Kepemimpinan Primitif di Abad 21

Oleh : Reza A.A Wattimena | Rabu, 16 Agustus 2017 - 09:47 WIB

Reza A.A Wattimena, Dosen Hubungan Internasional, President University, Peneliti di PresidentCenter for International Studies (PRECIS)
Reza A.A Wattimena, Dosen Hubungan Internasional, President University, Peneliti di PresidentCenter for International Studies (PRECIS)

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Kita hidup di abad 21. Segala kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan dapat kita nikmati bersama. Ilmu-ilmu sosial tentang tata kelola negara dan organisasi pun sudah berkembang begitu pesat. Organisasi yang menerapkannya berkembang menjadi perusahaan multinasional yang memiliki aset milyaran dollar AS.
    
Abad 21 juga dipandang sebagai masa keterbukaan dan kesalingterkaitan antar bangsa. Segala bentuk diskriminasi yang diwariskan oleh tradisi, baik itu diskriminasi ras maupun gender, kini dipertanyakan ulang. Demokrasi menjadi sistem pemerintahan yang digemari di seluruh dunia. Bahkan, wacana terkait terciptanya pemerintahan demokratis global juga terus berkembang.
    
Demokrasi menjadi pandangan dunia global (globale Weltanschauung), karena ia menyediakan pola kepemimpinan yang bertanggungjawab terhadap rakyat yang dipimpinnya. Inti dari demokrasi adalah pertanggungjawaban (accountability). Semua keputusan di dalam kepemimpinan politik dan organisasi harus dipertanggungjawabkan secara rasional kepada semua pihak terkait. Sayangnya, tidak semua pemerintahan maupun organisasi menggunakan pola kepemimpinan semacam ini.
    
Beberapa organisasi masih menggunakan pola kepemimpinan primitif di dalam tata kelolanya. Dalam arti ini, menurut saya, kepemimpinan primitif adalah kepemimpinan yang menggunakan pola-pola lama yang tidak lagi pas dengan perkembangan pemikiran dan kehidupan di abad 21 ini. Pola kepemimpinan ini, sayangnya, tersebar di tingkat pemerintahan, bisnis dan bahkan institusi pendidikan, seperti sekolah dan perguruan tinggi. Pola kepemimpinan primitif inilah yang menjadi sumber utama kegagalan kemajuan Indonesia.
    
Ada lima pola kepemimpinan primitif. Pertama, pola kepemimpinan primitif bersifat otoriter. Ia tidak mau dikritik, dan bahkan sangat takut pada pertanyaan. Orang-orang yang melakukan kritik maupun yang mengajukan pertanyaan akan segera dihempas keluar dari organisasi, bahkan dibunuh. Inilah pola kepemimpinan yang diterapkan oleh Hitler dan para diktator dunia lainnya di masa lalu.
    
Dua, kepemimpinan primitif adalah kepemimpinan pengecut. Sikap pengecut ini lahir dari ketakutan terhadap segala bentuk perlawanan. Sikap otoriter adalah sisi lain dari sikap pengecut. Padahal, tidak semua perlawanan adalah musuh yang harus ditumpas. Perlawanan yang sehat adalah penyeimbang yang diperlukan untuk perkembangan organisasi.
    
Tiga, kepemimpinan primitif adalah kepemimpinan yang tuli. Ia tidak mau mendengar saran-saran yang berguna untuk perkembangan organisasi. Ia mengira, bahwa dirinya adalah yang paling cerdas, sehingga hanya ia yang mampu membuat keputusan terkait dengan perkembangan organisasi. Akhirnya, akibat sikap tulinya tersebut, ia akan terjungkal dari posisi kepemimpinan itu sendiri.

Empat, kepemimpinan primitif adalah kepemimpinan yang reaktif. Ia tidak punya strategi jangka panjang. Ia hanya bersikap reaktif terhadap segala kejadian yang ada. Kebijakannya pun bersikap tambal sulam, tanpa ada visi maupun nilai yang jelas.

