INDUSTRY.co.id - Batu – Langkah unik dan strategis dilakukan Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror. Melalui program pelatihan khusus, keduanya sukses membekali para eks narapidana terorisme (napiter) dan eks anggota Jamaah Islamiyah (JI) dengan keterampilan praktis di bidang peternakan dan pengolahan hasil ternak.

Advertisement

Pelatihan yang digelar di Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu pada 24–26 September 2025 ini ditutup resmi Jumat (26/9). Sebanyak 19 peserta mengikuti dua program strategis: Juru Sembelih Halal (Juleha) dan Pengolahan Produk Susu Bernilai Tambah.

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Kepala Densus 88 Antiteror Irjen Pol Sentot Prasetyo, Kepala BPPSDMP Kementan Idha Widi Arsanti, Kepala Pusat Pelatihan Pertanian Tedy Dirhamsyah, serta Kepala BBPP Batu Roby Darmawan. Turut hadir pula jajaran pejabat tinggi Densus 88 dan Forkopimda Kota Batu.

Advertisement

Bekal Kemandirian Ekonomi untuk Mantan Napiter

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, peningkatan kualitas SDM menjadi kunci pembangunan pertanian berkelanjutan.

Advertisement

“Kemajuan pertanian kita sangat bergantung pada kemampuan SDM. Karena itu, kami berkomitmen meningkatkan kualitas SDM melalui pelatihan dan pendidikan,” ujar Amran.

Senada, Kepala BPPSDMP Idha Widi Arsanti menyebut, SDM unggul menjadi faktor utama peningkatan produktivitas pertanian nasional.

Advertisement

Sementara itu, Kepala Densus 88 Antiteror, Irjen Pol Sentot Prasetyo, menegaskan bahwa persoalan ekonomi kerap menjadi hambatan terbesar bagi eks napiter setelah bebas.

“Kami fasilitasi mereka dengan keterampilan yang bisa langsung dipraktikkan untuk menunjang perekonomian keluarga. Harapannya, mereka semakin mandiri dan tidak lagi terjerat masa lalu,” ungkap Sentot.

Dari Juleha hingga Keju Rumahan

Peserta pelatihan Juleha sebanyak 9 orang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatera Selatan. Mereka dibekali teknik penyembelihan halal yang aman, sehat, dan sesuai syariat Islam.

Sementara itu, 10 peserta lainnya mengikuti pelatihan pengolahan susu, mulai dari pembuatan yoghurt, stik susu, permen susu, susu rempah, hingga keju sederhana yang bernilai jual tinggi.

Kepala BBPP Batu Roby Darmawan menjelaskan bahwa pelatihan sengaja dirancang praktis agar keterampilan bisa langsung diterapkan di rumah.

“Untuk Juleha, kami tekankan teknik penyembelihan yang sesuai kaidah halal. Sedangkan olahan susu dipilih yang sederhana tapi bernilai ekonomi tinggi,” jelasnya.

Manfaat pelatihan ini langsung dirasakan oleh peserta. Sunaryo, salah seorang peserta, menyebut ilmu yang diperoleh sangat berharga.

“Harapan kami, bimbingan dan pendampingan dari Kementan maupun pihak terkait tetap berlanjut. Supaya ilmu ini benar-benar bisa bermanfaat, baik bagi keluarga maupun bangsa,” tutur Sunaryo.

Selain memberi keterampilan teknis, kegiatan ini juga membangun paradigma deradikalisasi dengan pendekatan lunak: dari merusak menjadi merawat, dari menghancurkan menjadi memelihara, melalui jalur pertanian dan peternakan.

Kepala Pusat Pelatihan Pertanian Tedy Dirhamsyah berharap pelatihan ini membuka akses lapangan kerja baru sekaligus peluang usaha.

“Kegiatan ini dapat mempererat kohesi sosial, membangun jejaring, dan menumbuhkan kemandirian di masa depan,” ujarnya.

Dengan keterampilan baru di bidang juru sembelih halal dan pengolahan susu, para eks napiter kini diharapkan mampu berkontribusi bagi perekonomian keluarga sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.