INDUSTRY.co.id - Jakarta — Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf/Bekraf) terus mendorong diplomasi budaya dan penguatan sinergi antarnegara melalui subsektor film, animasi, dan video. Komitmen tersebut ditunjukkan melalui kunjungan Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya ke lokasi syuting film Rose Pandanwangi, sebuah proyek co-production Indonesia, Filipina, Belanda, dan Prancis, di Gedung AA Maramis, Jakarta, Selasa (27/1/2026).

“Kementerian Ekraf siap mendukung film-film Indonesia yang dirancang dalam proses kreatif berkelanjutan. Kolaborasi lintas negara dari film Rose Pandanwangi dapat dipromosikan sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia dan memperkenalkan warisan seni serta sejarah ke pasar global,” ujar Menteri Ekraf Teuku Riefky.

Dalam kunjungan tersebut, Menteri Ekraf menyaksikan langsung proses kreatif film yang mengusung pendekatan historis artistik. Ia menekankan pentingnya penguatan storytelling, akurasi historis yang kreatif, serta strategi pemasaran yang masif untuk menjadikan film biopik sebagai kekuatan soft power Indonesia di panggung internasional.

“Kolaborasi lintas sektor untuk perfilman Indonesia harus berjalan sekaligus tetap terjaga ekosistemnya. Kami juga mendukung dari sisi perizinan untuk beberapa lokasi syuting sehingga bisa memudahkan proses produksi. Sebab karya film Rose Pandanwangi akan menjadi Intellectual Property (IP) yang tak sekadar mendokumentasikan visual audio dari penyanyi seriosa legendaris saja, tetapi memberi legitimasi dan cakupan luas untuk narasi sejarah bangsa,” imbuhnya.

Film Rose Pandanwangi digarap oleh Summerland Films, rumah produksi yang berdiri sejak 2017 dan dikenal mengangkat isu sosial. Sebelumnya, Summerland Films telah memproduksi Ave Maryam (2018), Jakarta vs Everybody (2020), dan Yohanna (2024). Chelsea Islan, Razka Robby Ertanto, dan Kristine de Leon bertindak sebagai produser, dengan Razka Robby Ertanto juga merangkap sebagai sutradara.

Film ini mengangkat kisah Rose Pandanwangi, penyanyi seriosa pertama Indonesia, sebagai ikon musik dan kebanggaan kultural, sekaligus menyoroti relasi personalnya dengan pelukis S. Sudjojono. Latar waktu film mencakup era 1950–1969, masa kejayaan musik seriosa Indonesia di kancah internasional.

“Kami ingin memvisualkan sejarah yang terjadi era tahun 1950-1969, yang mana sosok Rose Pandanwangi menjadi penyanyi legend seriosa dengan banyak menerima penghargaan festival internasional biar generasi sekarang tahu dan kenal lebih dekat bahwa musik seriosa pernah berjaya pada masanya. Saat ini, kami sudah masuk tahap produksi hari ke-10 yang rencananya sampai tanggal 31 Januari syuting di Indonesia baru setelah itu ke Eropa,” ungkap Razka.

Lokasi syuting meliputi Gedung AA Maramis, Museum Nasional, Kota Tua, Ancol, serta Istana Kepresidenan Bogor dan Semarang. Film Rose Pandanwangi juga terpilih dalam JAFF Future Project serta telah diperkenalkan di Festival Film Cannes 2025 untuk membuka akses investor global.

“Harapan bagi Film Rose Pandanwangi tentu bisa diterima dengan baik sebagai satu karya yang utuh dan tentu membanggakan Indonesia sehingga bisa dinikmati banyak orang. Kami sangat senang sekali mendapat kunjungan dari tim Kementerian Ekraf yang banyak membantu berinteraksi dan memberi support sehingga film Rose Pandanwangi bisa keliling ke festival-festival film hingga mendapat tempat rilis di layar bioskop Indonesia nanti,” tutup Razka.