INDUSTRY.co.id, Jakarta- Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal ( BKPM) Thomas Lembong mengatakan kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih menghitung realisasi investasi tumbuh dengan indikator pada dampak terhadap lapangan pekerjaan, hingga meningkatkan penghasilan dan kemampuan daya beli masyarakat tak sesuai.
Hal itu menurutnya menjadi sebuah misteri. Namun, sepatutnya menjadi sebuah pertanyaan besar. Apalagi dalam catatannya pengaruh besarnya masih harus dilihat dari sisi pemerintah sebagai regulator.
"Ini harus ada penjelasannya, kok bisa investasi naik terus tapi daya beli malah turun, harusnya investasi naik penghasilan naik, sehingga permintaan naik, tapi ini misteri," kata Thomas di Jakarta, Kamis (4/8/2017).
Dalam analisanya akumulasi realisasi investasi dalam enam bulan (semester I) 2017 adalah Rp 336,7 triliun atau lebih tinggi 12,9 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya yang sebesar Rp 298,1 triliun.
Industri ritel sebagai gambaran daya beli masyarakat jatuh, dengan pertumbuhan hanya 3 persen atau lebih rendah dari kondisi normal yang sebesar 12-14 persen. Sedangkan inflasi per Juli 3,88 persen (year on year/yoy).
"Berarti pertumbuhannya (ritel) di bawah inflasi, jadi netto inflasi malah bisa menciut," tegas Thomas.
Dia pun mengenaskan pemerintah harus selalu menerbitkan kebijakan yang tepat pada setiap sektor ekonomi yang ada. Adapun, penerbitan regulasi menjadi penekanan Presiden Jokowi sejak beberapa waktu terakhir. Bahkan dua kementerian disebut langsung dalam rapat kabinet agar mengevaluasi kembali regulasi yang sudah diterbitkan.
"Kalau regulasi-regulasi kita ngawur, dan keluarnya mendadak-mendadak tanpa masa transisi, masa sosialisasi itu kan akan menghantam keyakinan dunia usaha dan akan menimbulkan ketidakpastian, kecemasan. Itu yang membuat dunia usaha lebih mengorientasikan dunia usaha untuk mengurangi lembur, sungkan untuk keluar uang melatih pekerjanya, kalau nantinya tidak ada order kan percuma," pungkasnya.