INDUSTRY.co.id - Bandung - PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) memastikan bahwa aktivitas ekspor kendaraan ke negara Amerika Latin, khususnya Venezuela masih berjalan normal.
Presiden Direktur TMMIN, Nandi Julyanto menyebutkan bahwa hingga saat ini, komunikasi dengan mitra dan otoritas di Venezuela masih berjalan dengan sangat baik dan normal.
"So far, kemarin kita sudah komunikasi dengan mereka (mitra dan otoritas) Venezuela. Everything is okay. So far si oke," kata Nandi di Bandung (8/1).
Hingga saat ini, menurut Nandi, tidak ada hambatan yang signifikan terkait gangguan kelangsungan ekspor kendaraan Toyota dari Indonesia ke Venezuela. "Tidak ada hambatan, semua berjalan normal," jelasnya.
Dikesempatan yang sama, Wakil Presiden Direktur TMMIN, Bob Azam menyebut, di tengah dinamika geopolitik yang kian memanas, Indonesia justru menunjukkan ketangguhannya sebagai basis produksi dan ekspor kendaraa dunia.
Seperti yang sudah diketahui, hingga saat ini sejumlah model Toyota produksi dalam negeri seperti Yaris, Yaris Cross, dan model middle-low segment lainnya yang telah diekspor ke Venezuela.
"Kawasan Amerika Latin menjadi pasar strategis bagi kendaraan segmen kecil dan menengah bawah. Segmen ini justru yang akan mengalami lonjakan permintaan dalam beberapa tahun ke depan," jelas Bob Azam.
Menurutnya, model kendaraan kompak seperti Yaris dan Yaris Cross sangat sesuai dengan karakter pasar negara berkembang, baik dari sisi harga yang terjangkau, efisiensi bahan bakar, maupun mobilitas masyarakat yang terus bertumbuh.
Meski demikian, Bob mengakui bahwa ketegangan geopolitik memang berpotensi memicu kenaikan biaya logistik dan gangguan rantai pasok internasional.
"Ya, yang harus kita waspadai terkait cost logistik. Biasanya, kalau ada gejolak dunia biaya logsitik juga pasti akan naik," jelas Bob Azam.
Pasalnya, industri otomotif global saat ini sangat bergantung pada rantai pasok lintas negara, terutama untuk material strategis seperti baterai dan komponen kendaraan elektrifikasi.
"Ya, tentunya kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga logistik sekaligus harga produk," tutupnya.