Lima, kepemimpinan primitif suka sekali menciptakan massa eksklusif. Massa ini adalah kelompok orang yang setia kepadanya, tanpa sikap kritis apapun. Inilah pola kroniisme yang juga menjalar di dalam berbagai tata kelola organisasi di Indonesia. Dengan massa yang tak kritis ini, sang pemimpin primitif berusaha memecah belah organisasi dengan isu, gosip, ancaman dan penyebaran ketakutan.
 
Pola kepemimpinan primitif akan menghancurkan sebuah organisasi. Awalnya, moral organisasi itu tersebut akan menurun, karena orang bekerja tidak dengan ketulusan, melainkan dengan ketakutan. Lalu, organisasi tersebut akan kehilangan orang-orang yang justru bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Pada akhirnya, organisasi tersebut akan “hidup segan namun mati tak mau”, lalu lenyap dari ingatan.

Kepemimpinan primitif lahir dari kemalasan untuk belajar dan berpikir lebih dalam tentang kehidupan. Akhirnya, orang memiliki pola pikir dan mentalitas yang tidak lagi mampu berkembang bersama dengan perubahan jaman. Ketika orang-orang ini naik ke posisi pimpinan, biasanya karena kemampuan menjilat para penguasa sebelumnya, maka awal dari kehancuran organisasi sudah dekat. Kita perlu peka terhadap kehadiran para pemimpin primitif ini, dan mendesak mereka berubah diri, atau melepaskan jabatannya.

 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Rayakan HUT Perusahaan dan Hari Kartini, Millennials Askrindo Bersama YALISA Gelar OBSC

Minggu, 21 April 2019 - 20:39 WIB

Rayakan HUT Perusahaan dan Hari Kartini, Millennials Askrindo Bersihkan Ciliwung

Jakarta – Millenials Askrindo laksanakan Operasi Bersih Sungai Ciliwung (OBSC) bersama Komunitas Pencinta Ciliwung YALISA dari bentangan Kalibata sampai dengan MT Haryono dalam rangka merayakan…

Ilustrasi Gunung Agung Bali (Foto Ist)

Minggu, 21 April 2019 - 12:00 WIB

Gunung Agung Bali Kembali Erupsi

Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali, kembali mengalami erupsi pada Minggu (21/4/2019) pukul 03.21 Wita dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 2.000 meter di atas puncak atau 5.142 meter…

Mentan Amran Sulaiman di peternakan ayam

Minggu, 21 April 2019 - 09:20 WIB

Sepuluh Alasan Jangan Remehkan Pertanian

Jakarta - Sektor pertanian di era digitalisasi semakin menarik dan digeluti banyak generasi muda. Era ini makin membuktikan bahwa pertanian tak lagi bisa diremehkan. Apalagi, digitalisasi dan…

Dirjen Hortikultura Suwandi. Sesama petani sayuran organik

Minggu, 21 April 2019 - 08:39 WIB

Kementan Genjot Pengembangan Sentra Sayuran Organik di Karanganyar

Kementerian Pertanian (Kementan) terus menggenjot berbagai daerah agar menjadi sentra produksi sayuran organik, salah satunya sentra sayuran organik di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Hal…

TOTAL Synthetic Leather kembali menggelar kembali ajang kreativitas di bidang pemasangan jok mobil sekaligus mengumumkan kehadirannya di ajang pameran Indonesia International Motor Show (IIMS) 2019

Sabtu, 20 April 2019 - 21:31 WIB

TOTAL Kembali Gelar Lomba Pasang Jok Paten di IIMS 2019

TOTAL Synthetic Leather kembali menggelar kembali ajang kreativitas di bidang pemasangan jok mobil sekaligus mengumumkan kehadirannya di ajang pameran Indonesia International Motor Show (IIMS)…