INDUSTRY.co.id - Malang — Presiden Prabowo Subianto menegaskan swasembada pangan sebagai agenda strategis nasional yang harus diwujudkan dalam tiga tahun ke depan. Optimisme tersebut disampaikan Presiden saat menghadiri Mujahadah Kubro 1 Abad Nahdlatul Ulama di Malang, Jawa Timur, Minggu (8/2).
Presiden menekankan bahwa kedaulatan pangan merupakan fondasi utama bagi kemandirian bangsa. Pemerintah, menurutnya, tidak hanya fokus pada peningkatan produksi, tetapi juga memastikan tata kelola sektor pertanian berjalan adil dan berpihak kepada petani.
“Swasembada pangan adalah kunci kemerdekaan bangsa. Kita ingin petani sejahtera, produksi meningkat, dan rakyat mendapatkan pangan dengan harga terjangkau,” ujar Prabowo dalam sambutannya.
Salah satu langkah strategis pemerintah untuk mempercepat swasembada pangan adalah pembenahan tata kelola pupuk nasional. Presiden mengungkapkan, pemerintah telah mengambil alih kendali distribusi pupuk guna menjamin ketersediaan, pemerataan, serta keterjangkauan harga bagi petani di seluruh Indonesia.
“Begitu kita ambil alih pemerintahan, kita bisa menjamin pupuk sampai ke semua petani, dengan adil, dengan cukup, dan dengan harga yang kita turunkan,” tegas Presiden.
Langkah tersebut berdampak langsung pada peningkatan produksi pangan nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi beras Indonesia sepanjang Januari–Desember 2025 mencapai 34,69 juta ton, meningkat 13,29 persen dibandingkan tahun 2024.
Angka ini sejalan dengan proyeksi FAO dan USDA yang menempatkan produksi beras Indonesia di kisaran 34,6 juta ton, sekaligus menjadi yang tertinggi di kawasan ASEAN.
Peningkatan produksi beras turut memperkuat cadangan pangan nasional. Presiden Prabowo menyebut stok beras nasional saat ini berada pada level tertinggi sepanjang sejarah Republik Indonesia.
“Alhamdulillah, pertama kali dalam sejarah republik kita, cadangan beras di gudang-gudang kita adalah yang tertinggi,” ujar Prabowo.
Sepanjang 2025, stok beras Bulog tercatat mencapai 3,25 juta ton dan bahkan sempat menyentuh 4,2 juta ton pada Juni 2025. Memasuki awal 2026, total stok beras yang dikuasai pemerintah dan masyarakat mencapai 12,53 juta ton, meningkat 49,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Presiden Prabowo menegaskan Indonesia telah memasuki fase penting menuju swasembada pangan menyeluruh. Keberhasilan swasembada beras, menurutnya, menjadi pijakan untuk mewujudkan kemandirian komoditas pangan strategis lainnya.
“Sejak 31 Desember 2025 Indonesia sekarang swasembada beras. Insya Allah sebentar lagi swasembada jagung, dan dalam tiga tahun lagi kita akan swasembada pangan semuanya,” kata Presiden.
Data BPS menunjukkan produksi jagung pipilan kering kadar air 14 persen sepanjang 2025 mencapai 16,16 juta ton, naik 6,74 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara potensi produksi jagung pada Januari–Maret 2026 diproyeksikan mencapai 4,94 juta ton, meningkat 4,18 persen secara tahunan.
Selain peningkatan produksi, Presiden menegaskan tujuan utama pembangunan sektor pangan adalah menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat.
“Kita bertekad menurunkan harga pangan untuk seluruh rakyat Indonesia,” tegasnya.
Sejalan dengan arahan Presiden, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan Kementerian Pertanian akan terus memperkuat fondasi produksi pangan nasional dari hulu hingga hilir.
“Bapak Presiden memberikan arahan yang sangat jelas bahwa pangan adalah prioritas nasional. Kami memastikan seluruh kebijakan produksi, distribusi, hingga pendampingan petani berjalan sejalan agar swasembada pangan berkelanjutan dan manfaatnya dirasakan langsung oleh rakyat,” ujar Mentan Amran.