INDUSTRY.co.id - Jakarta - PT Wismatata Eltrajaya (WEJ), perusahaan di bawah Wisma Group yang bergerak di bidang pemeliharaan, perbaikan, dan regenerasi transformator (power transformer), menegaskan bahwa keandalan kini menjadi faktor utama dalam pengelolaan aset kelistrikan. 

Di tengah meningkatnya kebutuhan listrik akibat pertumbuhan data center dan kecerdasan buatan (AI), perusahaan menilai pemeliharaan transformator tidak lagi bisa dilakukan dengan cara konvensional.
 
Pesan tersebut mengemuka dalam Seminar dan Mini Exhibition bertajuk "Keep Transformer Safety and Still Alive in a Good Performance" yang digelar dalam rangka perayaan HUT ke-39 WEJ di Cikarang, Jawa Barat, Kamis (16/7/2026).
 
Acara dihadiri pelaku industri ketenagalistrikan, mulai dari PT PLN (Persero), perusahaan manufaktur, penyedia teknologi, akademisi hingga praktisi. Seminar membahas lima topik utama, yakni transformator ramah lingkungan dengan Shell MIDEL, sistem monitoring online, proteksi kebakaran transformator, pengujian partial discharge, hingga teknologi On Load Tap Changer (OLTC).
 
Executive Vice President Manajemen Aset dan Sistem Manajemen Terintegrasi PT PLN (Persero), Tri Hardimasyar mengatakan, transformator merupakan aset vital yang menentukan keandalan pasokan listrik nasional.
 
"Trafo bukan sekadar peralatan listrik, tetapi aset penting yang menentukan keberlangsungan penyaluran energi listrik kepada pelanggan. Gangguan pada satu transformator dapat berdampak luas terhadap keandalan sistem, pelayanan pelanggan, hingga aktivitas ekonomi," ujar Tri.
 
Menurutnya, pengelolaan transformator kini harus beralih dari pendekatan breakdown maintenance maupun time-based maintenance menuju manajemen aset berbasis kondisi (condition-based maintenance) dan prediksi (predictive maintenance).
 
Ia juga mengapresiasi materi seminar yang membahas teknologi ester untuk meningkatkan keselamatan dan keberlanjutan lingkungan, monitoring online, sistem proteksi kebakaran, pengelolaan OLTC, hingga teknologi pengujian modern.
 
Direktur Utama PT Wismatata Eltrajaya, Tjahjadi Aquasa mengungkapkan, permintaan transformator global terus meningkat seiring berkembangnya pusat data dan penggunaan AI yang membutuhkan konsumsi listrik besar.
 
Mengacu pada data Reinhausen Indonesia (MR), waktu tunggu pembelian transformator baru kini mencapai empat tahun di Jerman dan sekitar tiga tahun di Korea Selatan karena kapasitas produksi yang penuh.
 
Karena itu, menurutnya, pemeliharaan transformator menjadi solusi paling efektif untuk memperpanjang usia pakai aset.
 
Data CIGRE menunjukkan sekitar 45% kegagalan transformator disebabkan kerusakan kumparan, 20% akibat OLTC, dan 15% berasal dari bushing. Bahkan, kenaikan suhu oli sebesar 12 derajat Celsius dapat memangkas umur transformator hingga 75%.
 
"Ke depan pertimbangan utama dalam memilih peralatan dan sistem bukan lagi harga, tetapi keandalan dan kemampuan bertahan terhadap berbagai gangguan. Not price, but proof," kata Tjahjadi.
 
Ia juga mengingatkan bahwa ancaman terhadap transformator kini tidak hanya berasal dari kerusakan teknis, tetapi juga serangan siber terhadap sistem kelistrikan.
 
Direktur PT Reinhausen Sistem Indonesia, Tommy Halim menjelaskan, transformator yang beroperasi selama 24 jam membutuhkan sistem pemantauan secara real-time.
 
Melalui sensor konvensional maupun sensor pintar seperti Dissolved Gas Analysis (DGA), operator dapat mendeteksi gejala kerusakan lebih awal sehingga tindakan pencegahan bisa dilakukan sebelum terjadi kegagalan.
 
Menurut Tommy, industri saat ini mulai meninggalkan pola pemeliharaan berdasarkan jadwal tetap menuju pemeliharaan berbasis kondisi.
 
"Paradigma pemeliharaan berubah dari berbasis waktu menjadi berbasis kondisi, bahkan menuju predictive intelligence, sehingga kegagalan dapat diprediksi sebelum benar-benar terjadi," ujarnya.
 
Engineer MR Indonesia, M. Wawan Supriyanto mengatakan, pengabaian pemeliharaan dapat menyebabkan kadar air dan karbon meningkat di dalam minyak transformator sehingga memicu kerusakan komponen hingga flashover.
 
Karena itu, teknologi OLTC berperan penting menjaga stabilitas operasi sekaligus memperpanjang usia pakai transformator.
 
Sementara itu, Business Development Manager East Asia Megger Denny Sepriawan menjelaskan bahwa pengujian partial discharge menjadi indikator paling awal untuk mendeteksi kerusakan isolasi.
 
Menurutnya, pengujian tersebut memungkinkan operator mengetahui potensi gangguan jauh sebelum transformator mengalami kegagalan total.
 
Di sisi lain, Product Applications Specialist Shell MIDEL Asia Pacific, Budi Wicaksono, memperkenalkan pelumas transformator Shell MIDEL yang diklaim memiliki ketahanan api lebih baik, lebih ramah lingkungan, meningkatkan performa transformator, sekaligus memberikan efisiensi investasi dalam jangka panjang.
 
Selain seminar, WEJ juga menghadirkan mini exhibition yang diikuti sejumlah perusahaan teknologi dan pendukung industri transformator, antara lain PT Shell Indonesia, PT Sinergi Semesta Pratama, PT Tunas Dielektrika Nusantara, PT Dunia Kimia Jaya, Reinhausen Indonesia, SERGI Energy, Jiangsu Tianrui Transformer Co. Ltd., Puretech, dan PT Bambang Djaja.