INDUSTRY.co.id - Jakarta- Kementerian Pariwisata perlu mempersiapkan ajang akbar kemaritiman Sail Sabang 2017 dengan matang agar hasilnya tidak terbengkalai seperti sejumlah penyelenggaraan acara tersebut sebelumnya.

Advertisement

"Kami akan meminta Kemenpar sebagai 'leading sector' (lembaga utama) untuk mengkoordinasikan berbagai persiapan yang belum tuntas," kata Ketua Komisi X DPR Teuku Riefky Harsya dalam rilis, Kamis (3/8/2017).

Dia mengingatkan bahwa waktu persiapan yang tersisa relatif tidak banyak tersisa karena penyelenggaraan Sail Sabang 2017 bakal digelar pada tanggal 28 November-5 Desember 2017.

Advertisement

Dengan adanya persiapan yang matang, ia mengutarakan harapannya agar Sail Sabang yang bakal dijadwalkan bakal dibuka secara langsung oleh Presiden Joko Wododo juga dapat berjalan sukses dan meriah.

Untuk itu, politikus Partai Demokrat itu juga menginginkan berbagai pihak dapat menciptakan sebuah acara dan atmostfir yang menarik bagi pemilik kapal pesiar dan komunitas penyelam, sehingga juga banyak wisatawan yang tertarik datang.

Advertisement

"Kalau acara ini sampai gagal, bukan hanya menjadi beban Pemerintah Kota Sabang, tapi Pemeirntah Indonesia. Sail Sabang bukan hanya akan dinikmati masyarakat Kota Sabang dan sekitarnya, tapi nanti juga akan menjadi daya tarik bagi wisatawan mancanegara yang akan hadir pada kegiatan tersebut," jelas Riefky.

Sementara itu, Anggota Komisi X DPR Irine Yusiana Roba Putri menginginkan adanya persiapan khusus dengan memberi keterampilan bagi penjaja suvenir lokal.

Advertisement

Padahal, Irine mengingatkan bahwa hal tersebut merupakan potensi karena salah satu harapan dari penyelenggaraan acara ini adalah meningkatkan ekonomi rakyat.

Politikus PDIP itu juga menilai bahwa sejumlah fasilitas untuk wisatawan dinilai masih belum memadai seperti kamar kecil dan toilet.

Ia juga mengingatkan pentingnya lokasi bersandar kapal pesiar agar kejadian tragedi rusaknya terumbu karang seperti yang terjadi di Raja Ampat, Papua Barat, beberapa waktu lalu, tidak terjadi di Sabang.

Selain itu, ujar dia, penyelenggaraan Sail Sabang bukan hanya untuk saat ini saja, tetapi harus dapat mendapatkan manfaat secara berkelanjutan bagi daerah tersebut.

"Gaung besar diawal, tapi tak ada dampak besar yang berarti. Belajar dari Sail Morotai, apa yang bisa dikenang? Selain museum yang kini jadi sarang debu, dan cottage yang dibangun dialihkan jadi mess pegawai," ucap Irine.

Dia berpendapat bahwa membangun industri pariwisata tidak hanya dengan membuat ajang, tetapi ada komponen lain yang seharusnya sudah terbentuk dengan sendirinya seperti infrastruktur yang memadai dan sumber daya manusia yang mumpuni.