INDUSTRY.co.id - Jakarta – Kabar baik bagi dunia pertanian Indonesia! Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) nasional September 2025 mencapai 124,36, naik 0,63 persen dibanding Agustus 2025 (123,57). Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa kesejahteraan petani terus membaik.
Deputi Bidang Statistik Produksi BPS, M. Habibullah, menegaskan, kenaikan NTP dipicu oleh meningkatnya indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 0,71 persen, lebih tinggi dibanding indeks harga yang dibayar petani (Ib) sebesar 0,08 persen.
“Komoditas dominan yang mendorong kenaikan ini antara lain kopi, kelapa sawit, cabai merah, dan karet,” jelas Habibullah, Rabu (1/10/2025).
Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat mencatat kenaikan NTP tertinggi, yaitu 1,57 persen, berkat lonjakan harga kopi, kelapa sawit, karet, dan cengkeh.
Sementara subsektor Peternakan juga melesat dengan kenaikan NTP 1,51 persen, ditopang harga ayam ras, daging, telur ayam ras, ayam kampung, hingga sapi potong.
Tak hanya itu, BPS juga melaporkan lonjakan produksi beras nasional. Berdasarkan hasil KSA, produksi beras Januari–November 2025 diproyeksikan mencapai 33,19 juta ton, naik 12,62 persen dari periode yang sama tahun lalu (29,47 juta ton).
Rekor ini bahkan melampaui capaian sepanjang 2024 yang hanya 30,34 juta ton.
“Dengan produksi yang menembus 33 juta ton, ketersediaan pangan pokok kita aman. Beras kini bukan pendorong inflasi, melainkan penopang stabilitas harga dan daya beli masyarakat,” tegas Habibullah.
Dari 38 provinsi yang diamati, 25 provinsi mencatat kenaikan NTP, dengan Papua Barat Daya menjadi yang tertinggi, naik 5,62 persen.
Selain itu, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) juga ikut naik menjadi 128,28, atau tumbuh 0,56 persen dibanding bulan sebelumnya.