INDUSTRY.co.id - Jakarta- PT Surveyor Indonesia (Persero) semester I 2017 membukukan laba bersih sebesar Rp73 miliar, tumbuh 48,8 persen dibanding periode yang sama tahun 2016 sebesar Rp49,19 miliar.
"Tingginya pertumbuhan laba semester I 2017 didorong peningkatan pendapatan yang mencapai Rp401 miliar, meningkat 12,6 persen dibanding periode sama 2016 sebesar Rp356,12 miliar," kata Direktur Utama Surveyor Indonesia M. Arif Zainuddin, di Jakarta, Selasa (1/8/2017)
Menurut Arif, secara keseluruhan performa keuangan perusahaan terutama kontribusi dari sektor migas dan sistem pembangkit serta sektor mineral batubara.
Ia menjelaskan, dalam menghadapi persaingan usaha, Surveyor Indonesia melakukan inovasi-inovasi terutama dalam menyajikan pelayanan dan solusi total bagi para pengguna jasa.
"Kami telah menyelesaikan perbaikan proses bisnis internal dengan otomasi sistem melalui pemanfaatan teknologi informasi," ujarnya.
Di usia 16 tahun, Surveyor Indonesia terus melakukan inovasi jasa-jasa baru dengan dukungan teknologi sehingga memberi nilai tambah kepada pelanggan dan memberi kontribusi yang strategis bagi kepentingan nasional dalam jangka panjang, ujarnya.
Surveyor Indonesia menjadi mitra strategis bagi pemerintah, swasta dan mitra kerja perusahaan lainnya untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya dan produk dalam negeri pada bidang infrastruktur, kemaritiman, energi dan ketahanan pangan.
"Mitra tidak hanya sebatas pelanggan ketika bekerja sama, tetapi sebagai rekan bisnis berkelanjutan dalam hubungan jangka panjang," tegas Arif.
BUMN ini bertugas mengawasi proses pendistribusian BBM dengan Moda Kapal dari kilang ke depot dan dari depot ke depot (Cargo monitoring) yang berada di Sabang sampai Merauke.
Selain di nusantara, perseroan mengerjakan proyek VPTEI (Verifikasi Penelusuran Teknis ekspor Impor) di Negara Asal Muat Barang Impor BBM dan Bahan minyak, gas bumi, bahan bakar lain dan turunannya di sekitar negara antara lain Singapura, Qatar, Rusia, Malaysia, Brunei, Afrika, dan sebagainya.
Inspeksi Barang Modal Tidak Baru (SHG) di Negara Asal Muat Barang Impor Modal dalam keadaan tidak baru di setidaknya 42 negara antara lain Singapura, Malaysia, Jepang, AS dan sebagainya