas sehari-hari pascabencana,” ujar Henry di Aceh, Jumat (8/5).

Dalam memastikan bantuan berjalan efektif, jajaran direksi JICT turun langsung ke lapangan selama lima hari. Henry bersama Direktur Human Resources JICT Sandhy Wijaya meninjau sejumlah titik terdampak dengan menempuh jalur darat dan udara, termasuk menggunakan pesawat perintis untuk menjangkau wilayah terpencil.

Kehadiran langsung manajemen di lokasi terdampak dinilai penting untuk memetakan kebutuhan riil masyarakat dan memastikan bantuan yang diberikan tepat sasaran.

Di Garoga, Tapanuli Selatan, JICT memprioritaskan pembangunan fasilitas MCK serta sarana pendukung tempat ibadah yang menjadi pusat aktivitas sosial masyarakat. Sementara di Blangkejeren dan Penomon, Gayo Lues, perusahaan membangun sumur bor, sumur cincin, serta jaringan distribusi air bersih untuk menjamin pasokan air dalam jangka panjang.

Adapun di Aceh Timur, fokus bantuan diarahkan pada pembangunan fasilitas sanitasi guna mendukung kesehatan lingkungan warga yang terdampak.

JICT mengakui distribusi bantuan di sejumlah lokasi menghadapi tantangan geografis dan keterbatasan infrastruktur pascabencana. Karena itu, kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi elemen penting dalam memastikan keberhasilan program.

Pelaksanaan bantuan ini melibatkan Palang Merah Indonesia pusat dan daerah, pemerintah kabupaten setempat, serta jaringan relawan lokal untuk mempercepat proses pemulihan sekaligus memastikan fasilitas yang dibangun dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Henry menegaskan pemulihan pascabencana membutuhkan pendekatan yang lebih dari sekadar bantuan darurat. Infrastruktur dasar yang berkelanjutan dinilai menjadi kunci untuk membangun kembali kehidupan masyarakat terdampak.

“Pemulihan wilayah terdampak bencana tidak hanya membutuhkan bantuan jangka pendek, tetapi juga dukungan infrastruktur dasar yang dapat digunakan secara berkelanjutan oleh masyarakat,” kata Henry.

Sebagai operator terminal peti kemas yang menjadi bagian dari rantai logistik nasional, JICT menyatakan akan terus memperluas program bantuan sosial dengan orientasi jangka panjang, khususnya bagi masyarakat di wilayah yang masih menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan dasar.