INDUSTRY.co.id - Jakarta — Di tengah derasnya arus konten yang berseliweran di berbagai platform digital, profesi content creator kian mendapat tempat sebagai pekerjaan masa kini yang menjanjikan. Namun, seiring meningkatnya ekspektasi pasar dan brand, muncul pula tuntutan terhadap kualitas, konsistensi, dan kredibilitas konten yang dibuat.
Untuk menjawab kebutuhan itu, GETI Incubator menghadirkan skema Sertifikasi Content Creator berlisensi BNSP, yang membekali peserta dengan standar kompetensi industri. “Content Creator bukan cuma soal viral, tapi soal membangun kredibilitas dan audiens,” ujar Rachmat Wirasena Suryo, General Manager Academic GETI Incubator.
Dalam wawancara khusus, ia menegaskan bahwa dunia konten saat ini menuntut lebih dari sekadar kreativitas. Diperlukan pemahaman mendalam tentang segmentasi audiens, narasi brand, serta etika digital yang berkelanjutan.
Kurikulum pelatihan disusun berdasarkan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dan kebutuhan nyata dari ekosistem kreatif digital. Peserta tidak hanya belajar teknis produksi seperti menulis naskah, merekam video, dan mengedit, tetapi juga strategi distribusi, pengukuran performa, dan membangun portofolio kreatif yang kredibel.
Data dari Google Indonesia tahun 2025 mencatat bahwa lebih dari 90% pengguna internet di Indonesia menonton video online setiap minggu, dan rata-rata waktu yang dihabiskan per hari untuk menonton konten digital mencapai 115 menit. Di sisi lain, laporan Influencer Marketing Hub 2025 menunjukkan bahwa brand lebih memilih micro dan nano creator dengan komunitas yang kuat dan kredibel, ketimbang sekadar jumlah follower yang besar.
Melalui pendekatan TauBisaJago, GETI memastikan peserta tidak hanya tahu cara membuat konten, tetapi mampu mengembangkan gaya komunikasi yang orisinal dan profesional. Dalam tahap awal, peserta memahami dasar storytelling, penggunaan tools produksi, hingga format konten yang sesuai dengan platform (tau).
Tahap berikutnya adalah praktik rutin produksi konten dengan target brief yang menyerupai permintaan klien sesungguhnya (bisa). Setelah dinyatakan kompeten melalui uji BNSP, peserta masuk ke fase inkubasi (jago), di mana mereka diminta membuat konten profesional untuk brand riil, UMKM, atau proyek publik dengan supervisi mentor industri.
GETI juga telah menggandeng institusi pendidikan tinggi untuk memperluas dampak program ini. Kampus seperti Universitas Raharja, UGM, Vokasi UI, Swiss German University, dan President University telah menjalankan kerja sama pelatihan dan uji sertifikasi ini untuk mahasiswa dan dosen. Di beberapa kampus mitra, sertifikasi content creator juga dijadikan nilai tambah dalam Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI).
Peserta tidak terbatas pada mahasiswa jurusan komunikasi. Banyak juga yang berasal dari jurusan teknik, ekonomi, hingga pendidikan. Bahkan pelaku UMKM yang ingin membangun brand lewat konten digital juga menjadi bagian dari angkatan peserta GETI.
Hingga pertengahan 2025, lebih dari 1.200 peserta telah tersertifikasi di bidang content creation melalui GETI. Banyak di antaranya kini bekerja sebagai creative freelancer, social media officer, hingga produser konten untuk brand nasional dan internasional.
Rachmat menambahkan bahwa program ini juga membentuk kebiasaan profesional dalam bekerja: mengikuti brief, melakukan revisi, dan menyampaikan pesan klien tanpa kehilangan gaya personal. “Membuat konten yang lucu atau viral itu bagus, tapi membangun konten yang dipercaya dan berumur panjang jauh lebih penting,” tegasnya.
Dengan pendekatan berbasis kompetensi dan inkubasi langsung ke dunia nyata, GETI mendorong lahirnya content creator yang tidak hanya kreatif, tetapi juga profesional dan berintegritas di mata industri digital. Silahkan menghubungi Whatsapp GETI https://s.id/industrycoidxgeti untuk info lanjutannya.