INDUSTRY.co.id - Permasalahan volume sampah yang terus meningkat dan membebani Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di berbagai wilayah Indonesia kini menemui titik terang. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) bersiap mengumumkan pemenang tender proyek strategis Waste to Energy (WTE) atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).

Proyek bernilai triliunan rupiah ini tidak hanya diyakini akan menjadi solusi definitif atas status darurat sampah nasional, tetapi juga menarik minat puluhan korporasi raksasa dari berbagai negara. Berikut adalah rincian informasi dan perkembangan terbaru mengenai proyek WTE Danantara.

Sebagai langkah awal, BPI Danantara telah menetapkan empat kota yang akan menjadi lokasi implementasi proyek PSEL tahap pertama. Keempat wilayah tersebut dipilih berdasarkan tingkat urgensi penanganan sampah dan kesiapan infrastruktur administratifnya:

  • Bekasi

  • Denpasar

  • Bogor

  • Yogyakarta

Implementasi teknologi mutakhir di keempat kota ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pemerintah daerah terhadap sistem open dumping .
Proses seleksi saat ini tengah memasuki fase akhir. CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani, dijadwalkan akan mengumumkan secara resmi konsorsium pemenang tender pada bulan Maret 2026.

Penilaian dilakukan secara komprehensif dengan mengacu pada regulasi, termasuk Perpres No. 109 Tahun 2025. Kriteria evaluasi utama bagi para calon pemenang meliputi:

  1. Kapasitas Teknikal: Pemahaman dan rekam jejak dalam mengeksekusi teknologi WTE dengan efisiensi tinggi (memiliki bobot penilaian terbesar).

  2. Kredibilitas Finansial: Kesiapan dan stabilitas ekonomi korporasi dalam mendanai mega proyek berkelanjutan.

  3. Manajemen Risiko: Rencana mitigasi risiko yang jelas, mencakup aspek korporasi, dampak lingkungan, dan sosial masyarakat.

Deretan Emiten BEI yang Terkena Sentimen Positif

Kewajiban dari Danantara agar investor asing menggandeng mitra lokal membuka peluang emas bagi perusahaan-perusahaan di dalam negeri. Efek domino dari mega proyek ini langsung dirasakan oleh sejumlah emiten, antara lain:

  1. PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI): Emiten infrastruktur energi ini tengah gencar melakukan diversifikasi ke portofolio hijau. Dengan kapabilitas mumpuni dalam penanganan material dan pengelolaan infrastruktur berskala besar, BIPI memiliki posisi strategis untuk masuk ke dalam rantai pasok infrastruktur pendukung atau logistik mega proyek PSEL ini.

  2. PT Mahkota Group Tbk (MHKI): Meski berakar pada industri agro (kelapa sawit), rekam jejak MHKI dalam mengelola limbah operasional menjadi energi terbarukan (seperti biogas power plant dari limbah sawit) menjadi modal yang sangat berharga. Pengalaman riil dalam konversi waste-to-energy ini menjadikan MHKI sebagai kandidat mitra lokal potensial yang memahami teknis pengelolaan limbah menjadi listrik.

  3. PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA): Sebagai emiten yang memang memiliki bisnis inti di sektor energi terbarukan dan rekam jejak pengolahan sampah lingkungan, OASA menjadi salah satu nama yang paling sering dikaitkan sebagai mitra strategis dalam konsorsium teknologi WTE.

  4. Sektor BUMN Karya (ADHI, PTPP, WIKA): Pembangunan fasilitas WTE berskala raksasa mutlak membutuhkan kontraktor Engineering, Procurement, and Construction (EPC) tingkat wahid. PT Adhi Karya Tbk (ADHI) dengan portofolio lingkungan hidupnya, bersama PT PP Tbk (PTPP) dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), diprediksi akan bersaing ketat memperebutkan kontrak konstruksi sipil bernilai triliunan ini.

  5. PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) & PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC): Kedua raksasa energi ini tengah agresif melakukan transisi dari energi fosil ke EBT. Kekuatan modal kapital yang solid membuat TOBA dan MEDC sangat potensial masuk sebagai penyedia porsi pendanaan ekuitas lokal (30%) yang disyaratkan oleh Danantara.

Proyek di empat kota awal ini merupakan bagian dari peta jalan (roadmap) jangka panjang BPI Danantara. Apabila tahap pertama berjalan sesuai target, Danantara memproyeksikan perluasan proyek serupa ke 33 lokasi di seluruh Indonesia.

Total estimasi investasi untuk keseluruhan ekspansi ini sangat luar biasa, yakni menembus angka Rp 91 triliun. Proses lelang gelombang kedua untuk sembilan kota berikutnya direncanakan akan segera dibuka pada bulan April 2026 mendatang.