INDUSTRY.co.id - JAKARTA, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) telah menuntaskan empat agenda utama dalam penguatan transparansi pasar modal Indonesia.
Langkah ini merupakan bagian dari proposal yang diajukan kepada Global Index Providers, termasuk MSCI, serta bagian dari 8 Rencana Aksi Percepatan Reformasi Integritas Pasar Modal Indonesia yang telah dicanangkan sejak 1 Februari 2026.
Empat agenda utama tersebut meliputi penyediaan data kepemilikan saham di atas 1% kepada publik, implementasi pengumuman High Shareholding Concentration (HSC), penguatan granularitas klasifikasi investor dalam data KSEI, serta peningkatan batas minimum free float menjadi 15% melalui penyesuaian Peraturan BEI Nomor I-A.
Capaian ini mencerminkan komitmen berkelanjutan BEI dan KSEI dalam mendukung reformasi pasar modal Indonesia, khususnya dalam meningkatkan transparansi dan kualitas informasi. Upaya ini juga diharapkan dapat memperkuat kepercayaan investor, baik domestik maupun global.
Ke depan, implementasi reformasi transparansi pasar diharapkan mampu mendorong efisiensi pasar, meningkatkan perlindungan investor, serta memperkuat daya saing pasar modal Indonesia di tingkat global.
Agenda sosialisasi tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat dan pemangku kepentingan, antara lain Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Republik Indonesia Hasan Fawzi, Deputi Komisioner Perizinan dan Pengawas Pengelolaan Investasi Pasar Modal dan Lembaga Efek OJK Eddy Manindo Harahap, Pjs. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik, serta Direktur Utama KSEI Samsul Hidayat.
Selain itu, turut hadir pimpinan asosiasi di lingkungan pasar modal, seperti Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI), Asosiasi Emiten Indonesia (AEI), Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI), Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII), Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI), serta Perhimpunan Profesi Pasar Modal Indonesia (PROPAMI).
Sementara itu, data perdagangan saham di BEI selama sepekan menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Rata-rata frekuensi transaksi harian mengalami peningkatan sebesar 3,08% menjadi 1,78 juta kali transaksi, dibandingkan 1,73 juta kali transaksi pada pekan sebelumnya.
Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami perubahan sebesar 0,99% dan ditutup pada level 7.026,782 dari posisi 7.097,057 pada pekan sebelumnya. Kapitalisasi pasar BEI juga mengalami perubahan sebesar 1,69% menjadi Rp12.305 triliun dari Rp12.516 triliun.
Selain itu, rata-rata volume transaksi harian tercatat turun sebesar 8,62% menjadi 25,87 miliar lembar saham dari 28,31 miliar lembar saham pada pekan sebelumnya. Rata-rata nilai transaksi harian juga mengalami penurunan signifikan sebesar 36,69% menjadi Rp14,77 triliun dari Rp23,33 triliun.
Adapun investor asing pada hari ini mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp813,51 miliar. Sepanjang tahun 2026, investor asing telah mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp33,83 triliun.