Perum Bulog Perkuat CBP untuk Stabilkan Pasokan dan Harga Pangan

Oleh : Wiyanto | Jumat, 09 Februari 2024 - 22:23 WIB

Panen news focus discussion
Panen news focus discussion

INDUSTRY.co.id-Jakarta-Perum Bulog menetapkan, arah kebijakan pangan Indonesia dengan memperkuat pengelolaan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) untuk menstabilkan pasokan dan harga pangan.

Hal ini terungkap dalam FGD Panen News, yang dihadiri Direktur Eksekutif Institute For Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti, Vice President Communication and Public Affair PT Astra Agro Lestari, Fenny Sofyan, dan General Manager Unit Bisnis Bulog, Sentra Niaga Topan Ruspayandi, Jakarta Selatan, Jumat (9/2).

Topan mengatakan, saat ini pemerintah Indonesia dalam konteks beras punya kebijakan pengelolaan CBP beserta dengan semua program turunannya.

"Di sisi hulu, kita melakukan pengadaan dalam negeri untuk melakukan penyerapan produk pangan khususnya beras dari petani dengan kebijakan penetapan harga pembelian pemerintah oleh Badan pangan nasional (Bapanas)," kata Topan.

Kemudian di sisi hilirnya, lanjut Topan, ada program operasi pasar yang saat ini disebut dengan Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Dua program ini, yang saat dilakukan oleh Bulog dalam rangka menyalurkan cadangan beras pemerintah.

"Kurang lebih saat ini yang dikerjakan oleh bulog dalam konteks kebijakan pangan negara dan kita berharap ke depan program-program ini dapat terus dilakukan," imbuh Topan.

Sementara itu, Esther mengatakan, problem pangan di Indonesia saat ini tidak lepas dari ketergantungan terhadap impor, tidak hanya beras, tetapi juga sayur mayur, buah-buahan hingga garam.

"Problem pangan di Indonesia kalau kita lihat banyak sekali impor. Impor tidak hanya beras saja tetapi juga sayur mayur, buah-buahan hingga garam. Padahal, kita tahu bahwa lautan kita sangat luas, tetapi kenapa garam itu diimpor, apakah kita tidak bisa memproduksi garam? Ini hal yang sangat menyedihkan," kata Esther.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), Esther menyebutkan, impor pangan dari tahun ke tahun ini semakin meningkat dan jumlahnya tidak main-main. Padahal, Indonesia pernah swasembada beras dan menduduki peringkat keenam sebagai eksportir gula di dunia.

"Pada tahun 1984, kita bisa swasembada beras dan kita mendapatkan penghargaan FAO, tetapi (sekarang) kita impor beras. Pada zaman Belanda, kita adalah eksportir gula terbesar di dunia, nomor 6, tapi sekarang termasuk 10 besar pengimpor gula terbesar dunia. Nah, ini kan, apakah zaman kebalik-balik gitu ya. Nah, apa ada yang salah? Iya, ada, kalau menurut saya," ujar Esther.

Esther menilai solusi pemerintah untuk swasembada beras hanya kebijakan populis, yang hanya sementara. Akhirnya, jalan pintas pemerintah untuk memenuhi pangan dalam negeri saat produksi kurang adalah mengimpor.

"Contohnya, kalau beras produksinya kurang maka impor, kalau gulanya kurang impor. Semuanya diimpor. Ini kan kita tidak berpikir panjang bagaimana kita melakukan swasembada pangan, baik itu beras maupun yang lainnya," kata dia.

Kemudian, Esther mengkritik program bantuan sosial (Bansos) pemerintah yang kurang signifikan menurunkan angka kemiskinan. Angka BPS menunjukkan, dari tahun 2011—2024 ,kemiskinan hanya turun 2 persen, berbanding terbalik dengan anggaran bansos yang terus bertambah.

"Terakhir, saya liat di nota keuangan APBN, bansos sekitar Rp 496 triliun. Tahun 2009 misalnya hanya Rp 17 triliun, sekrang thaun 2024 Rp 496 triliun. Jadi, kemiskinan turun 2 persen selama kurang lebih 12 tahun, sementara Bansosnya naik ratusan triliunan. Ini something wrong," kata Esther.

Oleh karena itu, menurut Esther, arah kebijakan pangan ini harus dibalikkan lagi, tidak hanya sekadar temporer. Dan menurut dia, strategi kedaulatan pangan ini ada empat.

Pertama, enabling environment. Menurut Esther regulasi kedaulatan pangan harus dibenahi, utamanya pupuk yang masih sering langka, sarana prasarana pertanian yang minim, dan infrastruktur.

"Jadi, nanti monggo dari Bulog atau pemerintah khususnya Kementerian Pertanian (Kementan) diperbaikai. Artinya apa? Ini petani pengin nanam tidak ada pupuk, kalau ada mahal sekali. Kedua sarana prasarana pertanian itu juga minim, infratruktur minim. Artinya regulasi untuk mendorong sarana prasarana pertanian itu harus didorong," kata Esther.

Kedua, lanjut Esther, production characteristics, yaitu bagaimana mendorong produksi, sehingga petani tidak susah.

