INDUSTRY.co.id - Jakarta – Industri keramik nasional tengah menghadapi tantangan baru berupa krisis pasokan bahan baku utama, seperti clay dan feldspar, menyusul pencabutan sejumlah izin tambang di wilayah Jawa Barat oleh pemerintah daerah setempat.

Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) menjelaskan bahwa kebijakan tersebut berdampak langsung pada rantai pasok (supply chain) industri keramik nasional. 

Selama ini, menurutnya, sebagian besar pasokan bahan baku keramik berasal dari tambang-tambang di Jawa Barat yang kini izin operasionalnya tengah ditata ulang.

“Pembatasan suplai bahan baku ini berdampak cukup besar terhadap rantai pasok industri keramik. Sekitar 55 persen kapasitas produksi nasional berada di Jawa Barat, sementara 45 persen lainnya di Jawa Timur,” kata Edy di Yogyakarta (10/11).

Menurutnya, penataan ulang izin tambang yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat perlu dipastikan tidak berlangsung terlalu lama. Pasalnya, jika proses administrasi dan perizinan berlarut, hal ini dapat mengganggu keberlanjutan produksi keramik nasional.

“Kami menghargai langkah pemerintah daerah yang tentu ingin menata ulang dampak lingkungan dan sosial. Namun kami berharap prosesnya tidak berlangsung lama karena dapat mempengaruhi kelancaran produksi,” tambahnya.

Kendati pasokan bahan baku mengalami gangguan, ASAKI memastikan aktivitas produksi di pabrikan-pabrikan keramik nasional masih berjalan relatif stabil hingga saat ini. 

Asosiasi terus memantau kondisi di lapangan serta menyiapkan langkah antisipatif bila situasi bahan baku semakin ketat.

“Kami akan terus memantau dalam satu hingga dua bulan ke depan. Bila situasi bahan baku mulai menghambat produksi, kami akan meminta dukungan dari pemerintah pusat dan berkoordinasi langsung dengan Gubernur Jawa Barat,” ujarnya.

ASAKI juga menegaskan bahwa dukungan dari pemerintah sangat dibutuhkan agar industri keramik nasional dapat terus tumbuh secara berkelanjutan di tengah tekanan global, meningkatnya impor, dan tantangan rantai pasok yang kompleks.

Industri keramik merupakan salah satu sektor manufaktur strategis yang menyerap ribuan tenaga kerja dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Gangguan pada pasokan bahan baku dikhawatirkan dapat menurunkan tingkat utilisasi produksi nasional yang saat ini tengah menunjukkan tren pemulihan di kisaran 72,5 persen.

ASAKI berharap, pemerintah daerah dan pusat dapat segera menemukan solusi yang seimbang antara penataan lingkungan dan keberlangsungan industri.

“Kami yakin dengan koordinasi yang baik antara pemerintah pusat dan daerah, industri keramik Indonesia bisa tetap tangguh dan kompetitif,” tutupnya.