INDUSTRY.co.id - Jakarta - Pengenaan sentimen geopolitik dan peningkatan pasokan kembali membentuk arah pergerakan pasar minyak. Pada perdagangan Jumat (7/8), harga minyak bergerak terkonsolidasi dengan kecenderungan melemah setelah pelaku pasar merespons optimisme Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa konflik dengan Iran akan segera berakhir. Di saat yang sama, kenaikan produksi minyak Rusia turut menambah tekanan terhadap harga di tengah kekhawatiran pasokan global yang kembali meningkat.
Trump menyatakan perang dengan Iran diperkirakan tidak akan berlangsung lama karena meyakini Teheran tidak mampu bertahan lebih lama. Ia juga menegaskan kapasitas militer AS tetap kuat dengan dukungan pasokan persenjataan yang melimpah.
"AS memiliki pasokan senjata tertentu yang hampir tak terbatas, dan perusahaan-perusahaan pertahanan AS sedang membangun lebih banyak pabrik produksi, termasuk fasilitas untuk rudal Patriot dan Tomahawk," ujar Trump.
Tekanan terhadap harga minyak semakin besar setelah produksi minyak mentah dan kondensat Rusia pada Juli dilaporkan meningkat sekitar 100.000 barel per hari menjadi di atas 9 juta barel per hari. Kenaikan tersebut didorong kuatnya ekspor minyak serta pulihnya aktivitas pengolahan di kilang. Tidak hanya itu, Rusia juga berencana menaikkan ekspor minyak mentah dari pelabuhan-pelabuhan di wilayah barat sebesar 4% pada Agustus dibandingkan bulan sebelumnya.
Meski demikian, pelemahan harga minyak masih tertahan oleh perkembangan di Selat Hormuz. Iran tengah mengkaji rancangan undang-undang yang melarang kapal Amerika Serikat, Israel, dan kapal lain yang dianggap bermusuhan melintasi jalur pelayaran strategis tersebut.
Seorang anggota parlemen Teheran mengatakan aturan itu juga mencakup pengenaan denda hingga 20% dari nilai muatan kargo bagi kapal yang melanggar pembatasan. Selain itu, seorang pejabat senior Iran mengungkapkan pemerintah sedang mempertimbangkan pungutan sebesar 5% hingga 7% dari nilai muatan kapal yang melintasi Selat Hormuz. Wacana tersebut berpotensi meningkatkan biaya distribusi energi global dan kembali memunculkan premi risiko di pasar minyak.
Dari sisi permintaan, pasar juga mencermati perlambatan ekspor China. Data bea cukai terbaru menunjukkan ekspor Negeri Tirai Bambu pada Juli tumbuh 23,9% secara tahunan, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 27% pada Juni. Namun, capaian tersebut masih melampaui proyeksi Reuters yang memperkirakan kenaikan sebesar 22,2%, sehingga memberikan sinyal bahwa aktivitas perdagangan China masih relatif solid.
Secara teknikal, harga minyak diperkirakan menghadapi level resistance terdekat di kisaran US$80 per barel. Sebaliknya, apabila tekanan negatif dari peningkatan pasokan dan meredanya ketegangan geopolitik semakin dominan, harga berpotensi turun menguji support di level US$75 per barel. Kombinasi perkembangan konflik Timur Tengah, kebijakan ekspor Rusia, serta prospek permintaan dari China diperkirakan akan menjadi penentu utama arah harga minyak dalam jangka pendek.