"Kalau kita bicara sawit misalnya, sawit ini kan banyak perkebunan rakyat bagaimana mendorong perkebunan rakyat ini juga bisa berkembang setara dengan punya perusahaan. Kalau kita sawitnya makin banyak juga tentu ekspornya juga makin banyak, devisanya juga makin banyak," kata Esther.

Ketiga market, market characteristics. Dikatakan Esther, kadang-kadang petani sudah memproduksi, tetapi tidak marketable, sehingga menyerahkan kepada tengkulak.

"Harganya kalau tengkulak panen di kebunnya atau sawahnya itu pasti jauh lebih murah. Itulah mengapa orang tua petani, anaknya tidak boleh jadi petani. Jadi, ada problem. Tidak sama di Belanda petani gagah dan keren karena mereka punya penghasilan yang sama dengan pegawai pemerintahan," kata Esther.

Kempat, alternative livelihood. Menurut Esther, petani yang sukses harus punya side income (penghasilan tambahan). Sebab, jika petani hanya mengandalkan hasil panen mereka akan terjebak dalam interlock deep dan akan tetap miskin.

"Jadi, dia terjebak dalam interlock deep, nggak punya penghasilan sehari-hari, dia ngutang dari warung. Nah, ketika panen dia memberikan hasil panennya kepada tengkulak itu. Jadi, ya, rugilah. Nah, petani yang bisa suskes adalah petani yang punya penghasilan lain. Misalnya, jadi tukang ngojek. Nah, nanti hasil panennya mereka simpan," ujar Esther.

Di tempat yang sama, Fenny mengatakan, dari 12 komoditas pangan strategis yang dijaga pemerintah hanya sawit tidak pernah penah impor. "Jadi, 12 pangan yang strategis, hanya sawit yang tidak impor. Itu dulu yang harus digarisbawahi," kata dia.

Meski demikian, Fenny mengingatkan bahwa sawit dalam lima tahun terakhir mengalami stagnasi produksi yang hanya di 51 juta ton. Sehingga, ini harus menjadi perhatian pemerintah ke depannya.

"Jadi, kalau misalnya dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, sawit itu berkembang di tahun 1980 dan berkembang pesat lagi pada 1986. Artinya itu sudah 38 tahun yang lalu," ujar Fennya.

Terkait dengan kebijakan, kata Fenny, industri kelapa sawit masih menghadapi ketidakpastian dalam hal investasi. Padahal, sejak 2006 sawit sudah memberikan sumbangsi terhadap devisa negara.

Salah satu alasannya adalah banyaknya kementerian/lembaga yang mengurusi komoditas terbesar Indonesia ini. Nah, bagi investor, ini sangat menggangu. Belum lagi kebijakan yang tumpang tindih.

"Saya berharap ke depannya ada kebijakan satu pintu terkait industri kelapa sawit ini, mau dibawa ke mana, raod mapnya itu seperti apa, road mapnya 10 tahun, 50 tahun lagi mau kemana, sehingga strateginya akan seperti apa, peusahan ini akan  dibawa ke mana, petani ini akan gimana dan sinernginya akan seperti apa, termasuk juga harganya," imbuh Fenny.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Mitsubishi XForce

Rabu, 21 Februari 2024 - 15:35 WIB

Beli Mitsubishi Xforce di IIMS 2024 Banjir Segudang Promo

PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) menghadirkan segudang promo-promo menarik di gelaran Indonesia International Motor Show (IIMS) 2024 yang berlangsung di JIExpo Kemayoran,…

Pegawai Jtrust Bank

Rabu, 21 Februari 2024 - 15:23 WIB

Tahun 2024, J Trust Bank Optimis Penyaluran Kredit dan Dana Pihak Ketiga Lanjut Positif

PT Bank JTrust Indonesia Tbk (J Trust Bank) mencatat pertumbuhan positif untuk kredit dan dana pihak ketiga (DPK) per Januari 2024.

Danamon Sasar Peningkatan Bisnis Konsumer Melalui Partisipasi di IIMS 2024

Rabu, 21 Februari 2024 - 14:36 WIB

Danamon Sasar Peningkatan Bisnis Konsumer Melalui Partisipasi di IIMS 2024

Tahun ini merupakan tahun ketiga PT Bank Danamon Indonesia Tbk (“Danamon”) dan MUFG Bank Ltd. (MUFG) kembali menjadi official bank partner, dan PT Adira Dinamika Multi Finance, Tbk. (“Adira…

ALFI Siap laksanakan Amanah Wapres RI Kaji Skema Integrasi Logistik Nasional

Rabu, 21 Februari 2024 - 14:29 WIB

ALFI Siap laksanakan Amanah Wapres RI Kaji Skema Integrasi Logistik Nasional

Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin meminta Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) periode 2023-2028 untuk mengkaji skema logistik nasional demi memastikan terwujudnya sistem yang terintegrasi…

PT Siloam International Hospitals Tbk. (SILO)

Rabu, 21 Februari 2024 - 14:22 WIB

Ekspansi Digital SILO untuk Layani Pasien

PT Siloam International Hospitals Tbk. (SILO), anak usaha PT Lippo Karawaci Tbk. (LPKR) di sektor layanan kesehatan, berkomitmen melanjutkan investasi pada saluran digital yang mumpuni untuk…