INDUSTRY.co.id - Jakarta – Lonjakan harga plastik hingga 80 persen akibat gejolak global mulai menghantam pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pemerintah pun bergerak cepat menyiapkan langkah mitigasi untuk menjaga keberlangsungan usaha di tengah tekanan biaya produksi.

Advertisement

Menteri UMKM, Maman Abdurrahman mengatakan, kenaikan harga plastik dipicu oleh terganggunya pasokan bahan baku global, terutama imbas konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

“Sudah ada aspirasi yang masuk. Kebutuhan plastik untuk bungkus produk memang naik. Tapi kami akan siapkan mitigasinya,” kata Menteri Maman di Jakarta (6/4).

Advertisement

Menurutnya, Kementerian UMKM kini tengah berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk merumuskan langkah kongkret. Namun, detail kebijakan masih menunggu pembahasan teknis lebih lanjut.

Kenaikan harga plastik ini berdampak langsung pada UMKM, terutama yang bergantung pada kemasan plastik untuk produk mereka. Tanpa intervensi, kondisi ini berpotensi menekan margin usaha hingga mengganggu operasional.

Advertisement

Disisi lain, Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) menyebut lonjakan harga tidak lepas dari ketergantungan tinggi terhadap impor bahan baku. Saat ini, kebutuhan nafta nasional mencapai 3 juta ton per tahun dan seluruhnya masih impor.

Sementara itu, kebutuhan bahan baku plastik seperti PE, PP, PET, PS, dan PVC mencapai 8 juta ton per tahun, dengan sekitar 50 persen masih bergantung pada pasokan luar negeri.

Advertisement

Sekretaris Jenderal Inaplas, Fajar Budiono menegaskan bahwa kondisi ini membuat industri sangat rentan terhadap gangguan global. “Gangguan distribusi sedikit saja bisa langsung mempengaruhi rantai produksi,” katanya.

Sebagai langkah antisipasi, industri mulai melakukan diversifikasi bahan baku, termasuk memanfaatkan LPG sebagai alternatif dengan insentif nol persen bea masuk.

Tak hanya itu, pelaku industri juga membuka komunukasi dengan negara-negara baru seperti di Asia Tengah, Afrika, hingga Amerika untuk mengamankan pasokan. Namun, tantangan logistik menjadi kendala karena waktu pengiriman bisa mencapai 50 hari.

Situasi global yang tidak menentu membuat banyak negara berlomba mengamankan pasokan bahan baku. Hal ini semakin memperketat persaingan dan mendorong kenaikan harga di pasar internasional.

Dengan kondisi tersebut, sinergi antara pemerintah dan pelaku industri menjadi kunci untuk menjaga stabilitas pasokan sekaligus melindungi UMKM dari dampak lonjakan harga plastik yang kian membebani.