INDUSTRY.co.id - Jakarta – PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) menutup tahun buku 2025 dengan kinerja keuangan yang solid. Perseroan mencatat lonjakan laba bersih, penguatan struktur modal, serta pertumbuhan aset dan pendanaan yang tetap terjaga di tengah strategi transformasi bisnis digital yang terus dijalankan.
Direktur Utama PT Bank Neo Commerce Tbk, Eri Budiono, mengatakan capaian sepanjang 2025 menjadi hasil dari transformasi bisnis yang dilakukan secara konsisten dengan fokus pada pertumbuhan berkualitas dan pengelolaan risiko yang disiplin.
“Tahun 2025 menjadi momentum penting bagi Bank Neo Commerce dalam memperkuat fundamental bisnis dan memastikan bahwa setiap langkah pertumbuhan yang kami lakukan tetap berada dalam koridor kehati-hatian. Kami berhasil mencatatkan peningkatan kinerja yang baik dengan tetap menjaga kualitas aset, meningkatkan efisiensi operasional, serta mengoptimalkan model bisnis digital yang kami miliki,” ujar Eri.
Sepanjang 2025, Bank Neo Commerce membukukan laba bersih sebesar Rp565,69 miliar. Angka ini melonjak 2.745 persen dibandingkan laba bersih tahun 2024 yang sebesar Rp19,88 miliar.
Menurut Eri, peningkatan profitabilitas tersebut mencerminkan konsistensi perusahaan dalam menjalankan transformasi bisnis secara terukur dan berkelanjutan.
“Kepercayaan nasabah yang terus meningkat menjadi motivasi bagi kami untuk terus menghadirkan layanan perbankan digital yang aman, andal, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Kami akan terus memperkuat fundamental bisnis, meningkatkan efisiensi operasional, serta menjaga disiplin dalam pengelolaan risiko dan menjaga tata kelola yang baik sebagai landasan utama dalam mendukung pertumbuhan jangka panjang,” katanya.
Dari sisi neraca, total aset BNC hingga Desember 2025 tercatat sebesar Rp18,97 triliun, tumbuh 8,99 persen secara tahunan dibandingkan Rp17,41 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp14,03 triliun atau meningkat 7,37 persen secara tahunan dari Rp13,06 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan dana tabungan menjadi Rp3,50 triliun dari Rp3,09 triliun, serta deposito yang tetap terjaga di level Rp9,86 triliun.
Kualitas aset juga tetap terkendali, tercermin dari rasio kredit bermasalah atau NPL Net yang berada di level 0,89 persen. Di sisi likuiditas, Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat 51,21 persen, sementara Liquidity Coverage Ratio (LCR) mencapai 614,93 persen.
Dari sisi efisiensi, rasio BOPO membaik signifikan menjadi 84,18 persen dibandingkan 99,34 persen pada tahun sebelumnya. Cost to Income Ratio (CIR) berada di level 31,33 persen, sedangkan Net Interest Margin (NIM) tercatat sebesar 14,39 persen.
Kinerja profitabilitas juga terlihat dari peningkatan Return on Assets (ROA) menjadi 3,11 persen dari sebelumnya 0,10 persen, serta Return on Equity (ROE) yang naik menjadi 15,13 persen dari 0,59 persen.
BNC juga memperkuat struktur permodalannya. Modal inti bank meningkat menjadi Rp4,03 triliun dari Rp3,32 triliun pada tahun sebelumnya. Sementara rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) naik signifikan menjadi 49,07 persen dari 35,30 persen.
Di tengah penguatan fundamental tersebut, saham BBYB resmi masuk sebagai salah satu anggota baru Indeks Economic 30 yang mulai berlaku pada 2 Maret 2026. Masuknya BBYB ke dalam indeks tersebut dinilai mencerminkan meningkatnya kepercayaan pasar terhadap prospek perseroan.
Memasuki 2026, BNC akan memfokuskan strategi pada penyaluran kredit berkualitas dan penguatan inovasi produk digital, termasuk peningkatan layanan pembiayaan untuk individu dan UMKM melalui aplikasi neobank.
“Memasuki tahun 2026, kami akan terus fokus pada pertumbuhan kredit yang berkualitas serta mengoptimalkan potensi bisnis melalui penguatan produk dan layanan perbankan digital untuk meningkatkan potensi fee based income,” ujar Eri.
Ia menambahkan, salah satu inisiatif strategis yang tengah disiapkan adalah peluncuran layanan Buy Now Pay Later (BNPL) yang direncanakan hadir pada pertengahan 2026.
“Salah satu inisiatif strategis yang tengah kami siapkan adalah peluncuran layanan Buy Now Pay Later (BNPL) dengan mitra yang direncanakan hadir pada pertengahan tahun 2026, sebagai bagian dari upaya kami dalam memperluas akses pembiayaan yang aman, terukur, dan relevan dengan kebutuhan nasabah,” tutupnya.