INDUSTRY.co.id - Jakarta, Kinerja Astra International (ASII) pada kuartal pertama 2026 membuka tahun dengan nada yang cenderung tertahan. Laba bersih tercatat sebesar Rp5,85 triliun—terkoreksi 16% secara tahunan dan 29% secara kuartalan—serta baru memenuhi sekitar 18% dari ekspektasi konsensus tahun penuh 2026.

Meskipun terdapat potensi pemulihan di kuartal-kuartal berikutnya, terutama seiring kembalinya operasional tambang emas Martabe, jalan menuju pencapaian target tahunan tampaknya masih menuntut akselerasi kinerja yang tidak ringan.

Sumber tekanan utama berasal dari lini usaha di bawah United Tractors (UNTR), khususnya segmen alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi. Penurunan tajam volume penjualan emas hingga 93% YoY, ditambah beban non-recurring sebesar Rp723 miliar terkait perizinan dan pajak lainnya, menyebabkan laba bersih segmen ini tergerus hingga 79% YoY—menjadi faktor dominan yang menekan kinerja konsolidasi.

Namun demikian, lanskap kinerja ASII tidak sepenuhnya suram. Di luar UNTR, hampir seluruh lini bisnis menunjukkan resiliensi yang solid. Segmen otomotif dan mobilitas tumbuh 4% YoY, diikuti jasa keuangan (+6%), agribisnis (+35%), infrastruktur (+32%), teknologi informasi (+47%), serta properti yang mencatat lonjakan signifikan hingga 145% YoY. Diversifikasi ini berperan penting dalam meredam dampak negatif dari segmen pertambangan.