INDUSTRY.co.id - Banjar, Jawa Barat – Lebih dari dua tahun terakhir, Samsul Huda menekuni budi daya melon hidroponik melalui program pemberdayaan zakat dari Dompet Dhuafa. Kini, ia menjadi salah satu dari 12 anggota kelompok tani Melon Langensari di Banjar, Jawa Barat.

Sebelum mengenal dunia hidroponik, kehidupan Samsul jauh dari kata sejahtera. Ia bekerja sebagai penjaga rumah makan dan melakukan pekerjaan serabutan lain demi menghidupi keluarganya. Pendapatannya pun tidak menentu.

“Waktu itu, pernah jaga rumah makan sama kerja-kerja serabutan. Penghasilan tidak menentu. Sampai akhirnya Pak Elan mengajak saya ikut tanam melon," ujarnya.

Saat ditemui pada Senin (29/9/2025), Samsul mengungkapkan keraguannya ketika pertama kali diajak bertani melon. Meski latar belakangnya adalah petani, budi daya melon hidroponik dengan sistem greenhouse adalah hal yang benar-benar baru baginya.

“Melon? Apalagi pakai greenhouse dan hidroponik, itu hal baru buat kami. Mulai dari bibit, media tanam, sampai panen, saya tidak tahu. Semua diajarkan Pak Elan dari nol,” tuturnya.

Hari-hari awal menjadi petani melon penuh tantangan. Ia harus belajar dari dasar: mengenali bibit unggul, menyemai, menyiapkan media tanam, hingga merawat dan mengikat tanaman agar tidak roboh. Namun perlahan, keterampilan tersebut tumbuh bersama kepercayaan dirinya.

Kini, hasil dari budi daya melon telah mengubah hidup Samsul. Ia bisa menyekolahkan dua anaknya: anak pertama sudah duduk di bangku SMP, sedangkan yang bungsu masih berusia dua tahun.

“Saya menikmati kerjaan ini karena memang senang. Alhamdulillah, hasilnya juga selalu untung. Bisa untuk biaya sekolah anak-anak,” katanya dengan penuh syukur.

Bersama kelompoknya, Samsul membudidayakan lima varietas melon: Inthanon, Sweet Honey, Sweet Net, Lavender, dan Demulsen. Semua varietas dipilih berdasarkan permintaan pasar agar hasil panen terserap maksimal.

“Karena minat pasar tinggi dan harga jualnya bagus,” jelasnya.

Satu unit greenhouse yang mereka kelola mampu menampung sekitar 700 polibag, masing-masing diisi dua tanaman, sehingga total ada sekitar 1.400 tanaman melon. Meski terdapat risiko kegagalan tanam sebesar 10–20 persen, Samsul menyebutnya sebagai hal yang wajar dalam dunia pertanian.

Suasana greenhouse setiap pekan selalu ramai. Anggota kelompok rutin berkumpul untuk berdiskusi, saling berbagi pengalaman, dan mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi.

“Kalau ada masalah, kami diskusi bareng. Jadi semua saling bantu, tidak ada yang merasa sendiri,” ujar Samsul.

Elan Maulana, ketua kelompok tani, aktif memperkenalkan teknologi baru dan metode pertanian modern. Mulai dari irigasi tetes yang hemat air hingga pengelolaan kelembapan udara dalam greenhouse, semua diterapkan demi hasil panen yang lebih optimal.

“Saya ingin hasilnya semakin bagus, penjualannya lancar, dan bisa terus memberi manfaat. Bukan cuma untuk keluarga saya, tapi juga untuk orang-orang sekitar,” ucap Elan.

Kini, Samsul Huda bukan lagi penjaga rumah makan, melainkan petani melon hidroponik yang mandiri dan berdedikasi. Kisahnya menjadi bukti nyata bahwa zakat yang dikelola secara produktif dapat menumbuhkan bukan hanya tanaman, tetapi juga harapan, masa depan, dan kesejahteraan.