INDUSTRY.co.id - Jakarta, PT Singaraja Putra Tbk (SINI) berencana menggelar rights issue dengan menerbitkan hingga 721,5 juta saham baru, meskipun harga pelaksanaan dan rasio belum diumumkan secara resmi. Dalam keterbukaan informasi, perseroan mengasumsikan harga pelaksanaan di Rp5.000 per saham, yang berpotensi menghimpun dana hingga sekitar Rp3,6 triliun dengan dilusi maksimum mencapai 60%.
Dana hasil aksi korporasi ini akan digunakan untuk tiga tujuan utama, yaitu mengakuisisi PT Kemilau Mulia Sakti dari PT Petrosea Tbk (PTRO) senilai sekitar Rp1,7 triliun, melakukan pembayaran lebih awal atas utang perseroan, serta mendukung kebutuhan modal kerja. Rencana ini akan dimintakan persetujuan dalam RUPS yang dijadwalkan pada 26 Mei 2026.
PT Kemilau Mulia Sakti merupakan perusahaan holding yang memiliki tambang batu bara di Kalimantan Timur melalui PT Cristian Eka Pratama. Tambang ini memiliki cadangan (reserves) sekitar 72,9 juta ton dan sumber daya (resources) sekitar 134,5 juta ton, dengan sisa umur tambang diperkirakan mencapai 15 tahun. Batu bara yang dihasilkan tergolong berkalori rendah, dengan nilai kalor di kisaran 3.924–3.993 kcal/kg.
Namun demikian, dari sisi keuangan, PT Kemilau Mulia Sakti masih mencatatkan kinerja yang belum menguntungkan. Per akhir 2025, ekuitas perusahaan berada di sekitar Rp351,3 miliar, dengan akumulasi rugi yang meningkat dari Rp60 miliar pada 2024 menjadi Rp156 miliar pada 2025.
Dengan nilai transaksi Rp1,7 triliun, valuasi yang tersirat mencapai sekitar 4,9x price-to-book value (P/BV), sementara price-to-earnings (P/E) tidak dapat dihitung karena perusahaan masih merugi. Sebagai perbandingan, PTRO diperdagangkan pada kisaran P/BV 14,4x.
Rencana ini juga tidak terlepas dari dinamika kepemilikan saham SINI. Pengendali PTRO, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), sebelumnya telah menyatakan minat untuk mengakuisisi saham mayoritas SINI. Melalui anak usahanya, PT Kreasi Jasa Persada, CUAN saat ini telah mengantongi sekitar 19,74% saham SINI per Maret 2026, dan tengah bernegosiasi untuk meningkatkan kepemilikan menjadi minimal 51%.
Meski demikian, pada Januari 2026, SINI menyatakan bahwa proses akuisisi tersebut masih dalam tahap evaluasi awal dan uji tuntas, sehingga struktur dan timeline transaksi masih belum pasti.
Dari perspektif masing-masing entitas, transaksi ini membawa implikasi strategis yang berbeda.
Bagi SINI, rights issue ini berpotensi memperbaiki struktur permodalan secara signifikan. Dengan asumsi dana terkumpul sesuai proyeksi, ekuitas perseroan dapat berbalik dari negatif Rp687 miliar menjadi positif sekitar Rp1,5 triliun. Kondisi ini membuka peluang bagi SINI untuk keluar dari papan pemantauan khusus. Namun, keberhasilan transformasi ini akan sangat bergantung pada eksekusi operasional dan kemampuan menghasilkan kinerja dari aset tambang yang diakuisisi.
Di sisi lain, PTRO akan memperoleh tambahan kas dari divestasi, meskipun harus mencatatkan kerugian sekitar Rp100 miliar dari transaksi tersebut. Hal ini disebabkan total investasi PTRO di PT Kemilau Mulia Sakti yang mencapai sekitar Rp1,8 triliun, terdiri dari harga akuisisi awal dan tambahan modal. Meski demikian, pelepasan aset tambang ini sejalan dengan strategi PTRO untuk fokus pada bisnis jasa pertambangan dan memperkuat posisi sebagai perusahaan “pure-play services”.
Sementara itu, bagi CUAN, transaksi ini berpotensi mengurangi kebutuhan pendanaan untuk mengeksekusi rights issue SINI, mengingat sebagian dana akan kembali secara tidak langsung melalui kepemilikannya di PTRO. Selain itu, struktur bisnis grup menjadi lebih tersegmentasi, dengan PTRO sebagai entitas jasa pertambangan yang lebih stabil, dan SINI sebagai entitas tambang batu bara yang lebih ekspos terhadap pertumbuhan produksi dan fluktuasi harga komoditas. Pemisahan ini dinilai dapat meningkatkan visibilitas kinerja grup secara keseluruhan.
Secara keseluruhan, transaksi ini mencerminkan upaya restrukturisasi strategis dalam grup usaha CUAN. Namun, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko, terutama terkait kualitas aset yang diakuisisi, eksekusi operasional, serta ketidakpastian terkait struktur akhir kepemilikan dan pendanaan.