INDUSTRY.co.id - Jakarta - Jakarta resmi dinobatkan sebagai Kota Komuter Terbaik di Indonesia bagi pekerja hybrid tahun 2026 berdasarkan laporan terbaru Commuter Town Index yang dirilis oleh International Workplace Group (IWG).
Dalam indeks perdana tersebut, Jakarta unggul dibandingkan kota-kota besar lain seperti Bandung, Surabaya, Bali, hingga Yogyakarta dalam mendukung kebutuhan pekerja modern yang mengadopsi pola kerja fleksibel.
IWG merupakan platform penyedia solusi kerja terbesar di dunia yang menaungi brand global seperti Spaces dan Regus.
Berdasarkan hasil Commuter Town Index 2026, berikut lima kota terbaik bagi pekerja hybrid untuk tinggal:
1. Jakarta
2. Bandung
3. Surabaya
4. Bali
5. Yogyakarta
Indeks ini mengukur kemampuan kota dalam mendukung pekerja hybrid melalui berbagai faktor, mulai dari jaringan transportasi, fasilitas publik, akses ruang kerja fleksibel, hingga kualitas hidup secara keseluruhan.
Jakarta berhasil meraih posisi teratas berkat peningkatan jaringan transportasi yang signifikan, efisiensi mobilitas, serta kelengkapan fasilitas penunjang gaya hidup urban.
Kepadatan kafe, ruang rekreasi setelah jam kerja, serta budaya kota yang dinamis turut menjadi nilai tambah. Tak hanya itu, kecepatan Wi-Fi di Jakarta juga tercatat konsisten berada di atas rata-rata nasional, memperkuat posisinya sebagai ekosistem hybrid yang matang dan kompetitif.
IWG sendiri telah membuka 42 lokasi ruang kerja fleksibel di Jakarta, memperlihatkan tingginya permintaan terhadap model kerja yang lebih dekat dengan tempat tinggal.
Bandung menempati posisi kedua berkat tata kota yang padat namun nyaman, peningkatan layanan transportasi, serta penetrasi jaringan serat optik yang tinggi, khususnya di sektor teknologi. Biaya perumahan yang relatif lebih terjangkau dibanding Jakarta juga menjadi daya tarik tersendiri.
Sementara itu, Surabaya dan Bali dinilai memiliki keseimbangan antara konektivitas, fasilitas lokal, serta kualitas hidup yang baik, menjadikannya alternatif menarik bagi profesional yang menginginkan fleksibilitas.
Laporan terbaru IWG juga mengungkap perubahan signifikan dalam preferensi pekerja global:
* Hanya 4% pekerja yang bersedia menempuh perjalanan lebih dari satu jam setiap hari.
* 88% profesional menganggap kemampuan bekerja dekat rumah di ruang profesional sebagai faktor penting dalam memilih tempat tinggal.
* 75% Milenial dan 72% Generasi Z bersedia tinggal lebih jauh dari pusat kota asalkan tersedia ruang kerja fleksibel atau koneksi transportasi yang baik.
Data ini menunjukkan bahwa mobilitas pulang-pergi yang melelahkan semakin ditinggalkan. Pekerja kini memprioritaskan keseimbangan hidup, keterjangkauan, dan fleksibilitas.
Tidak hanya berdampak pada pola hunian, kerja hybrid juga terbukti meningkatkan kesejahteraan.
Secara global, 51% pekerja melaporkan peningkatan kesehatan dan kesejahteraan. Sebanyak 43% pekerja memiliki lebih banyak waktu bersama keluarga dan teman, dan 90% profesional mempertimbangkan pindah ke kota atau daerah lain demi kualitas hidup yang lebih baik.
Founder dan CEO IWG, Mark Dixon, menyatakan bahwa teknologi dan adopsi AI telah mengubah cara orang bekerja sekaligus menentukan tempat tinggal.
Menurutnya, kebiasaan bangun pagi dan menempuh perjalanan panjang ke pusat kota akan menjadi praktik masa lalu. Model kerja hybrid dinilai lebih ramah lingkungan, meningkatkan produktivitas, sekaligus mendukung kesejahteraan jangka panjang.
"Bekerja secara hybrid meningkatkan kualitas hidup kita. Dan hal itu juga membuat kita jauh lebih sejahtera," tutupnya.