INDUSTRY.co.id - Jakarta, Di sudut selatan Jakarta, tepatnya di kawasan Lebak Bulus, berdiri asri sebuah kawasan hijau yang tidak hanya menjadi paru-paru kota, tetapi juga simbol perjuangan masyarakat sipil dalam melestarikan lingkungan, Hutan Kota Sangga Buana. Kawasan ini dulunya hanyalah bantaran Kali Pesanggrahan yang kumuh dan tercemar. Kini, ia menjadi saksi atas perjuangan seorang lelaki bernama Chaerudin, atau yang lebih dikenal dengan Babeh Idin, bersama Kelompok Tani Lingkungan Hidup (KTLH) Sangga Buana.

Kisah luar biasa ini berawal dari rasa kesal.Babeh Idin tidak menyimpan dendam, tetapi kesal yang memotivasi.

“Awal mulanya adalah kesal. Kali Pesanggrahan merupakan kawasan kumuh, bukan karena niat jahat. Kesel karena banjir, disalahin Ciliwung, Pesanggrahan, Cisadane. Asal sampah? Ya, yang buang sampah ke kali siapa? Kan lo pada. Judulnya kesel.” ujar Babeh Idin dengan gaya ceplas-ceplosnya yang khas.

Rasa kesalnya bukan sekadar keluhan. Ia berjalan kaki menyusuri aliran sungai hingga ke Gunung Pangrango dan Mandalawangi, untuk menelusuri hulu sungai dan memahami mengapa masyarakat membuang sampah ke kali.

"Itu gue jalan kaki. 5 hari 6 malam. Dari Gunung Pangrango sampai ke Kampung Muara. Judulnya kesel."

Dari perjalanan itu, lahirlah semangat besar menyelamatkan lingkungan bukan dengan teori, tetapi dengan aksi nyata.

Tahun 1998, KTLH Sangga Buana resmi berdiri. Babeh Idin bersama warga mulai menanami pohon di sepanjang bantaran Kali Pesanggrahan. Mulai dari nangka, jamblang, hingga tanaman lokal lainnya.

“Dari gunung gue tanemin pohon. Kalau ada yang merusak itu pohon, gue pendem kepalanya orang itu, katanya,” ujar Babeh sambil tertawa.

Awalnya dianggap remeh, bahkan sempat diinterogasi aparat karena dituduh merebut tanah negara. Namun ia tetap teguh.

“Siapapun tanahnya, selama di bantaran kali, mau pejabat kek, mau bersertifikat kek, gue tanemin. Judulnya kesel.”

Tidak berhenti di penghijauan, Sangga Buana juga menciptakan ekonomi sirkular berbasis lingkungan. Dari sampah menjadi nilai ekonomi, diantaranya: kopi, pisang, sayuran, hingga kolam ikan.

“Sampah jadi kopi, sampah jadi lapangan bola, sampah jadi ikan. Satu hari 10 ton sampah diolah di sini. Karena kopi bisa berbuah dalam 8 bulan gara-gara sampah.”

Inilah yang Babeh Idin sebut sebagai "konservasi entrepreneur", sebuah model yang tidak bergantung pada bantuan pemerintah, tetapi justru menghasilkan bahkan berkontribusi besar terhadap program pemerintah.

“Gue gak dimodalin negara, tapi bisa bangun ekonomi. Kalau yang lain, selalu bantuan. Jadi miskin terus. Gue gak mau begitu.”

Anak-anak muda di komunitas ini bahkan bisa menghasilkan 2 hingga 5 juta rupiah per bulan, tanpa harus jadi PNS atau kerja kantoran.

Meski membawa perubahan nyata, Babeh Idin merasa perjuangannya kurang dihargai oleh pemerintah.

“Pemerintah DKI soal lingkungan masih sebelah mata. Masalah kali, masalah sampah, jangan diselesaikan di rapat DPRD. Turun ke lapangan dong. Lapangannya ya gue.”

Namun, ia tetap bermitra secara legal. Tanah Hutan Kota Sangga Buana saat ini berada di bawah pengelolaan Setneg (Sekretariat Negara).

“Gue serahin ke negara. Bukan kontrakan, bukan tanah kavling. Tapi jadi ruang hidup.”

Kini, gerakan ini tak hanya di Jakarta. Ada cabang di berbagai daerah:

Langlang Buana untuk Jawa Tengah, Jogja, Surabaya. Wirabuana untuk Indonesia Timur, termasuk Papua Barat dan Ternate.

“Gue bukan LSM. Ini kerja nyata. Dari laut, dari gunung, dari sungai. Itu kemandirian.”

Ironisnya, justru dukungan datang lebih besar dari swasta dan komunitas internasional. Mulai dari Inggris, Swiss, hingga Cina, banyak pihak luar yang datang belajar dari Sangga Buana.

“Pihak swasta lebih natural. Mereka nanya, gimana caranya? Itu kan bersahabat. Bukan kasih duit kayak infak.”

Di balik semua itu, Babeh Idin punya satu filosofi kuat, "Mental Sang Jawara" pantang mengemis, pantang menyerah.

“Alam ini bukan warisan. Ini titipan anak cucu. Gue gak lapuk karena hujan, gak kering karena panas. Itu pendirian.”

Kisah Babeh Idin adalah gambaran konkret bagaimana satu individu bisa menggerakkan perubahan besar, bahkan tanpa gelar, tanpa dana besar, dan tanpa jabatan. Dengan semangat "kesel", ia mampu menciptakan ruang hijau, ekonomi rakyat, hingga jaringan nasional.

“Gue norak, tapi keren, kan?” tutupnya sambil terkekeh.

Hutan Kota Sangga Buana bukan hanya kawasan hijau. Ia adalah simbol perlawanan, keberanian, dan cinta terhadap lingkungan. Di tengah gempuran urbanisasi dan birokrasi yang sering tak peduli, suara lantang Babeh Idin mengingatkan kita, “Dari budaya kita selamatin alam.”