INDUSTRY.co.id - Jakarta , Sebagai bagian dari agenda besar Transformasi Pengembangan Kompetensi SDM di Era Digital, Badan Karantina Indonesia menggelar Peluncuran Lentera-Q dan LSP P2 Barantin yang berlangsung di Aston Pririty TB Simatupang, Senin (8/12).

Advertisement

Kegiatan yang dihadiri seluruh UPT Badan Karantina Indonesia ini merupakan tonggak penting dalam penguatan ekosistem pembelajaran modern berbasis teknologi.

PPSDM Karantina secara resmi memperkenalkan Learning Management System LMS Lentera-Q, Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) P2 Badan Karantina Indonesia, serta melaksanakan sosialisasi arah kebijakan transformasi pengembangan SDM. Inisiatif ini merupakan manifestasi dari Program Prioritas Barantin yang menekankan tiga pilar, digital learning, sertifikasi kompetensi, dan pengembangan SDM berkelanjutan.

Advertisement

Transformasi SDM Barantin dibangun melalui budaya belajar yang memanfaatkan media pembelajaran digital yang fleksibel, mudah diakses, dan inklusif. Saat ini, akses LMS masih diperuntukkan bagi ASN Barantin, namun ke depan akan diperluas untuk publik yang memiliki ketertarikan pada bidang perkarantinaan.

Sebagai organisasi yang baru berusia dua tahun, Barantin menunjukkan komitmen kuat untuk membangun ekosistem pembelajaran modern berbasis teknologi, guna menjaga relevansi dan kualitas kompetensi SDM di tengah tantangan global.

Advertisement

Pemanfaatan Lentera-Q oleh 1.371 Pengguna Aktif

Portal pembelajaran Lentera-Q telah dimanfaatkan secara luas dalam berbagai program pelatihan dan uji kompetensi. Pada pelatihan dasar CPNS 2025, total 512 peserta menggunakan platform ini, terdiri dari:

Advertisement

• 200 peserta full distance learning

• 40 peserta blended learning

• 272 peserta blended learning bekerja sama dengan Kementerian Pertanian

Selain itu, platform ini juga digunakan dalam uji kompetensi Pejabat Fungsional Karantina dengan total 678 peserta, meliputi: 254 PF Karantina Hewan, 221 PF Karantina Ikan, 203 PF Karantina Tumbuhan.

Secara keseluruhan, pengguna aktif Lentera-Q telah mencapai 1.371 orang.

Sejak memperoleh lisensi pada 20 Oktober 2025, LSP P2 Barantin telah melaksanakan uji kompetensi perdana bagi 51 peserta yang disaksikan langsung oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Skema uji kompetensi mencakup:

• Penanggung jawab instalasi karantina hewan

• Fumigator fosfin

• Pengambil contoh pangan, non-pangan, benih, dan spesimen

Pelaksanaan ini mempertegas keseriusan Barantin dalam memastikan standar kompetensi yang terukur, kredibel, dan diakui secara nasional maupun internasional.

Disamping itu, PPSDM Karantina juga memperoleh sertifikat akreditasi penyelenggara pelatihan dari Lembaga Administrasi Negara (LAN). Akreditasi ini membuktikan pemenuhan standar nasional dalam penyelenggaraan pelatihan, sekaligus memberikan kewenangan bagi PPSDM untuk menerbitkan sertifikat pelatihan bagi SATKER atau UPT lingkup Barantin yang melakukan bimbingan teknis.

Syamsi Hari selaku Kepala BNSP menekankan bahwa sertifikasi kompetensi menjadi instrumen penting dalam menghadapi lonjakan jumlah angkatan kerja Indonesia pada 2036–2045.

“Sertifikasi kompetensi berfokus pada profesi dan SDM. Dengan meningkatnya jumlah angkatan kerja di tahun-tahun mendatang, LSP memegang peran penting dalam mempersiapkan generasi kompeten yang mampu bersaing menghadapi megatrend global,” ujarnya.

Ia menambahkan, “Kami telah menerbitkan lisensi bagi 2.458 LSP dengan lebih dari 80.000 asesor. Sertifikasi kompetensi kini diakui secara internasional, bahkan menjadi bagian dari proses hukum, ketenagakerjaan, hingga persyaratan tenaga kerja asing di beberapa negara.”

Syamsi Hari juga mengingatkan pentingnya integritas dalam proses asesmen. “Asesor harus menjaga integritas dan kualitas hasil asesmen. Kewenangan asesor sangat besar pengaruhnya terhadap profesi seseorang dan kredibilitas LSP. Sertifikasi kompetensi adalah hak tenaga kerja, dan LSP wajib menyelenggarakannya secara adil dan bertanggung jawab.”

Barantin Menuju Lembaga Karantina Bertaraf Global

Kepala Badan Karantina Indonesia, Dr. Sahat M. Panggabean, memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dan menegaskan bahwa penguatan SDM merupakan program utama Barantin.

“Kompetensi adalah fondasi dari tagline Karantina: KUAT — Kompeten, Unggul, Amanah, dan Tangguh. SDM Karantina harus mencapai level setara negara maju agar mampu menghadapi tantangan global, termasuk keberatan atau ‘challenge’ dari negara mitra terkait hasil pemeriksaan karantina,” tegasnya.

Dr. Sahat juga menekankan pentingnya modernisasi layanan. “Kita harus memperkuat SDM, membangun sistem digital layanan karantina, dan meningkatkan laboratorium berstandar internasional. Karantina Indonesia bukan hanya pelaksana tindakan teknis, tetapi tools strategis negara dalam isu perdagangan internasional dan ketahanan non-militer.”

Dr. Sahat optimistis bahwa dalam 2–3 tahun ke depan, SDM Karantina dapat memenuhi standar global dan menjadikan Barantin sebagai lembaga yang modern, kuat, dan berdaya saing tinggi.

"Saya ingin 2-3 tahun lagi dari sekarang, Barantin bisa dibanggakan, levelnya sama dengan negara-negara maju lainnya. Kita harus bisa menunjukkan bahwa kita lebih hebat," tutupnya.

Peluncuran Lentera-Q dan LSP P2 Barantin menjadi simbol komitmen kuat Badan Karantina Indonesia dalam membangun SDM unggul melalui teknologi, sertifikasi berstandar nasional, dan ekosistem pembelajaran berkelanjutan. Transformasi ini meneguhkan peran Barantin sebagai garda depan keamanan hayati serta pilar strategis dalam mendukung daya saing ekonomi nasional menuju Indonesia Maju 2030.