INDUSTRY.co.id - Jakarta-Bank Indonesia (BI) akan memasukan data transaksi online sebagai salah satu indikator pertumbuhan eknomi. Untuk memulai kearah sana, BI sedang membuat Big Data terkait hal tersebut. Sumber referensi Big Data berasal dari pelaku usaha digital seperti fintech, e commerce dan lainnya.

Advertisement

Yati Kurniati, Executive Director Departemen Statistics Departemen BI, menjelaskan pembentukan Big Data, bukan bertujaun menggeser peran Badan Pusat Statistik (BPS). Ia bilang Big Data bisa sebagai referensi lembaga survey untuk memberikan gambaran konsumsi di masyarakat.

“Big Data data dapat memperkuat proses pengambilan keputusan di sector moneter, SSK dan SP Pur melalui peningkatan kualitas data dan analisis, serta menjadi complement dari pemanfaatan data terstruktur yang telah dilakukan selama ini,”kata dia di Jakarta, Senin (7/8/2017).

Advertisement

Sebenarnya soal Big Data, lanjut dia, inisiatif ini sudah dimulai sejak tahun 2014, melalui pengembangan sejumlah proyek Big Data yang beberapa hasilnya telah digunakan dalam proses perumusan kebijakan BI. Kedepan, hasi lBig Data yang sudah teruji di Bank Indonesia diharapkan dapat dimanfaatkan secara luas oleh public, sebagai pelengkap indicator ekonomi dan keuangan.

Adapun pilot project Big Data, kata dia menyasar ketenagakerjaan, pasar property, prioritas risiko sistemik, mapping perilaku dan proyeksi aliran dana asing di pasar surat berharga Negara. Lalu menyasar pelaku system pembayaran, proyeksi indicator supply dan demand pembiayaan perbankan dan lainnya.

Advertisement

Oleh karena itu, untuk memperkokoh gagasan ini, ia bilang BI akan menyelenggarakan seminar nasional Big Data. Rencananya dilaksanakan Rabu (9/8), dengan narsumer Gubernur BI Agus Martowardojo, Menteri Bappenas Bambang Brojonegoro dan lainnya.

Advertisement