INDUSTRY.co.id - Jakarta - Transformasi digital telah membuka jalan baru bagi generasi muda Indonesia untuk menembus pasar ekspor global. Menurut praktisi logistik dan digitalisasi rantai pasok, Siswadhi Pranoto Loe, platform digital bukan sekadar alat transaksi, melainkan jembatan strategis untuk membawa produk anak muda ke kancah internasional.
“Digitalisasi membuka peluang besar bagi anak muda untuk menembus pasar global tanpa harus memiliki modal besar. Yang mereka butuhkan adalah keberanian, pemahaman pasar, dan akses terhadap pelatihan serta jejaring global,” ujar Siswadhi Pranoto Loe dalam sesi diskusi terbuka di Jakarta.
Saat ini, lebih dari 4,2 miliar orang terhubung ke internet secara global. Berdasarkan laporan Statista 2025, nilai perdagangan e-commerce lintas negara (cross-border) diproyeksikan mencapai USD 5,5 triliun, dengan Asia Tenggara menjadi kawasan dengan pertumbuhan tercepat. Indonesia memiliki keunggulan strategis sebagai negara dengan jumlah pengguna internet terbesar ke-4 di dunia, namun kontribusi ekspor digitalnya masih minim.
Siswadhi menyoroti bahwa banyak anak muda Indonesia yang sudah aktif berjualan online, namun belum mengarahkannya ke pasar ekspor. “Platform seperti Alibaba, Shopee International, dan Amazon Global Selling sebenarnya sangat terbuka bagi pemula. Tapi kita perlu intervensi pelatihan dan inkubasi agar mereka tidak salah langkah di pasar internasional,” jelasnya.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa potensi produk kreatif Indonesia — seperti fesyen muslim, kerajinan tangan, kopi, herbal, dan makanan olahan — sangat diminati di pasar ekspor. Sayangnya, mayoritas pelaku usaha muda belum menguasai aspek-aspek penting seperti dokumentasi ekspor, perizinan, negosiasi dengan buyer luar negeri, dan pemanfaatan sistem logistik internasional.
Siswadhi Pranoto Loe mengusulkan agar pemerintah daerah mulai mengembangkan digital export hub di tingkat kota dan kabupaten. Hub ini berfungsi sebagai pusat pelatihan, sertifikasi, dan inkubasi ekspor digital berbasis teknologi. Ia juga menekankan pentingnya kemitraan dengan universitas dan SMK untuk menanamkan semangat ekspor sejak masa pendidikan.
“Kalau kita ingin mencetak 1 juta eksportir baru seperti target nasional, maka digitalisasi harus jadi porosnya. Anak muda adalah ujung tombaknya,” tegas Siswadhi.
Ia juga mendorong perusahaan logistik dan marketplace untuk menyediakan fitur edukatif dan onboarding ekspor yang ramah pemula. “Bukan hanya tools, tapi juga pendampingan dan ekosistem. Inilah kunci mendorong generasi muda Indonesia menjadi pemain ekspor digital dunia,” pungkasnya.