INDUSTRY.co.id - Jakarta - Kinerja sektor manufaktur Indonesia masih menunjukkan ketahanan di tengah berbagai tekanan. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melaporkan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Maret 2026 berada di level 51,86, yang berarti tetap berada di zona ekspansi.
Meski demikian, angka ini mengalami penurunan dibandingkan Februari 2026 yang mencapai 54,02, serta lebih rendah dari Maret 2025 sebesar 52,98. Penurunan ini menjadi sinyal perlambatan aktivitas industri, meskipun belum mengarah pada kontraksi secara keseluruhan.
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni menegaskan bahwa capaian di atas 50 menunjukkan industri pengolahan nonmigas masih tumbuh. Namun, laju ekspansi mulai melambat akibat sejumlah faktor.
“Industri tetap ekspansi, tetapi melambat dibanding bulan sebelumnya,” ujar Febri, Selasa (31/3).
Dari 23 subsektor yang dipantau, sebanyak 16 subsektor masih bertahan di zona ekspansi dan menyumbang sekitar 78,3% terhadap PDB industri pengolahan nonmigas. Industri kendaraan bermotor dan percetakan menjadi penyumbang kinerja terbaik.
Sebaliknya, tujuh subsektor mengalami kontraksi, termasuk industri minuman, tembakau, kayu, kimia, hingga komputer dan peralatan listrik.
Kemenperin menilai perlambatan ini dipengaruhi faktor musiman, terutama setelah periode Lebaran dan Imlek. Aktivitas produksi cenderung menurun seiring berakhirnya lonjakan permintaan saat hari besar.
Selain itu, tingginya stok barang di gudang membuat pelaku industri menahan produksi. Distribusi logistik yang sempat terhambat juga ikut menekan kinerja sektor ini.
Permintaan domestik yang melemah turut menjadi faktor tambahan. Meski begitu, sektor ekspor masih menunjukkan daya tahan dengan IKI sebesar 52,73, sementara pasar domestik berada di angka 50,54.
Di tengah dinamika global seperti krisis energi dan geopolitik Timur Tengah, dampaknya dinilai masih terbatas. Sektor kimia dan petrokimia menjadi yang paling terdampak, terutama karena ketergantungan pada bahan baku impor.
Secara keseluruhan, industri manufaktur Indonesia masih berada di jalur positif. Namun, perlambatan ini menjadi peringatan penting bagi pelaku industri untuk tetap adaptif menghadapi tekanan ekonomi dan dinamika global yang terus berkembang.
"Perlambatan ini mencerminkan adanya tekanan baik dari sisi permintaan global maupun domestik. Oleh karena itu, penguatan pasar dalam negeri menjadi sangat penting untuk menjaga momentum pertumbuhan industri nasional,” imbuhnya.
Dalam hal ini, Kemenperin terus mendorong berbagai langkah strategis untuk menjaga ketahanan sektor manufaktur, termasuk penguatan struktur industri, peningkatan utilisasi kapasitas produksi, serta optimalisasi pasar domestik sebagai penopang utama pertumbuhan.
“Kami optimistis industri manufaktur nasional tetap memiliki fundamental yang kuat. Dengan dukungan kebijakan yang tepat dan sinergi seluruh pemangku kepentingan, sektor industri akan terus menjadi motor penggerak utama perekonomian nasional,” tegas Febri.
Juru Bicara Kemenperin mengimbau kepada para pelaku industri untuk melakukan langkah-langkah efisiensi penggunaan energi dalam proses produksi maupun aktivitas pendukung industri secara terencana, di tengah dinamika dampak konflik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi pasokan dan harga energi global.
“Kami yakin industri dalam negeri mampu melakukan langkah efisiensi penggunaan energi tanpa mengurangi target produksi. Upaya ini dinilai penting agar kegiatan produksi tetap berjalan optimal, menjaga keberlanjutan operasional industri, meningkatkan daya saing industri serta meminimalkan potensi gangguan terhadap rantai pasok dan kinerja sektor manufaktur nasional,” ujarnya.
Selain itu, pelaku industri juga didorong untuk mampu menangkap peluang baru di tengah dinamika dan gejolak global saat ini, sebagai upaya pendalaman struktur industri dan memperkuat kemandirian industri nasional. Langkah tersebut dapat ditempuh melalui investasi baru pada industri yang menghasilkan produksi substitusi impor yang akan mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor pada industri intermediate dan industri hilir.
Selanjutnya, Kemenperin terus mengoptimalkan pemanfaatan pasar domestik sebagai penopang utama pertumbuhan industri nasional.
“Kami optimistis pelaku industri dalam negeri telah memiliki pengalaman dan daya tahan yang kuat dalam menghadapi berbagai krisis global sebelumnya, sehingga mampu beradaptasi dan tetap tumbuh secara berkelanjutan di tengah tantangan yang ada kedepan. Disetiap krisis ada celah dan kesempatan yang dapat dimanfaatkan industri dalam negeri untuk maju dan berkembang kedepan.,” tegas Febri.