INDUSTRY.co.id - Jakarta — Forum pemasaran MMA IMPACT Indonesia 2025 resmi digelar dengan mengusung tema “Powering Marketing for Growth: Act, Accelerate, and Advance”.
Acara ini mempertemukan para Ketua Dewan, eksekutif C-level, direktur utama, pemilik bisnis, hingga pendiri startup dalam satu panggung strategis untuk membahas masa depan pemasaran digital Indonesia.
Melalui rangkaian keynote session, fireside chat, dan diskusi panel, forum ini menegaskan komitmen Marketing + Media Alliance (MMA) untuk memberdayakan pemasar dengan kerangka kerja berbasis bukti, pengembangan teknologi, serta kolaborasi lintas industri guna mendorong pertumbuhan berkelanjutan.
Dalam momentum percepatan digital yang terjadi di Indonesia, MMA IMPACT 2025 menyoroti tantangan baru yang dihadapi pemasar modern, mulai dari kebangkitan Agentic AI, pemanfaatan big data, evolusi social marketing, hingga tuntutan inovasi pada organisasi pemasaran agar tetap lincah dan kompetitif menuju 2026.
Ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai USD 210–360 miliar pada 2030, didorong oleh pesatnya perkembangan fintech, adopsi AI canggih, layanan cloud, hingga implementasi kerangka strategis pemerintah seperti Digital Economy Framework Agreement.
Salah satu pendorong pertumbuhan terbesar berasal dari sektor e-commerce dan layanan keuangan digital. Nilai transaksi melalui pembayaran real-time dan dompet digital bahkan diperkirakan dapat melonjak hingga USD 760 miliar pada 2030.
Lintasan pertumbuhan e-commerce Indonesia menunjukkan proyeksi melampaui USD 194 miliar pada 2030, dipicu oleh pemasaran berbasis AI, pengalaman ritel omnichannel, dan semakin dominannya ekonomi kreator.
Generasi Z dan Milenial menjadi penggerak utamanya, dengan perkiraan kontribusi 85–90 persen terhadap transaksi e-commerce digital. Tren mobile-first dan kenaikan penetrasi internet nasional menuju 80% kian memperkuat dinamika pasar digital Indonesia.
Ketua MMA Indonesia, Sutanto Hartono, menegaskan perubahan mendasar pada mandat pemasaran yang kini tak lagi hanya membangun kesadaran, melainkan menghasilkan pertumbuhan terukur.
“Kepemimpinan pemasaran Indonesia harus mengintegrasikan visi strategis dengan Agentic AI dan pengalaman pelanggan yang emosional,” ujar Sutanto.
“Kita memasuki era di mana setiap keputusan pemasaran harus ditopang kecerdasan data untuk membangun loyalitas dan pertumbuhan jangka panjang," tambahnya.
Di sisi lain, Shanti Tolani, Country Head dan Direktur Dewan MMA Indonesia, menyoroti pentingnya pertumbuhan kolaboratif berbasis data dan inovasi.
Ia menyebut, pasar perangkat lunak Big Data Analytics Indonesia diproyeksikan tumbuh ke USD 73,77 miliar pada 2030, sementara pasar social commerce diperkirakan menembus USD 8,62 miliar.
“Kepemimpinan pemasaran harus menancapkan nilai jangka panjang melalui data, inovasi, dan AI sebagai mesin pertumbuhan yang terintegrasi,” kata Shanti.
Forum ditutup dengan kesepakatan bahwa masa depan pemasaran Indonesia ditentukan oleh kemampuan pemimpin untuk bertindak tegas dan bertanggung jawab.
MMA IMPACT Indonesia 2025 menegaskan perannya sebagai platform penting bagi pemasar untuk mempercepat transformasi digital yang berkelanjutan.
Mengusung semangat Act, Accelerate, and Advance, acara ini mendorong para pemimpin untuk memaksimalkan potensi teknologi dan AI dalam memperkuat ekosistem pemasaran Indonesia menuju 2026 dan tahun-tahun berikutnya.